Selasa , 18 Juni 2019
Home / Politik / PALESTINA DAN ISRAEL, PANDANGAN DR.H.ALI BIN DACHLAN
Ali BD ketika berkunjung ke Palestina-Israel

PALESTINA DAN ISRAEL, PANDANGAN DR.H.ALI BIN DACHLAN

Israel, sebuah negara di Timur Tengah, berbatasan dengan Mesir, Yordanian, Lebanon dan Suriah. Negara ini telah menjadi topik pembicaraan yang paling ramai di seantero dunia, sejak 1948 hingga sekarang ini. Pada dasarnya berdirinya negara baru Israel di atas tanah Palestina yang sudah didiami, diolah dan dikembangkan oleh orang Palestina Arab lebih dari 1400 tahun lamanya, tidaklah layak diambil begitu saja oleh mereka yang menyebut dirinya berhak mengambilnya dengan dalih sebagai tanah yang dijanjikan.

Areal itu pada saat orang Israel dibawa oleh orang orang Inggris ke daerah jajahannya, sebenarnya adalah gambaran neo kolonialisme yang menjadi ciri dari sebagian besar bangsa-bangsa di Eropah. Ambillah contoh misalnya Indonesia dijajah oleh Belanda, India dijajah Inggris, Pilipina dijajah Spanyol, Timor-Timor dijajah oleh Portugis, dan hampir semua negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin menjadi daerah jajahan mereka. Misalnya hak milik orang Indian di Amerika, di Australia, sangat mudah diambil dan diakui sebagai wilayahnya melalui peperangan yang singkat.

Seandainya pemerintah Inggris tidak merasa berhutang budi pada orang Inggris keturunan Yahudi, maka negara Israel tidak akan pernah ada. Orang Yahudi yang terdapat di berbagai belahan dunia telah menjadi bagian dari warga negara dari negara-negara tersebut. Mencari asal usul manusia, lalu dikembalikan dengan cara kekerasan wajar menimbulkan masalah besar dan kekerasan baru. Balfour declaration, untuk memberi balas budi kepada orang Yahudi atas jasanya membantu dalam perang dunia II, sebenanrnya sungguh tidak masuk akal. Bukankah mereka pada saat itu juga sebagai warga negara Inggris?. Baiklah, semua hal itu sudah terjadi, dan negara Israel sudah ada. Jika kita bahas soal masa lalu Israel, sama saja kita terlibat dalam pikiran kreator kolonialismenya. Kita harus mulai melupakan masa lalu dan membicarakan masa kini dan masa yang akan datang termasuk pembahasan kita tentang orang Palestina dan Israel dimasa kini dan bagaimana untuk masa yang akan datang.
Walaupun isu Israel Palestina terus akan bergulir dalam panggung politik internasional, mungkin sebaiknya kita tak mempunyai harapan bagi penyelesaian tuntas masalahnya dalam waktu dekat ini. Dunia sekarang jauh lebih rumit dan kompleks dibandingkan dengan masa 70 tahun yang lalu. Dunia Arab yang dahulu bersatu padu atas nama etnis Arab bagi orang Palestina, kini telah terpecah belah dalam berbagai kepentingan domestik dan geo politik baru pasca perang dingin. Karena itulah saya mempunyai pikiran sendiri bagaimana seharusnya masalah Palestina dan Israel diselesaikan dengan sebaik baiknya menurut kondisi kekinian seperti yang saya sampaikan diatas.

