Berbagi Berita Merangkai Cerita

Rumah Terbalik ala Sukarno Bentuk Protes Korban Gempa yang Terabai

0 10

MATARAM, DS – Kendati rumahnya rusak berat dan hancur akibat diterjang gempa di Pulau Lombok pada akhir Juli dan Agutus lalu, nama salah satu warga Desa Bug-bug, Kecamatan Lingsar Lobar, Sukarno (44), tidak tercantum dalam pendataan untuk memeroleh bantuan rehabilitasi rumah terdampak gempa bumi yang dilakukan pemerintah desa setempat.

Mengetahui namanya tak masuk daftar, perawat kesehatan di Puskesmas Lingsar ini tidak patah arang. Pria yang juga memiliki hobi naik gunung itu malah membangun rumah dengan biaya sendiri. Uniknya, rumah kreatif yang dibangunnya bukan rumah biasa tetapi model rumah terbalik.

“Ya sengaja model seperti ini, kita sebut rumah sujud, karena posisi rumah seperti sedang bersujud,” ujar Sukarno menjawab wartawan, Selasa (16/10).

Ia memang sengaja membuat konsep rumah yang menarik. Dia berharap hal itu bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Apalagi, langkahnya membuat rumah unik itu adalah bagian dari sikap protesnya atas ketidakadilan yang diperolehnya kepada pemerintah desa maupun daerah setempat.

“Nama saya tidak masuk daftar, ingin protes juga, ada rasa ketidakadilan, verifikasi tidak masuk itu yang saya sesalkan,” kata Sukarno seraya berharap warga sekitar mau mengikuti langkahnya membangun rumah dengan konsep serupa. “Kita coba browsing-browsing dan cari yang paling sederhana, buat miniatur dulu lalu konsultasikan ke tukang,” ungkap Sukarno.

Sukarno mengaku menghabiskan sekitar Rp 50 juta lebih untuk membangun rumah terbalik yang menggunakan bahan material mulai dari genteng onduvila untuk atap, kalsiplank untuk dinding, dan sisa puing yang masih bisa digunakan seperti pintu dan jendela.

Rumah terbalik seluas 6×5 meter memiliki lama waktu pengerjaan sekira 3 minggu. “Ini sudah jalan seminggu, mungkin sekitar dua minggu lagi rampung, dan arsitekturnya Insya Allah tahan gempa juga,” cetusnya.

Rencananya, Sukarno  mengundang komunitas pendaki di Gunung Rinjani untuk menghadiri peresmian rumah terbaliknya itu. Apalagi, ia berkeyakinan idenya kali ini akan mampu menjadi daya tarik bagi sektor pariwisata baru di Lombok Barat. Dia menilai, warga sekitar juga bisa merasakan dampak ekonomi dengan kehadiran wisatawan.

“Warga nantinya bisa berjualan makanan dan minuman, serta kerajinan tangan yang kalau bisa ada ciri khas tentang bencana gempa,” ucap Sukarno.

Tak sekadar sebagai objek wisata, Sukarno juga akan menampilkan sejumlah unsur yang berkaitan dengan perisitiwa gempa. Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat dan juga mitigasi bencana kedepan bagi masyarakat sekitar dan juga wisatawan.

Terpisah, salah seorang pekerja yang membangun rumah tersebut, Andi, mengaku kaget saat diminta Sukarno membangun rumah dengan model terbalik. Namun, Andi menyetujui permintaan tersebut.

“Kita kan sering bawa tamu ke Rinjani, namun kini Rinjani ditutup, katanya sampai dua tahun, jadi kenapa kita tidak mulai menciptakan objek wisata baru,” katanya.

Andi berharap langkah inovatif Sukarno diikuti masyarakat lainnya yang ada di Lombok. “Bagi saya, ide mas Sukarno membangun rumah terbalik adalah bentuk warga NTB yang siap bangkit dari keterpurukan dan kesedihan pascagempa,” tandasnya. RUL.

Leave A Reply