Menu

Mode Gelap

Lombok Timur · 27 Sep 2022 19:25 WITA ·

Rebo Bontong Pringgabaya, Spirit Religi dan Semangat Berbagi


					Prosesi Rebo Bontong di Desa Pringgabaya. Perbesar

Prosesi Rebo Bontong di Desa Pringgabaya.

Perayaan (Gawe : Sasak) Tetulak Tamperan atau Rebo Bontong di Desa Pringgabaya Lombok Timur (Lotim) tetap dijaga dan dirawat. Hal ini dapat dilihat dari adanya Gawe Rebo Bontong setiap tahun. Karena tradisi ini berdiri di tengah masyarakat yang beragama Islam, pergelarannya dilaksanakan pada minggu keempat bulan Safar sebagai spirit religi sekaligus semangat berbagi.
“Kita sudah gelar Rebo Bontong pada hari Rabu tanggal 21 September 2022M bertepatan dengan minggu keempat bulan Safar 1444 H. Namun secara sederhana, karena waktu dan juga keterbatasan dana, sehingga kita pun tidak mengundang Bupati dan Wakil Bupati serta pejabat lain di lingkungan Pemda Lotim,” kata Lalu Marzoan Jayadi, S.Pd., Ketua Pokdarwis Tanjung Menangis Desa Pringgabaya, Kamis (22/09/2022).
Pelaksanaan Rebo Bontong ditandai dengan pembacaan naskah Tapal Adam, mengiringi pembuatan Sonsonan Tetulak Tamperan/Rebo Bontong yang dimulai ba’da shalat Zuhur.
Pada malam hari jelang hari tradisi Tetulak Tamperan diadakan tahlilan (zikir bersama) di Pelataran Kantor Desa Pringgabaya, pada ba’da shalat Maghrib hinggs selesai. Sementara pembacaan kitab Tapal Adam diiringi pembuatan Sonsonan Tetulak diteruskan hingga jelang waktu Subuh tiba.
“Sonsonan Tetulak Tamperan dibawa bersama secara beriring (tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat umum) menuju Pantai sekitar pukul 08.00 wita tiba,” terang Marzoan Jayadi.
Sementara itu, Amaq Dian menyampaikan bahwa para pembawa Ancak dan Sonsonan Rebo Bontong menuju pantai terdiri dari masyarakat didampingi pembayun. Di pantai sudah hadir aparat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan masyarakat pada umumnya.
“Pemdes, tokoh, masyarakat, dan undangan lainnya bersama pembayun menerima Ancak dan Sonsonan Tetulak (Sonsonan 5 dan Sonsonan pengiring). Sesudah kepala kerbau/kambing dalam Ancak dilarung, dilanjutkan dengan tahlil dan do’a. Setelah itu baru isi ancak dan sonsonan dinikmati bersama,” kata Amaq Dian.
“Alhamdulillah, kiyai, tokoh, masyarakat menikmati Sonsonan Tetulak. Begitupun Ancak, shalawat berupa keping uang logam,” terang Marzoan Jayadi, sembari menambahkan bahwa jika Sonsonan Tetulak boleh juga dibawa pulang. “Dapat dinikmati bersama keluarga di rumah, sebagai menu sarapan pagi yang penuh berkah,” imbuh alumni FPOK IKIP Mataram ini.
Sementara itu, Sekdes Pringgabaya, Khairul Azmi, S.AP., ikut menyampaikan Pemdes Pringgabaya sangat menghargai semangat dari warga masyarakat yang telah mendukung sepenuhnya dan ikut bersama dalam pelaksanaan tradisi tahunan Tetulak Tamperan.
“Alhamdulillah, jauh hari sebelum pelaksanaan Tetulak Desa (2 minggu sebelumnya) masyarakat sudah maklum dan menunjukkan semangat partisipasinya lewat “Jimpitan” tergantung apa yang ada berupa boleh beras, kelapa, telur, uang logam, gula pasir, minyak goreng, dan lainnya,” kata Khairul Azmi, sembari menambahkan bahwa acara tahunan tradisi Tetulak Tamperan berhasil dilaksanakan pada hari Rabu (21/09/2022) bertepatan dengan Rabu minggu keempat (terakhir) bulan Safar 1444 H.
Menurutnya, Rebo Bontong memiliki hikmah terjalinnya silaturrahmi, semangat berbagi, gotong royong, dan menuju ke arah peningkatan keimanan ini, telah dilaksanakan secara sederhana. Insyaa Allah kita dapat melaksanakannya dengan lebih meriah,” imbuh alumni Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Selong Lotim.