Naskah ini tidak menguraikan masa lalu hubungan Palestina dan Israel, lebih lebih jika dikaitkan dengan sejarah pengusiran orang Israel oleh Nebukadnezar dari Babilonia, kemudian diambil alih oleh Persia, lalu berpindah majikan ke penjajahan Romawi, kembali ke Persia lagi lalu pada tahun 636, Umar Bin Hattab selaku khalifah menaklukkan Sam (Sirya), kemudian kepala pemerintahan Romawi di Yerusalem menyerahkan kota itu dalam kekuasaan Islam. Sejak itulah, orang Arab Palestina menjadi imam dan pemelihara Baitul Maqdis yang dihancur leburkan orang dari kerajaan Romawi. Karena itu perjalanan sejarah ini juga patut dipertimbangkan dalam membahas hubungan Palestina dan Israel dewasa ini. Misalnya bagaimana raja Persia yang menaklukkan Babilonia, mengirim kembali orang Israel dari tawanan dan perbudakan yang dilakukan oleh bangsa Babilona dimasa lalu. Bagaimana Umar Bin Khattab memberikan hak yang sama terhadap semua pemeluk agama yang ada di kota Yerusalem, setelah kota tersebut jatuh ketangan orang orang Islam yang mengusir tentara Romawi dari seluruh daratan Israel dimasa lalu.
Israel yang kulihat.

Selama tujuah hari dibulan April 2019 yang baru lalu, saya berkesempatan datang ke beberapa kota Israel. Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, karena itu permit yang diberikan untuk memasuki wilayah itu hanya secarik kertas kecil, dengan tidak menempelkan tulisan satu katapun didalam lembaran paspor. Melalui pertanyaan yang bertele tele sambil memperhatikan wajah saya, petugas imigrasi di perbatasan masuk Israel dari Yordania,barulah secarik kertas diberikan pada setiap orang Indonesia yang masuk negara Israel tersebut.

Israel menempatkan kantor imigrasinya, persis di perbatasan dengan negara Yordania, hanya beberapa meter dari jembatan pemisah antara negara Yordania dan Israel. Jembatan Raja Hasan yang membentang lebih dari tiga puluh meter diatas sungai Yordan yang airnya mulai keruh dan kotor.

Pemerintah Yordania sendiri menempatkan kantor imgrasinya sekitar dua kilometer dari perbatasan dengan Israel. Saya tidak tahu alasannya, apakah karena takut? Tapi jelas sekali penampilan dan kedisiplinan diantara kedua negara itu sangat berbeda. Israel meletakkan petugas imigrasi dan tentaranya di border lansung, sementara Yordania bersembunyi di tempat yang lebih teduh dan sepi.

Israel dewasa ini negara yang sangat kuat secara militer, khususnya dikawasan Timur Tengah dan lebih khusus lagi jika dikaitkan dengan negara tetangganya,seperti Suriah, Yordania, Mesir dan Libanon. Dalam perjalanan sejarahnya Israel sejak berdiri ditahun 1947, beberapa kali diserang oleh persekutuan negara negara Arab. Secara umum semua perlawanan dengan mudah dapat dipatahkan. Satu peristiwa perang yang sangat memalukan negara negara Arab adalah perang tahun 1967, perang yang berlangsung hanya satu minggu berakhir dengan pendudukan semenanjung Sinai kepunyaan Mesir dan dataran Tinggi Golan, milik Suriah.

Kekalahan Mesir oleh Israel yang sangat memalukan itu, memaksa negara itu harus berbuat baik dan bersahabat dengan Israel agar Wilayah Sinai yang direbut oleh Israel dapat dikembalikan kepada Mesir, melalui perjanjian Camp David, dengan bantuan presiden AS Jimmy Carter pada tahun 1978, dimana presiden Mesir Anwar Sadat dan perdana menteri Israel Menachem Begin menanda tangani perjanjian. Anwar Sadat akhirnya tewas ditembak oleh salah seorang tentara Mesir, tentu saja mereka yang menentang perjanjian tersebut.

Kedua negara tersebut terpaksa duduk bersama, demi wilayahnya yang dicaplok Israel dalam perang selama seminggu di tahun 1967 yang lalu. Model negosiasi ini sejak awal menunjukkan negara negara Arab berada diposisi yang lebih lemah dibandingkan dengan Israel. Tentu saja peranan negara sponsor seperti Inggris menyuplai informasi intlijen tidak dapat diabaikan.

