Berbagi Berita Merangkai Cerita

Raperda Pengendalian Sampah Plastik akan Batasi Penggunaan Kresek di Lombok Timur

22

SELONG, DS – Raperda Pengendalian Sampah Plastik diharapkan dapat menjadi payung hukum kedepannya untuk mengurangi penggunaan plastik yang masih menjadi masalah utama kebersihan di Lombok Timur. Bagaimana tidak, tumpukan sampah kerap ditemui di berbagai tempat seperti saluran irigasi, persawahan, hingga pantai.

Raperda ini dimaksudkan untuk mengurangi limbah plastik dengan membatasi penggunaan plastik sekali pakai. Baik di supermarket, retail modern, maupun pasar. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat pada penggunaan kantong plastik.

“Untuk membuat masyarakat tidak ketergantungan dengan plastik, mungkin nanti plastiknya berbayar. Hasil pembayarannya itu, bisa digunakan untuk sosialisasi,” ucap Wakil Ketua DPRD Lombok Timur, H. Daeng Paelori.

Langkah penanggulangan limbah plastik dengan mengurangi pemakaian harus mulai dilakukan Pemkab Lombok Timur. Karena jika tidak dimulai, dampak negatif limbah plastik akan terus terjadi di Lombok Timur.

Bahkan dalam Perda ini juga mengatur tentang pemberian sanksi terhadap pihak-pihak yang dimaksudkan dalam Perda tersebut.

“Setiap perda itu kan ada sanksi. Sanksinya masih berupa sanksi administratif. Kalau tidak diindahkan, bisa berupa teguran tertulis, bisa dibekukan izinnya sementara. Bahkan sampai penutupan izin,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Kebersihan dan Pengolahan Sampah dan Limbah B3, Dinas Lingkungan Hidup dan kebersihan (DLHK) Lombok Timur, Deddy Sutarmin mengatakan Raperda tersebut sejalan dengan kebijakan daerah saat ini.

Sesuai dengan Permen LHK nomer 75, pemerintah kabupaten Lombok Timur juga fokus menangani sampah pada tingkat hulu. Pemkab Lombok Timur sendiri telah memiliki Kebijakan Strategis Daerah (Jakstrada) yang merupakan turunan Kebijakan Strategis Nasional (Jakstranas) pada Perpres nomer 97 tahun 2017.

“Kebijakan sekarang adalah selain menangani sampah di hilir, kita juga fokus sesuai dengan Permen LHK no. 75 tentang pengurangan sampah. Plastik khususnya. Harus ada upaya penanganan di hulu,” jelas Deddy.

Berdasarkan hal tersebut, Lombok Timur sendiri menargetkan penurunan sampah sebesar 30% hingga tahun 2025 mendatang.
Sementara 70% dari volume sampah yang ada masih terfokus pada penanganan.

Menurutnya, setiap harinya masyarakat Lombok Timur memproduksi sampah sebanyak 486 ton. Sekitar 15% diantaranya merupakan sampah plastik. Artinya, kurang lebih 70 ton sampah plastik yang dihasilkan oleh masyarakat Lombok Timur.

Namun demikian, upaya pengurangan limbah plastik terus dilakukan. Salah satunya dengan melakukan pembinaan terhadap bank sampah yang bersedia membeli sampah plastik kresek kemasan sekali pakai.

“Selama ini upaya pengurangan kita sudah ada. Di Lombok Timur sudah ada bank sampah yang khusus membeli keresek. Itu yang kita lakukan pembinaan. Mereka bisa bahkan bisa mengirim sampai 23 ton perbulan,” tuturnya. Dd

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.