Berbagi Berita Merangkai Cerita

Rumpil Inges Diresmikan, Mataram Barat Contoh Pengelolaan Sampah Terpadu

22

FOTO. Assisten II Setda Provinsi NTB Ir H Ridwan Syah bersama Ketua DPRD Kota Mataram H Didi Sumardi memotong pita sebagai tanda mulai beroperasinya Rumpil Inges di Lingkungan Karang Medain, Kelurahan Mataram Barat. (FOTO rul)

MATARAM, DS – Rumah Pemilahan dan Pengolahan Sampah (Rumpil Inges) di Lingkungan Karang Medain, Kelurahan Mataram Barat, diresmikan, Minggu (21/2) bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun ini.

Peresmian Rumpil Inges dihadiri Assisten II Setda Provinsi NTB Ir H Ridwan Syah, Ketua DPRD Kota Mataram H Didi Sumardi, serta sejumlah pejabat Pemkot Mataram.

Dalam sambutannya, Assisten II Setda Provinsi NTB Ir H Ridwansyah menyampaikan apresiasi untuk kinerja Kelurahan Mataram Barat yang sudah menginisiasi Rumpil Inges.

“Model pengelolaan sampah terpadu yang partisipatif seperti ini sangat bagus dan bisa menjadi contoh baik bagi yang lainnya,” kata Ridwan Syah.

Ridwan mengatakan, Pemprov NTB juga tengah mendorong Program Zero Waste, dan akan berupaya mensupport kebutuhan Rumpil Inges ke depan.

“Apa-apa yang dibutuhkan Rumpil Inges ini,  InsyaAllah Pemprov akan mensupport,” katanya.

Rumpil Inges merupakan akronim dari Rumah Pemilahan dan Pengolahan Sampah. Dibangun di lahan seluas 5,5 are di Lingkungan Karang Medain, Kelurahan Mataram Barat, Rumpil Inges menjadi pusat pengelolaan sampah terpadu.

Disini sampah dikumpulkan dan dipilah organik dan anorganik. Dua jenis sampah kemudian diproses menjadi pupuk bagi sampah organik, dan menjadi barang kerajinan dan bahan daur ulang bagi sampah non organik.

Inisiator Rumpil Inges yang juga Lurah Mataram Barat, Sri Sulistiowati, ST., ME., menjelaskan, Rumpil Inges merupakan program prioritas Kelurahan Mataram Barat yang digagas, sejak ia menjabat Lurah Mataram Barat,  Januari 2020 lalu.

Program ini dimulai dengan program Informasi dalam Genggaman Masyarakat (Inges), sebuah progam berbasis aplikasi digital, yang diluncurkan Kelurahan Mataram Barat pada Februari 2020 lalu.

Aplikasi Inges diluncurkan tepat sebulan sebelum pandemi Covid-19 terasa di NTB, awal 2020. Dihajadkan untuk memudahkan pelayanan masyarakat secara online, Inges hadir pada moment yang tepat. Sebab, pandemi harus mengurangi pertemuan langsung dan menganjurkan masyarakat lebih banyak diam di rumah saat itu.

“Dari aplikasi itu, pihak Kelurahan juga menjadi mudah memetakan masalah. Warga masyarakat di enam lingkungan yang ada bisa melaporkan masalah mereka. Termasuk soal sampah,” katanya.

Dengan sosialisasi dan edukasi yang terus menerus, kinerja jajaran Kelurahan Mataram Barat yang berjibaku menyelesaikan masalah pengelolaan sampah akhirnya mendapat perhatian positif dari masyarakat di enam lingkungan di sana.

November 2020, saat Pemerintah Kelurahan kesulitan mencari lahan untuk program Rumpil Inges, seorang warga bernama Putu, bersedia memberikan lahannya seluas 5,5 are untuk dimanfaatkan Kelurahan sebagai lokasi Rumpil Inges.

“Lahannya milik warga yang peduli, kemudian pembangunan fasilitasnya sebagian dari dana di kelurahan, tapi sebagian besar lainnya dari partisipasi warga, dan beberapa donatur yang peduli,” kata Sulis.

Dengan Rumpil Inges ini, sampah organik dari sisa tanaman, rumput, batang dan ranting pohon, kayu atau semacamnya bisa diolah menjadi pupuk kompos menggunakan metode pelebur Mikro Organisme Lokal (MOL). Sementara sampah organik dari sisa makanan, akan diproses menjadi pupuk Takura.

Sedangkan sampah non organik, dipisahkan menjadi empat jenis. Sampah kertas, sampah botol atau kaca, sampah kemasan plastik, dan sampah botol plastik.

“Untuk organik kita proses menjadi pupuk. Sedangkan yang non organik, ada yang bisa dikumpulkan dan bernilai ekonomi dijual langsung, dan ada juga yang diproses menjadi kerajinan yang bernilai ekonomis,” katanya.

Sulis mengatakan, peresmian Rumpil Inges dilakukan bertepatan dengan HPSN tahun 2021 sebagai bentuk komitmen Kelurahan dan warga masyarakat Mataram Barat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

“Selama satu tahun menjabat Lurah, saya selalu turun dari rumah ke rumah. Saya juga merangkul tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk membantu sosialisasi dan edukasi ke masyarakat. Merubah mindset masyarakat memang tidak semudah membalik telapak tangan, kita harus turun dan melibatkan banyak pihak. Tidak bisa hanya memberikan konsep dari atas menara. Tapi alhamdulillah kerja keras ini mulai menampakan hasil dengan peresmian Rumpil Inges ini,” kata Sulis.

Ia berharap Rumpil Inges di Kelurahan Mataram Barat bisa direplikasi di Kelurahan lain di Kota Mataram. Atau setidaknya ada model serupa di tiap Kecamatan di Kota Mataram.

“Sebab mengatasi masalah sampah, harus dibereskan dulu dari unit terkecil, Kelurahan dan Desa. Kalau disini sudah beres, maka ke tingkat Kecamatan dan di atasnya juga akan lebih mudah,” katanya. 

Meski Rumpil Inges belum masuk dalam program kegiatan NTB Zero Waste, Sulis mengapresiasi Pemprov NTB yang akan mensupport kebutuhan Rumpil Inges ke depan. Misalnya untuk mesin pengayak kompos dan beberapa mesin lainnya.

“Tadi pak Assisten II menanyakan apa saja kebutuhan Rumpil Inges yang bisa disupport Provinsi. Ya kita sampaikan apresiasi. Support seperti ini yang dibutuhkan bagi kami di Kelurahan, misalnya mesin pengayak Kompos dan mesin pencetak Puving Block. Kalau ini bisa disupport, tentu akan membuka lapangan kerja juga di Rumpil Inges ini,” katanya.

Keberhasilan Lurah Mataram Barat menginisiasi Rumpil Inges rupanya dilirik program NTB Zero Waste. Pemerintah Provinsi NTB akan menggelar rapat koordinasi dengan Pemkot Mataram untuk membahas pola penanganan dan pengelolaan sampah di ibukota NTB ini.  

“Ya mungkin Rumpil Inges ini jadi introspeksi untuk program Zero Waste. Pak Assisten tadi bilang kalau Wagub NTB akan bertemu Walikota terpilih untuk membahas Kota Mataram sebagai pilot project Zero Waste, karena Mataram kan ibukota NTB, wajahnya Provinsi NTB,” tandasnya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.