Mesir yang dianggap sebagai acuan negara Arab di Timur Tengah, yang dipandang paling hebat dan berpengaruh diantara negara negara Arab yang lain terlihat begitu terpuruk dalam perang selama seminggu pada tahun 1967. Mesir juga terpaksa membina hubungan yang baik dengan Israel melalui hubungan diplomatik, ketika negara Arab lainnya terus menyuarakan permusuhan dengan Israel. Jika demikian, maka terdapat berbagai masalah yang terjadi dalam hubungannya dengan sesama negara Arab, lebih lebih jika dikaitkan dengan hubungannya dengan Israel berkaitan dengan oang Palestina Arab yang masih dirundung permasalahan.

Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Dua wilayah yang secara umum oleh dunia internasional dianggap sebagai daerah yang secara de facto didiami oleh orang Palestina adalah bagian kecil dari keseluruhan tanah Palestina dimasa lalu, yang tersisa dari bagian Wilayah Israel dewasa ini, yang luasnya mencapai 20.700 km persegi termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza. Selain itu ada juga wilayah yang diduduki sejak perang Yom Kippur pada tahun 1973, lebih dari lima puluh tahun yang silam.

Jalur Gaza, adalah wilayah sempit yang terletak di perbatasan Sinai di Barat dan perbatasan Israel dibagian Selatan serta berbatasan dengan bagian dari Laut Meditrania di sebelah Utara. Wilayah ini rata rata lebarnya antara 7-12 km dan panjangnya tidak lebih dari 45 km persegi. Jika kita ambil contoh di Lombok Timur adalah sepanjang pantai Labuan Haji sampai pantai Sugian di Sambalia dengan lebar antara 7 sampai 12 km saja. Bentuknya memanjang dengan perbatasan laut yang dikontrol secara ketat oleh tentara Israel.

Walaupun wilayahnya sangat sempit, tetapi penduduknya padat, akibat banyaknya pengungsi yang berkumpul setelah terusir dari wilayah yang diduduki Israel. Hanya di wilayah sempit ini saja orang Palestina merasa seperti mempertahankan wilayah tanah airnya yang tersisa, walaupun mereka tetap dalam kesulitan yang luar biasa.
Yang dimaksud dengan Tepi Barat, adalah daerah Palestina yang berbatasan langsung dengan Yordania dengan sungai Yordan sebagai batas alam yang diakui oleh Yordania maupun oleh Palestina. Dalam wilayah Tepi Barat inilah terdapat kota kota penting yang dahulu dikuasai Palestina, seperti Yerusalem, Ramalah, Jerico dan Hebron. Tepi Barat adalah Wilayah Palestina simbolik, dimana terdapat pemerintahan Palestina dibawah PLO.

Saya menggunakan istilah “Palestina Simbolik”, karena pada dasarnya di Wilayah Tepi Barat praktis sepenuhnya dikontrol oleh Israel. Memang ada beberapa wilayah otorita Palestina seperti Jerico atau Hebron, akan tetapi kontrol keamanannya dibawah tentara dan polisi Israel, demikian pula dengan kompleks menjidil Aqsha di Yerusalem. Mengunjungi Makam Nabi Ibrahim di Hebron, haruslah melalui body detektor tentara Israel.

Wilayah “Tepi Barat”, termasuk Yerusalem Timur, mempunyai luas tanah 5.640 km2 dan luas perairan 220 km2, yaitu bagian barat laut dari Laut Mati. Dihuni sekitar 2.622.544 penduduk (Juni 2012). Lebih dari 80 persen, sekitar 2.100.000 orang, adalah keturunan Arab Palestina, dan kira-kira 500.000 orang adalah keturunan Yahudi Israel yang tinggal di Tepi Barat.

Memang beberapa wilayah Palestina di Tepi Barat dijaga oleh semacam hansip atau satpam Palestina, tetapi hal tersebut tidak terlalu efektif karena seluruh keamanan diwilayah Tepi Barat dapat dikontrol Israel secara tidak langsung. Hansip atau satpam hanya dilengkapi dengan pentungan kayu saja. Kehidupan ekonomi petugas Palestina sangat tergantung dari bantuan negara Islam dan lembaga kemanusian internasional. Mengharapkan pajak dari warga Palestina tampaknya sangat sulit, karena ekonominya tidak berkembang dengan normal.

