Berbagi Berita Merangkai Cerita

Program Beasiswa NTB Berlanjut ke Malaysia, Pemprov  Siapkan 15 Mahasiswa Kuliah S2 di UPSI

0 79

MATARAM, DS – Sebanyak 15 orang mahasiswa lulusan sarjana strata satu (S-1) dari dua kabupaten di Pulau Sumbawa, yakni Kabupaten Dompu dan Bima bakal diberangkatkan ke Malaysia guna melanjutkan pendidikan S-2 ke Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) di Perak, Malaysia pada Agustus mendatang.

Para mahasiswa itu merupakan mereka yang tercatat lolos seleksi Program Beasiswa 1.000 mahasiswa S-2 ke Luar Negeri yang dilakukan awal tahun 2019 lalu. Direncanakan, 15 orang mahasiswa itu akan menempuh pendidikan Master of Education dan Master of Arts di kampus yang berumur 96 tahun di negeri Jiran tersebut.

Penandatanganan pengiriman mahasiswa NTB ke Luar Negeri, yakni negara Malaysia itu telah ditanda tangani oleh Gubernur Zulkieflimansyah dan Kepala Biro Kerjasama Setda NTB, Ahmad Nur Aulia, dengan Chancellor UPSI Prof. Dr. M. Dato’ Shatar bin Sabran pada Senin (25/02) lalu di Kampus Fakultas Seni dan Musik UPSI.

“Malaysia dan Indonesia termasuk NTB, punya banyak persamaan. Yaitu sama-sama memiliki perbedaan dan kemajemukan di dalam masyarakatnya. Namun dari perbedaan dan kemajemukan itu, Malaysia mampu berkembang dan maju secara harmonis dalam setiap sendi kehidupannya. Termasuk dalam kemajuan sistem dan kualitas pendidikan tingginya,” ujar Gubernur menjawab wartawan dalam siaran tertulisnya, Rabu (27/2).

Zul mengatakan, salah satu cara untuk bisa mendobrak sekat-sekat perbedaan dan kemajemukan supaya tidak jadi penghambat kemajuan adalah perubahan paradigma berpikir.   Menurutnya, merubah atau mengubah paradigma itu hanya dengan pendidikan.  Yakni, mengirimkan mahasiswa NTB belajar ke luar negeri untuk memperluas cakrawala berpikir, membangun kepercayaan diri alam pergaulan dengan anak-anak muda dari banyak negara di dunia, serta belajar menghargai perbedaan (difference) dan kemajemukan (diversity).

Zul menjelaskan,  kerja sama dengan UPSI ini, sejatinya bukan baru kali ini dilakukan.  Sebab, sejak tahun 2017 lalu sudah ada program semacam itu, yakni pertukaran pelajar atau program magang para mahasiswa UPSI untuk belajar seni musik, tari dan kebudayaan ke Lombok.

“Dan dari situ, ketika potensi kerja sama beasiswa pendidikan tingkat Magister dan Doktoral di UPSI terbuka lebar dengan biaya kuliah yang murah, tapi berkualitas tinggi, kenapa tidak kita ambil peluang itu,” tegast Gubernur.

Potensi besar kerja sama bidang pendidikan itu juga disampaikan oleh Chancellor of UPSI, Prof. Dr. Dato’ M. Shatar bin Sabran saat memberikan sambutannya. Menurutnya, dengan jumlah penduduk Indonsia mencapai sebanyak 300 juta orang, maka hal itu menjadi potensi yang besar bagi mahassiswa NTB melanjutkan pendidikannya ke negara Malaysia.

Apalagi, saat ini, baru ada sekitar 6 ribu mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan progam Master dan Doktor di Malaysia. “Ini sebuah potensi dan kesempatan besar bagi UPSI untuk membuka pintu lebih lebar bagi para mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studinya ke Luar Negeri, termasuk mahasiswa NTB,” kata Dato’ Shatar.

Ia menuturkan, sesuai Amanat 2019 dari Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia untuk meningkatkan jumlah mahasiswa internasional yang belajar di UPSI. Maka, Indonesia dan Malaysia memiliki persamaan dari sisi agama, akar budaya dan etnis, sehingga mejadi salah satu faktor pendorong mudahnya interaksi antar mahasiswa dan proses pembelajaran serta pertukaran pengetahuan juga pengalaman.

“Pada tahun 2019, UPSI menempati peringkat 10 kampus terbaik, dari 118 kampus negeri dan swasta di Malaysia. UPSI sendiri memiliki program kuliah tingkat Sarjana, Magister dan Doktoral di bidang Seni dan Humaniora, Ilmu Sosial, Ekonomi dan Bisnis, Bahasa dan Kebudayaan, Teknik Informasi dan Komunikasi serta Sains dan Teknologi,” jelas Dato’ Shatar.

Ditempat sama, Dekan Fakultas Musik dan Seni Persembahan UPSI, Prof. Madya Zaharul Lailiddin bin Saidon menambahkan, jika biaya kuliah per semester untuk program Magister di UPSI setara dengan Rp 7,5 juta per semester atau sekitar Rp 30 juta. Pendidkan magister S2 di Malaysia sendiri ditempuh lebih kurang selama dua tahun.

Sementara, biaya hidup per bulannya setara dengan Rp 4 juta per bulannya. “Kuota beasiswa untuk mahasiswa NTB terbuka lebar untuk ditambah setiap saat, jika memang tercapai kesepakatan lanjut antar dua belah pihak, sehingga MoU itu menjadi jalan masuknya mahsiswa NTB untuk melanjutkan studi ke Malaysia,” tandas Prof. Madya Zaharul Lailiddin bin Saidon.

Hingga saat ini, Program Beasiswa 1000 Mahasiswa ke Luar Negeri NTB telah memberangkatkan 46 mahasiswa-mahasiswi ke tiga universitas ternama di Polandia. Diantaranya, Collegium Civitas, Vistula University dan University of Warsawa. Mahasiswa NTB ke Polandia terbagi dalam dua angkatan. Yaitu, sebanyak 19 mahasiswa angkatan pertama berangkat pada Oktober 2018 lalu, dan sebanyak 27 mahasiswa angkatan pertama yang berangkat pada 10 Februari 2019.

Selanjutnya, pada Oktober 2019, kembali akan dikirim para mahasiswa penerima beasiswa ke Warsawa School of Life Sciences dan sejumlah kampus lain di Polandia.  Berikutnya, pemprov NTB juga akan mengirimkan sebanyak 39 lulusan diploma tiga pendidikan keperawatan atau tenaga medis dari sembilan Kabupaten/ Kota di NTB untuk melanjutkan studi Strata S-1 ke Chodang University Korea Selatan.

“Begitu pula beasiswa untuk jenjang S1-S3 ke China, yang sedang dilakukan proses seleksi sejak awal Februari 2019,” tambah Gubernur Zulkieflimansyah. RUL.

 

Leave A Reply