Berbagi Berita Merangkai Cerita

Pringgabaya Jaga Rawat Khazanah Budaya

19

Adat Tetulak, andalan Khzanah Budaya Desa Pringgabaya (Foto : Dokumen Pemdes Pringgabaya).

SELONG, DS- Desa Pringgabaya, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), berkomitmen tinggi menjaga dan merawat kearifan lokal setempat. Produk kearifan lokal yang sangat dikenal seantero Lotim, bahkan bagi kalangan wisatawan adalah tradisi Tetulak (Tetulak Desa dan Tatulak Tamparan/Rebo Bontong).

“Tradisi kearifan lokal merupakan khazanah budaya setempat sebagai bagian dari khazanah budaya Nusantara yang harus dijaga dan dirawat,” kata Khairul Azmi, S.Ap., Sekdes Pringgabaya, Senin (6/9/2021). Menurutnya, pelaksanaan tradisi budaya lokal setempat difasilitasi oleh Pemdes, dengan melibatkan tokoh adat, tokoh agama dan partisipasi aktif masyarakat pada umumnya.

Sementara itu, seorang tokoh adat Desa Pringgabaya, Lalu Muh.Basir, alias Mamiq Daniel menyampaikan terkait kearifan lokal tradisi Tetulak. Kata dia, Tetulak Desa yang diikuti Tetulak Jebak dilaksanakan pada bulan Muharram, sementara Tetulak Tamparan/Rebo Bontong dilaksanakan pada bulan Syafar.

“Alhamdulillah, setiap tanggal 1 Muharram kita laksanakan gawe adat Tetulak Desa. Setelah itu sampai dengan tanggal 10 Muharram dilanjutkan dengan Tetulak Jebak,” kata Mamiq Daniel. Menurut dia, Gawe Tetulak Desa disiapkan mulai dari sehari sebelum tanggal 1 Muharram, ditandai pembacaan takepan Tapel Adam ba’da Dzohor diiringi dengan pembuatan sesajian yang dirangkum dalam bentuk sonsonan lima, hingga jelang Subuh saat dibawanya sonsonan lima ke masjid. Sajian dalam sonsonan ilima itu pun dinikmati jama’ah bersama masyarakat di Masjid,” tutur Mamiq Daniel.

Menurutnya, gawe tradisi Tetulak difasilitasi oleh pemerintah desa dibantu dengan partisipasi masyarakat setempat. “Pada saat membawa Tetulak dalam bentuk sonsonan lima itu menuju masjid, kita berangkat dari kantor desa,” terangnya.

“Tetulak artinya kita kembali kepada yang Maha Kuasa yaitu Allah Swt. Kita senantiasa beriktiar dan berdo’a, setelah itu kita serahkan kepada Allah Swt. Sementara dalam pelaksanaannya, yang tersimpul dalam Sonsonan itu mengandungj nilai berserah diri kepada Allah, bersyukur, bersedaqah, dan berbagi kepada sesama,” imbuhnya.

Terkait dengan pelaksanaan Rebo Bontong/Tetulak Tamparan, Khairul Azmi menyebutkan moment pelaksanaannya pada akhir Syafar bertepatan dengjan hari Rabu. Kata dia, tinggal dua hari lagi masuk bullan Syafar. Dirinya pun menyarankan untuk menemui tokoh masyarakat/adat yang mengetahui banyak dan senantiasa berkecimpung dengjan pelaksanaan Tetulak Tamperan/Rebo Bontong.

“Kalau ingjin menggali informasi secara mendetail, silahkan temui Amaq Dian yang kebetulan juga bertempat tinggal di wilayah pesisir Dusun Ketapang, tempat dilakanakannya Ritual Rebo Bontong/Tetulak Tampran,” tutup Khairul Azmi (Kus).

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.