Berawal dari Adanya Musibah
Tetulak awalnya disebut dengan kata Tatulak. Ta berarti kita, jadi Tetulak Tamperan dimaknakan sebagai adanya upaya kita sebagai masyarakat untuk kembali kepada kebenaran yang hakiki yang memang tak luput dari salah dan dosa. Tetulak Tamperan atau Rebo Bontong ini merupakan tradisi yang terjaga dan terawat serta dilaksanakan setiap tahun pada minggu ke 4 bulan Safar tahun Hijriah.Tradisi ini menjadi kearifan lokal di Desa Pringgabaya Lombok Timur (Lotim) Nusa Tenggara Barat (NTB).
Keberadaannya berawal dari turunnya wabah penyakit dan musibah. Ketika itu akhir bulan Safar hari Rabu yang kebetulan berbarengan dengan masuknya bulan Rabiul Awwal. Maka, diimbau kepada masyarakat untuk waspada dan mengambil langkah terbaik. Oleh tokoh agama dan pemerintahan kemudian menyarankan untuk bersuci (saat itu banyak yang ke laut) dengan mandi dan tidak berada di rumah.
“Itulah sebabnya kegiatan ini disebut sebagai Rebo Bontong dan diadakan di pantai yang bertepatan dengan minggu keempat bulan Safar pada hari Rabu (Rebo : Sasak),” tutur Sekdes Pringgabaya, Khairul Azmi, S.IP., Rabu (21/09/2022).
Khairul Azmi menjelaskan, kegiatan ini kemudian diiringi dengan pembuatan dan menghadirkan sesajian (Tetulak : Sasak) sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas nikmat iman, rezeki dan kesehatan serta berbagi kepada sesama dan lingkungan sekitar (manusia dan laut sebagai lahan mata pencaharian). Tetulak ini kemudian dikenal sebagai Tetulak Tamperan/pesisi (pantai) atau Rebo Bontong.
Tetulak Tamperan yang dibuat pada prinsipnya sama dengan Tetulak Desa yaitu pembuatan Sonsonan 5. Bedanya, padaTetulak Tamperan ada pada adanya Ancak yang dibuat dengan batang dan daun tebu sebagai ornamennya yang berisi olahan daging ayam, ketan (reket : Sasak), buah dan sayur, shalawat. Sebagaimana disampaikan oleh tokoh masyarakat pesisir pantai Ketapang Desa Pringgabaya, Amaq Dian.
“Ancak itu berisi olahan daging ayam panggang, pisang (puntik : Sasak), ketan (reket : Sasak) kuning, reket putik, 44 jenis buah-buahan, 44 jenis sayur-sayuran, shalawat berupa 33 keping uang berlubang (kepeng tepong : Sasak) masa dulu,” kata Amaq Dian. Ancak ini diarak menuju pantai diiringi dengan Sonsonan 5 (seperti di Tetulak Desa). “Di dalam Ancak ini juga terdapat kepala (kerbau atau kambing, sesuai kemampuan) yang diiringi dengan iringan Sonsonan 5 dan Sonsonan pengiring,” imbuhnya.
Ada 5 tingkatan yang kemudian dikenal sebagai Sonsonan 5. Dengan tata krama adat dan nilai religi di atas segalanya, maka Sonsonan 5 ini disajikan dengan apik memenuhi etika dan estetika kearifan lokal adat istiadat setempat yang dihajatkan untuk kepentingan masyarakat yang dipusatkan di pantai.
“Gawe atau pergelaran Tetulak Tamperan/Rebo Bontong di Desa Pringgabaya ini kemudian dilaksanakan tiap tahun mengikuti kalender Hijriah yaitu minggu keempat bulan Safar dengan mengambil hari Rabu,” kata Khairul Azmi, S.AP., Sekdes Pringgabaya.
Kelima Sonsonan Tetulak bahan olahan utamanya dari 44 ekor ayam itu adalah : 1). Sonsonan Ratu 2). Sonsonan Pangeran Ratu 3). Sonsonan Rasul Mustafa 4). Sonsonan Jinem 5). Sonsonan Waliyullah. Sonsonan 5 yang berasal dari olahan 5 ekor ayam ragam tingkatan warna ini kemudian dikenal sebagai Iduk Tetulak, disajikan khusus dengan memakai wadah Dulang. Sedangkan dari 39 ekor ayam itu disebut sebagai Sonsonanan Pengiring (Pegiring Tetulak), disajikan dengan memakai wadah nare, berisi 744 buah ketupat berukuran kecil dengan menu olahan dari daging 39 ekor ayam ditambah dengan menu ala kadarnya. Mendampingi kedua Sonsonan tersebut berupa Shalawat berupa 775 keping uang logam

