Program KERIS Akan Dimaksimalkan Untuk Tekan KIB

SELONG, DS-Pemkab Lombok Timur melalui Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan , Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) akan berupaya memaksimalkan program keluarga risiko stunting (KERIS) untuk menekan angka kasus kematian ibu dan bayi (KIB) di Lombok Timur.

Upaya itu dilakukan karna angka Kematian Ibu dan Bayi di Lombok Timur masih terbilang tinggi.

” Kita mengambil peran melalui dukungan 3.063 orang pendamping keluarga yang tersebar di 254 desa/kelurahan”terang Kadis DP3AKB Lotim H. Achmat

Dikatakan, para pendamping melaksanakan tugas pendampingan kepada keluarga risiko stunting pada sasaran remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui dan balita usia 0-59 bulan. Tidak hanya itu, jelas H. Ahmat, pihaknya juga telah memformulasikan kegiatan yang disebut kelas keluarga risiko stunting (KERIS).

” Keris ini bertujuan memberikan konseling, informasi dan edukasi kepada calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca salin dan balita 0-59 bulan. Selain itu DP3AKB pun berupaya agar semua kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tertangani sesuai standar 100″ Paparnya.

Sebelumnya Direktur RSUD dr. Raden Soedjono Selong Hasbi Santoso mengatakan berbagai upaya Pemkab Lotim, telah dilakukan untuk menurunkan kasus KIB di Lotim. Salah satu upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi yaitu  deteksi dini faktor risiko penyebab kematian yang ditindaklanjuti dengan penyediaan Antropometri KIT di 1.998 posyandu.

Hasilnya Angka AKI yang semula 138/100.000 kelahiran hidup menjadi 100/100.000 kelahiran hidup di tahun 2023. Angka tersebut di bawah Target Nasional 210/100.000 Kelahiran Hidup. Sementara itu AKB juga mengalami penurunan dari 8,9/1.000 Kelahiran Hidup tahun 2022 menjadi 7,6/1.000 Kelahiran Hidup tahun 2023. Angka tersebut juga di bawah Target Nasional 18,6/1.000 Kelahiran Hidup.

“Keberhasilan itu juga tidak lepas dari  dukungan pengembangan layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) melalui peningkatan sarana prasarana seperti alat kesehatan, peningkatan SDM mulai dari pendidikan dan pelatihan dokter spesialis kandungan dan anak, juga Pendidikan dan pelatihan untuk Dokter Umum, Bidan dan perawat, di RSUD dr. R. Soedjono Selong,” terang Hasbi.

Secara umum lanjutnya, pihaknya juga terus berupaya meningkatkan kualitas dan mutu layanan bidang kesehatan. Hal itu dapat dilihat dengan tersedianya CT-Scan dan peralatan terkait urologi, dibukanya poli pelayanan bedah Thorax dan Kardio vulmonal (BTKV) yang dilayani spesialis BTKV hingga penerapan Elektronik Medical Record (E-MR) di RSUD Soedjono Selong.

Dia menambahkan peningkatan layanan kesehatan juga dilakukan melalui peningkatan kualitas layanan k di Puskesmas. Peningkatan layanan kesehatan dilakukan dengan penerapan integrasi pelayanan kesehatan primer (ILP). Merujuk transformasi sistem kesehatan nasional, maka tahun 2024 diterapkan sistem pelayanan dengan ILP mulai dari puskesmas, Pustu, dan Posyandu sehingga pelayanan kesehatan menjadi lebih kolaboratif dan komprehensif dalam memecahkan permasalahan kesehatan.

“Tahun lalu, semua puskesmas sudah mengikuti proses akreditasi. Hasilnya ada 32 puskesmas terakreditasi paripurna dan 3 puskesmas terakreditasi utama,” imbuhnya.

Upaya lainnya, papar Hasbi, yaitu dengan mengurangi hambatan finansial melalui pencapaian cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC). Tahun 2024 Pemkab Lotim menargetkan UHC mencapai 98 persen.

“Kedepannya melalui UHC ini tidak akan ada lagi persoalan ibu melahirkan yang terkendala biaya untuk penanganan persalinan,” katanya.li

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.