Di Hebron banyak anak-anak menjadi pengermis, setelah orang tua mereka terpaksa meninggalkan rumah dan toko tempat mereka mencari penghidupan. Pemukiman baru warga Israel yang dibuka di daerah Tepi Barat mempersempit tanah pertanian warga Palestina. Demikian pula areal yang sangat subur di lembah Yordan yang dahulu dikuasai oleh orang Palestina, kini lebih banyak dikuasai oleh petani Israel.

Keberhasilan dan wajah pertanian Paestina dan orang Israel tampak perbedaan dengan jelas terutama teknologi pertanian. Pasar hasil pertanian juga dikuasai oleh pengusaha Israel. Kibuts, semacam koperasi pertanian Israel, meninggalkan jauh di belakang pertanian warga Palestina. Memang masih ada kehidupan ekonomi berupa perdagangan dan pertanian, tetapi mereka meragukan keberlanjutannya, jika melihat parktik Israel di Tepi Barat.

Kesenjangan ekonomi warga Israel dan penduduk Palestina di Tepi Barat, akan semakin lebar jurangnya, mengingat Israel terus membuka pemukiman baru dengan kwalitas bangunannya yang jauh lebih baik dibandingkan bangunan lama warga Palestina. Mereka memperoleh pelayanan sosial yang lebih baik. Demikian pula setiap pemukiman baru yang dibuat Israel disusul dengan sistem pengamanan yang sangat ketat guna melindungi warga Israel di Tepi Barat untuk menghindari dari bentrokan yang tak diinginkan.

Dengan keadaan seperti itu, sesungguhnya warga Israel di Tepi Barat hidup lebih aman jika dibanding warga atau penduduk lama di sana. Warga Palestina di Tepi Barat sungguh tertekan, penuh ketidakpastian dan mengalami berbagai diskriminasi terutama dibidang sosial. Sementara pemerintah Israel terus menambah pemukiman baru bagi warga negaranya, memperbanyak populasi dan kontrol terhadap Tepi Barat. Jika Benjamin Netannyahu memenangkan pemilu tahun ini (2019), Tepi Barat akan dicaplok secara keseluruhan, menjajanjikan aneksasi Tepi Barat, padahal hakekekatnya Tepi Barat sudah dicaplok secara politik dan ekonomi.

Pembangunan tembok tinggi sepanjang 700 km,yang membatasi Tepi Barat dan Isreal (1947), adalah untuk melindungi rakyat Israel dari kemungkinan serangan dari pihak Palestina. Jika demikian, mengapa pemerintah Israel terus menambah penduduknya di wilayah Tepi Barat dan memperbanyak aparat keamanannya di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur? Ini adalah strategi jangka panjang Israel untuk menjamin keamanan negaranya dengan terlebih dahulu memperbanyak pemukiman warga Israel sebagai penyeimbang, bahkan seandainya di masa depan negara Palestina yang diimpikan itu dapat terwujud sudah tentu peta wilayah dan penduduknya sudah tidak seperti dahulu lagi.

Dalam pandangan orang Yahudi ortodok, semua Wilayah Israel sekarang dan negara tetangganya, Yordania apalagi Tepi Barat adalah Tanah Kanaan yang dijanjikan untuk Bani Israel anak cucu nabi Ibrahim. Pandangan religius orang Israel ini menjadi spirit bagi mereka untuk mempertahankan wilayahnya sebagai sesuatu yang harus diperjuangkannya secara sungguh-sungguh. Sedangkan perjuangan rakyat Palestina tidak sedalam pandangan orang Yahudi Israel. Orang Palestina, tentu saja sudah tinggal lebih dari 1400 tahun, pantaskah tanahnya direbut orang lain?
Pandangan dunia dan negara-negara Islam

