Menu

Mode Gelap

Kesehatan · 3 Jun 2022 18:13 WITA ·

Rugi Rp 582 Triliun Akibat Bunuh Diri, Toma di NTB Deklarasikan Kesehatan Jiwa


					Sarasehan kesehatan jiwa lintas agama. md Perbesar

Sarasehan kesehatan jiwa lintas agama. md

Mataram, DS-Para tokoh lintas agama mendeklarasikan kesehatan jiwa dalam sebuah sarasehan yang digelar YAKKUM, Black Dog Institute dan Emotional Health For All di Lombok, 2-3 Juni 2022. Deklarasi mencuat karena sudah bukan waktunya isu kesehatan jiwa dipandang sebagai aib yang terus disembunyikan akan tetapi menjadi masalah kemanusiaan yang perlu segera ditangani.

Organisasi keagamaan nasional di Indonesia yang menyerukan deklarasi ini adalah MUI, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Jakarta Praise Church Community, Komisi Waligereja Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Parisada Hindu Darma Indonesia, Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), dan International Center for Religions and Peace.

Peneliti dari Black Dog Institute, Dr Sandersan Onie, Jum’at (3/6). memaparkan kesehatan jiwa dan akibat bunuh diri di Indonesia berdampak pada kerugian sekira Rp 582 triliun (setara dengan 4% GDP). Hal itu terjadi setiap tahun karena masalah kesehatan jiwa yang tidak tertangani dengan baik.

Dr Sandersan menyampaikan dampak lain seperti penggunaan obat-obat terlarang (narkotika) dan tumbuh kembang anak-anak yang memiliki masalah di sekolah karena dibesarkan oleh ibu dengan masalah depresi kronis tanpa penanganan yang memadai.

Direktur Kesehatan Mental dari Kementerian Kesehatan mencatat bahwa bunuh diri adalah penyebab kematian tertinggi kedua bagi individu di usia remaja akhir. WHO juga mencatat bahwa angka yang dilaporkan di Indonesia jauh lebih rendah daripada jumlah yang sebenarnya. Karea, percobaan bunuh diri yang dilakukan dapat 25-30 kali lebih banyak dari kasus bunuh diri yang terjadi.

Selain itu, untuk setiap kematian karena bunuh diri, terdapat paling tidak 135 orang yang terkena dampaknya dalam bentuk trauma mendalam bagi orang terdekat, kehilangan asuhan atau pencari nafkah, kesedihan berkepanjangan, dan berpotensi menjadi ide bunuh diri berikutnya.

Hal ini adalah sebuah fenomena yang disebut sebagai penularan bunuh diri, di mana individu yang pernah mendengar kasus bunuh diri di sekitarnya memiliki kemungkinan lebih besar melakukan tindakan bunuh diri juga. Jika terjadi pada usia remaja, masalah kesehatan jiwa dapat berlanjut hingga dewasa, dan berpengaruh pada kualitas hidup mereka serta mempengaruhi kualitas hidup generasi keturunan berikutnya.

Menurut Sandersan, banyaknya jumlah orang yang mengalami depresi dan bunuh diri yang semakin meningkat selama pandemi merupakan kondisi memprihatinkan. Karena, kata dia, hal ini menunjukkan luasnya masalah. Namun, yang jauh lebih memprihatinkan adalah jika masyarakat tidak merespon dengan mengambil langkah-langkah untuk menunjukkan kasih sayang dan keberpihakan pada mereka yang berhadapan dengan depresi dan pemikiran bunuh diri.

Karena berbagai stigma keagamaan di Indonesia yang terkait dengan bunuh diri, kata dia, banyak individu yang tidak sadar ketika mengalami depresi, tidak terbuka untuk berbicara tentang masalah yang dialami atau segan untuk mencari bantuan.
“Jika kita ingin sungguh-sungguh mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang kuat, maka masalah -masalah kesehatan jiwa tersebut perlu segera disikapi,” tandas Dr Sandersan Onie.

Dr Edduwar Idul Riyadi dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Kesehatan Jiwa dan NAPZA (Ditjen P2MKJN) Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa stigma dan diskriminasi pada orang dengan masalah kejiwaan adalah salah satu tantangan terbesar yang harus disikapi. “Para pemimpin agama punya peran utama untuk mengurangi stigma terhadap Orang Dengan Masalah Kejiwaan,” ujarnya.