Semangat Berbagi dalam Sonsonan
Prosesi pelaksanaan gawe Tetulak ditandai dengan pembacaan naskah takepan dari daun lontar bertuliskan hurup kawi berbahasa Sasak halus kuno (Sasak Jejawen) dikenal sebagai Tapel Adam dengan langgam mirip Jawa Bali.
Tapal Adam merupakan ungkapan dari cipta, rasa, dan karsa para sastrawan budayawan Suku Bangsa Sasak yang beragama Islam. Hal ini dilihat dari isi yang memuat tentang kejadian alam, manusia, sejarah hidup dan peradaban mulai dari Nabi Adam, Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad Saw.
Menurut Ketua Podarwis Tanjung Menangis Pringgabaya, Marzoan Jayadi, S.Pd., Kamis (22/09/2022), tradisi kearifan lokal yang ada merupakan warisan leluhur sebagai insan yang berbudaya dan beragama. “Jadi, mari kita bersama menjaga dan merawat tradisi Tetulak Tetulak Tamperan/Rebo Bontong di Desa kita Pringgabaya ini,” kata alumni FPOK IKIP Mataram ini.
Pembacaan Takepan Tapal Adam dimulai ba’da Shalat Dzohor H-1 pelaksanaan Rebo Bontong (sebagaimana pada Tetulak Desa). Seiring dengan itu dilakukan pengerjaan pengolahan menu dengan bahan 44 ekor ayam (Sonsonan 5 dan Sonsonan pengiring) sampai dengan jelang waktu Shalat Subuh. Kegiatan pembacaan Tapel Adam dan pengolahan menu Sonsonan Tetulak berhenti sejenak jika waktu Shalat tiba. Sonsonan Tetulak Tamperan/Rebo Bontong (sebagaimana pada Tetulak Desa) memiliki nilai filosofi yang universal menyinggung duniawi dan ukhrawi atau hablumminallah dan hablumminannas.
Sonsonan 5 tersebut sebagaimana dijelaskan Mamiq Daniel dan juga Amaq Dian, 2 tokoh adat desa Pringgabaya, yaitu :
1). Sonsonan Ratu, sajian dengan menu daging ayam bulu hitam mulus dibakar dan dipanggang. Daging ayam ini ditaruh di atas sajian nasi Tetulak .
2). Sonsonan Pangeran Ratu, sesajian dengan menu tiga lapis yang terdiri atas nasi, ketan dan telur yang digoreng. Lapisan ini diatur hingga 8 kali dalam sebuah piring besar. Ayam yang dipakai adalah campuran warna bulu merah kuning (bengkuing) dan harus yang belum kawin (ayam muda atau mendara : Sasak). Daging ayam ini dicabut/disuwir (dirobek kecil-kecil) dibuang tulangnya dibalut dengan warna gula merah (gegulik : Sasak) yang kemudian ditaruh berdampingan dengan menu tiga lapis tadi.
3). Sonsonan Rasul Mustafa, sesajiann dengan menu nasi yang banyak dikelilingi dengan 44 butir telur yang sudah dikupas kulitnya. Ini bermakna filosofi tetkait dengan sifat Allah dan Rasul Muhammad Saw yang tak terpisahkan. 20 sifat wajib bagi Allah dan 20 butir sifat mustahil bagi Allah serta 4 sifat bagi Nabi Muhammad Rasulullah Saw.
4). Sonsonan Jinem.Jinem berarti kamar yang mulia di dalam Istana. Sajian ini dengan menu dari daging ayam berwarna 3 (putih, kuning, dan hitam). Seointas lalu memang warnanya putih tapi di sela-sela ketiaknya ditemukan tiga warna tadi. Makna yang terkandung di dalamnya adalah seseorang yang harus mentapakuri untuk menghilangkan warna kuning dan hitam sehingga betul menjadi putih mulus.
5). Sonsonan Waliyullah, sajian dengan menu daging ayam yang berasal dari warna bulu putih mulus. Sonsonan ini bermakna akhir perjalanan kehidupan manusia yang selamat.
“Manusia dalam kehidupannya diwarnai dengan prilaku yang beragam antara buruk (hitam) dan baik (putih). Semuanya mengalami suatu proses, dari sifat yang jahat sekali (penuh dosa) dan akhirnya bertaubat menjadi insan yang beriman dan bertaqwa hanya kepada Allah dan cinta Rasul-Nya. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sebagai masyarakat Sasak Islam yang beriman dan bertaqwa,” terang Amaq Dian (Kusmiardi).

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Bale Mediasi Lotim Menarik Perhattian Banjarmasin

29 November 2022 - 17:22 WITA

Sekda Lotim Ingatkan Gencarkan Sosialisasi Perdes

28 November 2022 - 20:33 WITA

Nota Kesepakatan KUA PPAS 2023 Ditandatangani

28 November 2022 - 16:04 WITA

Hari Guru di Lotim Membuat Ribuan Warga Tumpah Ikuti Jalan Sehat

28 November 2022 - 07:09 WITA

STQ Kecamatan Aikmel Digelar Akhir November

25 November 2022 - 16:22 WITA

Ini Pesan Sukiman Azmy kepada Wisudawan STIT Palapa Nusantara

24 November 2022 - 20:45 WITA

Trending di Lombok Timur