Sebagian besar negara negara di dunia telah mengakui eksistensi negara Israel dan mengakui hak hak rakyat Palestina termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza. Sebagian besar negara negara Islam tidak mengakui hak Israel atas Tanah Palestina dan hanya mengakui hak rakyat Palestina di wilayah itu. Negara negara Islam Arab sesungguhnya terbagi dalam dua kelompok, pertama yang secara eksplisit mengakui kedaulatan Israel seperti Mesir, Turki dan Yordania. Kelompok kedua adalah negara yang sama sekali tidak mengakui Israel, seperti Iran dan beberapa negara Arab lainnya. Selama lebih dari 70 tahun, banyak negara-negara Islam yang sejak semula tidak mengakui Israel, dewasa ini mulai berpandangan pragmatis, ekonomis dan bersikap lebih moderat, seperti Arab Saudi dan sekutunya.

Situasi ini tentu saja sangat menguntungkan negara Israel dan negara-negara yang mengubah haluan politiknya terhadap Israel, lebih banyak memperoleh rasa aman dari sejumlah konflik di kawasan Timur Tengah, seperti Yordania, Mesir dan Arab Saudi. Hal ini dapat dipahami karena posisi Israel, walau wilayahnya sempit tetapi keunggulan militernya tidak tertandingi oleh semua negara Arab di Timur Tengah. Pandangan ini tidak bersifat spekulasi karena negara-negara Arab telah mengalaminya, dalam beberapa kali berperang melawan Israel. Dalam bahasa Sasaknya disebut sudah”jerih”

Dalam hubungan ini, Indonesia sejak dahulu hingga kini tetap digaris paling depan memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina. Indonesia yang berpenduduk Muslim paling besar, seakan mencerminkan sikap Islam terhadap negara Israel. Padahal menurut pandangan saya, masalah negara Israel tidak punya hubungan langsung dengan agama, melainkan hubungan politik semata.

Di Israel, sejumlah orang Arab memilih menjadi warga Israel, dimana hak-hak mereka dijamin termasuk hak mendirikan partai Arab Israel. Memang pandangan Indonesia memperjuangkan warga Palestina sudah sesuai dengan konstitusi kita yang menentang penjajahan dalam segala bentuknya di muka bumi ini. Politik luar negeri kita adalah bebas dan aktif, Jika tidak untuk kepentingan domestik saya kira pemerintah Indonesia juga akan mengikuti langkah dari negara negara Arab yang telah menjalin hubungan dengan negara Israel. Yang saya maksud dengan kepentingan domestik adalah mengamankan diri dari opini umat Islam Indonesia yang memahami Israel sebagai penjajah baru di tanah Palestina.

Dataran Tinggi Golan.
Hingga sekarang Dataran Tinggi Golan yang dahulu adalah bagian wilayah dari Suriah, tetap dikuasai oleh Israel. Jika Tepi Barat dihuni oleh penduduk Palestina sejak ribuah tahun yang lalu, di Golan hampir tidak ada penduduknya ketika dikuasai oleh Israel dalam perang 1967. kecuali suku Druse yang menjadi penduduk asli wilayah tersebut. Orang Druse, tidak peduli apakah wilayahnya diperintah oleh Israel maupun Suriah, yang penting mereka aman dan adat istiadatnya tidak terganggu. Penguasaan Dataran Tinggi Golan, juga sama perlakuannya dengan Tepi Barat, yakni menempatkan lebih banyak petani Israel untuk mengekploitasinya dengan pertanian yang sangat maju. Areal beberapa puluh kilometer disebelah danau Galilea, yang dahulu menjadi perbatasan Dataran Tinggi Golan dengan Israel, sekarang menjadi daerah pertanian yang sangat maju.

Di Sepanjang tepi Timur jalan penghubung Tiberias dan Dataran Tinggi Golan, ditanami pisang, jeruk, mangga, padi, jagung dan sayur mayur yang sangat berkwalitas. Penguasaan Dataran Tinggi Golan oleh Israel sangat menguntungkan baik dari segi ekonomi maupun militer. Dataran ini sangat makmur untuk pertanian, ada beberapa sungai yang bermuara di Danau Galilea. Israel pasti akan mempertahankan wilayah ini, terlepas dari ada atau tidak ada pengakuan Donald Trump terhadap wilayah ini walau ditentang oleh seluruh negara Arab dan sebagian negara lain di dunia ini, karena aneksasi tersebut bersifat sepihak.

