Berbagi Berita Merangkai Cerita

Prihatin Tempalan Stiker, SALAM akan Fasilitasi Reklame Publik di Mataram

44

MATARAM, DS – Mewujudkan Mataram sebagai kota yang bersih tak cukup sekadar mengelola masalah sampah. Maraknya tempelan stiker, pamflet reklame usaha di fasilitas publik juga mengurangi estetika dan keindahan Kota ini.

Seorang pelaku wisata di Cakranegara, Gunanta, termasuk salah satu yang mengeluhkan maraknya aksi tempel menempel iklan, mulai dari iklan laundry, butuh dana segar hingga iklan sedot dan kuras WC.

“Coba lihat banyak sekali tempelan2 iklan ini di tiang listrik, bahkan di box gardu PLN. Ini kan tidak diperhatikan, padahal membuat kesan kumuh,” katanya.

Menurutnya, ia sudah pernah mencoba menghubungi pihak pemasang iklan yang nomor kontaknya tertera. Namun saat diingatkan agar jangan menempel sembarangan, si pemasang iklan justru menanggapi santai tanpa beban.

“Artinya memang belum ada kesadaran untuk sama2 memelihara keindahan Kota ini. Disinilah peran pemerintah harus hadir, walau untuk masalah kecil seperti ini,” tukasnya.

Ia berharap ada perhatian serius dari pemerintah. Sebab kebersihan dan keindahan Kota tak melulu soal penanganan sampah, tetapi juga kesadaran bersama untuk merawat dan menjaga kebersihan fasilitas publik.

Keluhan Gunanta mewakili masyarakat Mataram. Tempelan iklan dengan kertas fotokopian seperti itu lazim dijumpai di Kota Mataram. Di beberapa perempatan, tiang lampu setopan juga menjadi sasaran.

Di beberapa lokasi, tembok pagar perumahan juga menjadi media yang subur bagi tempelan iklan iklan.

Masalah ini juga menjadi perhatian Calon Wali Kota Mataram, Hj Putu Selly Andayani.

Menurut Selly, perlu ada upaya bersama membangun kesadaran kolektif warga Kota untuk sama2 menjaga keindahan Kota ini.

“Tempel menempel iklan itu memang identik dengan perkembangan Kota, seperti juga di beberapa kota lainnya di indonesia. Namun hal ini jangan sampai terus terjadi, harus ada upaya bersama karena ini masalah mengubah mindset,” kata Selly Andayani, Rabu ( 10/11 ).

Selly tak langsung menyalahkan para pemasang iklan. Apalagi dari iklan2 yang ada merupakan iklan dan promosi usaha yang tergolong UMKM.

Ia menilai, para pelaku UMKM ini butuh media promosi usahanya. Hanya saja, karena keterbatasan mereka kemudian menempel di mana saja.

Selain itu, belum adanya space khusus untuk iklan dan reklame di Kota Mataram yang disediakan gratis. Sehingga hanya usaha2 besar yang mampu memanfaatkan space iklan yang ada, sementara UMKM masih terkendala.

Selly menegaskan, ke depan SALAM akan menyediakan space reklame untuk masyarakat Kota Mataram. Hal itu untuk memberi ruang dan wadah bagi pelaku UMKM mempromosikan produk dan jasanya.

“Diharapkan space gratis ini bisa mengurangi aksi tempel2 sekaligus membangun edukasi dan kesadaran bersama,” imbuhnya.

Space reklame bisa dibuat di ruang ruang publik, seperti Taman Udayana atau Sangkareang. Pemasang iklan dan masyarakat konsumen bisa berinteraksi juga disana.

“Misalnya ada usaha yang butuh tenaga kerja, iklannya bisa ditempel di space yang tersedia. Pencari kerja juga bisa lihat langsung. Atau produk dan jasa bisa memanfaatkan space itu,” ujarnya.

Menurut Selly merubah mindset memang tak bisa seketika. Penyediaan space tersebut juga akan dibarengi dengan program2 pelatihan dan pembinaan UMKM dalam hal promosi dan pemasaran digital.

Masalah kebersihan dan keindahan Kota menurut Selly, perlu dibangun bersama dengan partisipasi masyarakat. Perlu effort dan inovasi pemerintah bersama semua pihak, termasuk masyarakat Kota Mataram sendiri.

“Itu sebabnya kenapa SALAM terus turun menyerap aspirasi. Masalah2 sekecil apapun harus didengar dan dicarikan solusi bersama,” pungkasnya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.