Berbagi Berita Merangkai Cerita

RSUD NTB : Dua Ginjal Sri Rabitah Terpantau Baik

0 17

MATARAM, DS – Polemik terkait dugaan hilangnya ginjal TKW asal KLU, Sri Rabitah memasuki babak baru. Jajaran direksi RSUP NTB mengklaim, kedua ginjal Sri Rabitah dipastikan masih utuh, serta dalam kondisi baik.

Pernyataan RSUP NTB jelas berbeda dengan ungkapan Sri Rabitah yang menyebutkan ginjal kanannya dalam kondisi rusak. Informasi kerusakan ginjal, menurut Sri, disampaikan oleh salah satu dokter di rumah sakit pada Selasa (28/2) lalu.

“Kedua ginjal pasien utuh, masih bagus juga,” tegas dokter spesialis Urologi RSUD NTB, dr Suharjendro saat menggelar jumpa pers di media center, Kantor Gubernur, Rabu sore (1/3) kemarin.
Hadir dalam jumpa pers itu, Dirut RSUD provinsi NTB dr. H. Lalu Hamzi Fikri, Wakil Direktur (Wadir) pelayanan Agus Rusdi, spesialis Radiologi dr Dewi Anjarwati, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskotik) Tribudi Prayitno dan Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTB Yusron Hadi.

dr Suharjendro mengatakan, meski pihaknya membantah pernyataan Sri Rabitah yang mengaku kehilangan ginjal, namun dirinya mengakui jika pasien pernah melakukan operasi ginjal saat menjadi TKW di Qatar.

“Kalau terganggu iya, tapi bukan rusak ginjalnya. Kami sempat melihat rekam jejaknya, pasien itu sempat melakukan operasi batu ginjal tahun 2014 di Qatar,” kata dia.

Menurutnya, pelaksanaan operasi batu ginjal yang dilakukan di Qatar tidak lain merupakan upaya penyelamatan yang dilakukan oleh pihak majikan. Operasi tersebut bukan membahayakan pasien karena sudah biasa dilakukan dalam dunia medis.

“Dugaan saya, waktu di Qatar pasien mengalami sumbatan di tubuhnya, sehingga terjadi emergency dan dilakukanlah operasi itu,” ujar Suharjendro.

Terkait dengan pengakuan Sri yang tidak pernah diberikan informasi atas penyakitnya, ia menyebut tidak mungkin hal itu terjadi. “Bu Sri Rabitah kan TKW, mungkin gak sadar sudah dikasitau. Bisa saja kendala bahasa makanya mengira tidak pernah diinformasikan,” tegas Suharjendro.

Ia mengatakan, dalam dunia medis, seorang pasien tidak harus dimintai persetujuannya saat akan dioperasi. Kondisi tersebut bisa dimaklumi ketika pasien sudah emergency. Sehingga, untuk menyelamatkan nyawa, tindakan operasi bisa dilakukan tanpa adanya persetujuan.

“Penjelasan kami saat ini untuk menepis pernyataan Sri Rabitah yang dioperasi tanpa adanya persetujuan,” ujar Suharjendro.

Ia menambahkan, seharusnya setelah empat bulan pelaksanaan operasi, selang yang dipasang di tubuh pasien dicabut. Namun, lantaran Sri Rabitah pulang dari Qatar, sehingga hal itu belum dilakukan.

“Kami cek, ada selang sepanjang 30 centimeter di tubuhnya untuk memperlancar peredaran dari ginjalnya, tapi akibat tidak dicabut sampai sekarang makanya ginjalnya terganggu dan sering kumat sakit nyerinya,” jelas Suharjendro.

Berdasarkan hasil pemeriksaaanya, ginjal pasien masih dalam kondisi normal. Sehingga, pemberitaan yang menyebutkan jika ada dugaan pergantian ginjal jelas terbantahkan.

“Nggak mungkin ginjalnya diganti, ini kan dia dioperasi batu ginjal karena sakit waktu di Qatar. Bisa saja ketika chek-up disini kondisinya sehat, tapi saat di Qatar muncul penyakit,” ucap Suharjendro.

Sementara itu, Wadir Pelayanan RSUD provinsi NTB, dr.Agus Rusdhi, menjelaskan, pasien Sri Rabitah datang ke rumah sakit pertama kali pada tanggal 11 Februari. Berdasarkan riwayat kesehatannya, sudah jelas tertera pernah melakukan operasi batu ginjal di Qatar pada tahun 2014 lalu.

Pasien kemudian datang lagi pada tanggal 20 Februari untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Pasien Sri Rabitah, datang lagi kemarin untuk rawat inap karena persiapan operasi, tapi info terakhir pasien malah ingin pulang karena ingin menyusui anaknya,” jelas Agus Rusdi.

Di tempat sama, Dirut RSUD provinsi NTB, dr.H. Lalu Hamzi Fikri mengatakan, masalah ini murni kesalahpahaman saja. Semua informasi yang dibutuhkan pasien telah disampaikan oleh pihak rumah sakit dengan baik dan jelas.

Menurutnya, informasi hasil pemeriksaan memang merupakan hak pasien, begitu juga ketika pasien menyampaikan lagi kepada pihak lainnya.

“Tapi saya tegaskan, tidak pernah ada pernyataan yang menyebut ginjal pasien tidak ada. Dan sekali lagi, kami tidak pernah menyatakan ginjal pasien itu tidak ada,” tegas Lalu Hamzi Fikri.

Terpisah, Gubernur NTB Dr. TGH Muhamad Zainul Majdi meminta kepada semua pihak agar isu ginjal TKW yang hilang agar tidak dijadikan komoditas. Sebab, saat ini, yang paling penting adalah kesembuhan dari pasien itu sendiri akibat adanya selang bekas operasi pada tahun 2014 lalu saat TKW itu bekerja di Qatar.

Gubernur berpesan kepada pihak rumah sakit agar memberikan pelayanan terbaik kepada Sri Rabitah. Termasuk, jika dilakukan operasi pengangkatan selang yang ada di tubuhnya.

“Penanganan kepada beliau yang sakit agar dilaksanakan sebaik-baiknya. Saya sudah minta agar pelayanan yang terbaik yang diberikan. Saya ingin beliau bisa sembuh,” tegas Gubernur.

Terkait rencana bertemu dengan korban, TGB mengakui belum memiliki rencana tersebut. Apalagi, kondisi Sri Rabitah masih dalam kondisi belum sembuh total alias sakit. “Kalau saya, yang penting dia sembuh dulu,” tandas gubernur menjawab wartawan saat ditemui di pendopo Gubernur. fahrul.

Leave A Reply