Jika sekiranya skenario Israel mengembalikan semenanjung Sinai ke tangan Mesir sebagai akibat perang Arab Israel tahun l967, dengan bayaran yang mahal berupa hubungan baik dan pengakuan Mesir terhadap Israel diterapkan untuk Dataran Tinggi Golan, apakah Israel dan Suriah akan dapat menerimanya? Mungkin agak berbeda, karena Dataran Tinggi Golan sangat strategis untuk pertahanan dan sangat subur untuk daerah pertanian.

Sebenarnya masalah Dataran Tinggi Golan dan Tepi Barat memiliki persamaan dalam rangka memperkuat posisi negara Israel dalam jangka panjang, dengan mengelola waktu, dalam jaman yang berubah semakin pragmati seperti terlihat pada sikap negara negara Arab dewasa ini. Israel telah memasukkan Dataran Tinggi Golan sebagai bagian integral dari wilayah negara itu. Israel lebih percaya diri lagi setelah presiden Amerika Serikat memberi dukungan penuh atas klaim tersebut. Posisi negara Arab khususnya menjadi lebih sulit dan rumit.

Prospek penyelesaian komplik Palestina dan Israel.
Memang semua pihak menghendaki penyelesaian menyeluruh masalah hubungan antara Palestina dan Israel. Walaupun Israel secara resmi memindahkan ibukotanya ke Yerusalem dan sejumlah negara mengikuti jejak Amerika Serikat memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem, gaung protes dari negara tetangga Arab tidak sekencang dimasa lalu lagi. Mungkin mereka menganggap protes tersebut sia-sia saja, karena Amerika Serikat berada dibelakang Israel. Sementara disisi lain, kebanyakan negara Arab yang utama memiliki hubungan simbiosis mutualistik dengan Amerika Serikat, dengan isu kekuatan militer Iran yang bertetangga dengan Arab Saudi dan negara Teluk lainnya yang kaya minyak dan gas bumi itu.

Negara-negara Arab sangat sulit memprotes Israel mengenai cara aparat keamanan menangani protes yang dilakukan warga Palestina terhadap pelanggaran hak asasi dan pemukiman baru Israel di Tepi Barat, karena sesungguhnya negara-negara Arab juga memiliki catatan buruk tentang hak asasi manusia. Selain itu juga banyak negara Arab sibuk memerangi sesama Arabnya yang berkaitan dengan sektarianisme seperti di Yaman maupun di Suriah. Keadaan ini juga tentu situasi yang dirancang secara masif oleh pihak ketiga, untuk menjaga kepentingan pertahanan dan perdagangan khususnya perdagangan senjata. Pada akhirnya wilayah Timur Tengah menjadi gudang senjata terbesar di tengah harapan perdamain yang didambakan seakan menjadi utopia belaka.
Pada saat seperti ini sesungguhnya tak tampak dengan jelas ujung penyelesaian masalah Palestina dan Israel. Jika terdengar suara seakan membela Palestina hanyalah retorika sebagai konsumsi politik dalam negeri belaka. Sebenarnya nasib bangsa Palestina ada di tangan rakyat Palestina sendiri. Jangan mengharap terlalu besar pada negara lain termasuk negara-negara Arab yang menjadi tetangga Palestina. Untuk itu, walau terasa berat, tetapi mulailah para pemimpin Palestina bersatu, antara Hamas dan PLO dan faksi lain di dalam maupun di wilayah Palestina yang masih didiami dewasa ini.

1. Palestina dapat berdialog langsung dengan pemerintah Israel dalam kesetaraan membahas konsep dua negara yang bertetangga, Israel dan Palestina. Jika Palestina sudah memproklamasikan negara Palestina oleh Yser Arafat beberapa puluh tahun lalu maka bangunlah Palestina dengan sebaik-baiknya, jujur, tulus dan ikhlas.