Khatib Syuriah PB NU, KH. Sarmidi, dalam sarasehan itu menyampaikan bahwa Muktamar PBNU memutuskan tidak lagi menyebut Orang Dengan Masalah Kesehatan Jiwa dengan Majnun (orang gila) namun mengganti dengan Muqtala (Orang Yang Sedang Dalam Cobaan).

Menurut I Wayan Sianto, Ketua Walubi NTB, masalah kesehatan jiwa bukanlah hal yang memalukan. Kata dia, lingkungan dan keluarga berperan mendampingi orang dengan masalah kesehatan jiwa karena keluarga adalah benteng.

“Di Komisi Keluarga Komisi Waligereja Indonesia, kami memiliki panduan bagi keluarga untuk mendampingi disabilitas. Ada perubahan paradigma dimana orang dengan masalah kesehatan jiwa dan bunuh diri dianggap dosa. Saat ini Gereja Katolik telah mengubah perspektif tersebut dengan belas kasih dan penderitaan yang menyelamatkan. Bagaimana orang dengan masalah kesehatan jiwa dibantu untuk memiliki pengharapan,” urai Rm. Y. Aristanto, Komisi Waligereja Indonesia.

Sarasehan itu sendiri bertujuan untuk mempertemukan para pemimpin dan tokoh agama guna merefleksikan sikap dan pandangan mereka terhadap masalah kesehatan jiwa dan bunuh diri. Selain itu menyadari peran kunci pemimpin agama dalam mencari solusi komprehensif bagi masalah kesehatan jiwa.

Pertemuan ini juga dimaksudkan untuk menyusun rangkaian rekomendasi dan seruan pada berbagai pihak yang termaktub dalam Deklarasi Nasional Tokoh dan Pemimpin Agama untuk Kesehatan Jiwa dengan memanfaatkan momentum presidensi Indonesia untuk G20 tahun 2022.

“Sebagai salah satu negara dengan populasi masyarakat yang berbasis iman dan plural terbesar di dunia, seruan para pemimpin dan tokoh agama di Indonesia untuk mendukung kesehatan jiwa dan upaya-upaya pencegahan bunuh diri ini diharapkan menjadi inspirasi dan gerakan yang lebih luas di seluruh dunia,” imbuh Arshinta, Direktur Pembangunan Kesehatan Masyarakat dan Kemanusiaan YAKKUM.

“Sekaranglah waktunya, ketika agama diberikan bagian penting dalam kesehatan jiwa, tokoh agama harus memelopori pengurangan stigma terhadap orang dengan masalah kesehatan jiwa,” ujar drg. I Nyoman Suarthanu, Ketua Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia Bagian Kesehatan.

Menurut Ps Ary Mardi Wibowo dari Jakarta Praise Church Community, selama ini agama sering kali hanya dikaitkan dengan ritual, dengan Ibadah. Padahal, kata dia, agama seharusnya mengakomodasi semua hal untuk memanusiakan manusia.

Pdt Jacklevyn Manuputty, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia menekankan lembaga-lembaga keagamaan harus menjadi sasaran pertama dari rekomendasi dan deklarasi ini sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Menurut Dr. Irmansyah dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, penting data angka bunuh diri dan kolaborasi berbagai pihak dalam pencegahan, penanganan dan pemulihan masalah kesehatan dan bunuh diri.md

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 80 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Komitmen Aksi BergiziPara Remaja

12 Agustus 2022 - 15:25 WITA

Banzas Lobar Bantu Anak Gizi Buruk

11 Agustus 2022 - 05:28 WITA

Wagub Minta Anggaran Desa untuk Penghargaan Kader Posyandu

10 Agustus 2022 - 18:14 WITA

Mahasiswa KKN ITY Sosialisasi Bantul Bersih Sampah

1 Agustus 2022 - 16:32 WITA

Balai Besar POM Mataram Sita Ribuan Produk Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya

29 Juli 2022 - 22:21 WITA

Warga Terserang Gejala Kaki Gajah, Begini Respon NTB Care

28 Juli 2022 - 16:54 WITA

Trending di Kesehatan