2. Jika Palestina memutuskan mengakui Israel sebagai satu-satunya pemerintahan di wilayah tersebut, dengan Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai daerah otonomi khusus dan Israel menyetujuinya, hendaklah ditetapkan dalam UUD Israel.

3. Jika Israel sepakat dua negara Israel-Palestina, hendaklah kedua negara tersebut menjalin hubungan yang istimewa, tidak ikut melibatkan diri pada konflik kawasan dan kepentingan diantara kekuatan politik internasional. Kedua negara akan saling isi mengisi untuk kemajuan pembangunan kedua bangsa tersebut.

4. Pemimpin Palestina, agar mendorong orang Palestina yang sebelumnya berada dalam wilayah negara Israel agar segera menjadi warga negara Israel untuk memperbesar anggauta partai orang Arab Israel di Kneset, agar mereka dapat memperjuangkan nasib orang Palestina secara konstitusional. Kelompok ini dimasa depan dapat menjadi kekuatan pendukung partai yang menghormati hak-hak Palestina di Israel, seperti Partai Buruh Israel. Para pemodal Arab juga dapat berpartisipasi dengan dananya untuk membantu partai oposisi Israel.

5. Lembaga lembaga internasional seperti UN tidak terlalu berpengaruh untuk penyelesaian masalah Palestina-Israel, karena adanya larangan bagi lembaga itu mencampuri urusan dalam negeri anggautanya, kecuali lembaga di dalamnya seperti lembaga UNESCO, FAO, WHO dan lain-lainnya. Demikian pula selama lembaga veto bagi lima negara besar dalam organisasi itu, sebaiknya jangan terlalu mengharap apapun dari UN itu.

Akhirnya saya mengutip Al-Quran Surat Al Isra, ayat 4-8 sebagai berikut” Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu ”kamu pasti membuat kerusakan di bumi ini dua kali dan kamu pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar(4). Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan yang pertama dari kedua (kejahatan) itu. Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana(5). Kemudian kami berikan giliran untuk bagimu untuk mengalahkan mereka. Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak dan Kami jadikan kamu menjadi kelompok yang lebih besar(6). Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka akibat perbuatan jahat itu untukmu. Apabila datang saat hukuman yang kedua, Kami bangkitkan musuhmu untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk kedalam masjid (masjidil Aqsa) sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai (7). Mudah-mudahan Tuhanmu melimpahkan rahmat kepadamu, tetapi jika kamu kembali melakukan kejahatan, niscaya kami kembali mengazabmu dan kami jadikan neraka jahanam bagi orang orang kafir(8).

Al Quran diturunkan kepada nabi Muhammad untuk orang yang beriman. Ceritra Bani Israel di masa lalu adalah peringatan bagi kita khususnya orang Islam agar jangan meniru kejahatan yang pernah dilakukan oleh Bani Israel. Mereka telah kembali ke tanah Kanaan, jika mereka baik Tuhan akan memberikan rahmat kepadanya, sepeti umat lain yang ada di bumi yang lain. Tetapi jika kita juga ummat Islam tidak berbuat baik, maka neraka jahanam tempat penjaranya.

Kisah Bani Israel untuk dijadikan pelajaran bagi ummat Islam, agar jangan kiranya meniru kesalahan Bani Israel dimasa lalu. Oleh karena itu kisah Bani Israel, jangan ditafsirkan sebagai orang Israel sekarang, lebih banyak sebagai ibarat atau hal hal yang bisa jadi sedang menimpa ummat Islam dewasa ini. Saya cendrung mengatakan bahwa pertikaian antara Palestina dan Israel sekarang bukan masalah agama melainkan merupakan masalah politik. Penyelesaian yang sepadan haruslah melalui jalur politik, bukan perang atau perang kata-kata yang mubazir dan sia-sia.
Mataram, l Syawal 1440 H.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Rampungkan Kronologi, KPU NTB Siap Hadapi Gugatan MK

MATARAM, DS – Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTB terus bersiap menghadapi gugatan perselisihan hasil pemilihan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: