Kamis , 21 November 2019
Home / Politik / Aksi Tolak Revisi UU KPK, 24 Mahasiswa dan 2 Warga Diamankan
Aksi Tolak Revisi UU KPK dilakukan ribuan mahasiswa yang mengepung Kantor DPRD NTB

Aksi Tolak Revisi UU KPK, 24 Mahasiswa dan 2 Warga Diamankan

MATARAM, DS – Ribuan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Pulau Lombok, Senin (30/9), menggelar unjuk rasa di gedung DPRD Provinsi NTB  menolak Revisi Undang Undang KPK dan RUU KUHP ditandai aksi saling dorong dengan aparat kepolisian.

Ribuan mahasiswa mulai bergerak sekitar pukul 10.00 WITA langsung menuju gedung DPRD Provinsi NTB di kawasan Jalan Udayana, Kota Mataram. Aksi ini dikawal ratusan aparat keamanan.

Jika aksi demo Aliansi Rakyat NTB Menggugat sebelumnya berlangsung ricuh lantaran adanya aksi saling lempar botol minuman mineral,  rusaknya pagar Gedung DPRD setempat hingga adanya tembakan gas air mata sebanyak tiga kali, pada aksi kali ini terlihat sebanyak 5.000 orang mahasiswa cenderung berjalan lebih tertib. Perwakilan mahasiswa sedari awal menjamin jika ada lemparan botol.

Ketua Sementara DPRD Provinsi NTB, Hj Baiq Isvie Rupaedah, bersama Wakil Ketua Sementara DPRD, Ridwan Hidayat dan unsur pimpinan fraksi DPRD setempat datang menemui mahasiswa bersama Kapolda NTB Irjen Pol Nana Sudjana serta Danrem 162/WB Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani pada sekitar pukul 11. 30 WITA.

Isvie mengatakan pihaknya siap menerima aspirasi mahasiswa. Bahkan, pihak DPRD akan mengirimkan aspirasi dan tuntutan mahasiswa kepada Pemerintah Pusat. “Ini sudah jadi komitmen kita bersama seluruh pimpinan fraksi agar meneruskan aspirasi adik-adik. Makanya, kami datang ke tengah-tengah anda semuanya untuk mendengarkan aspirasi itu,” kata dia.

Pihaknya siap menerima mahasiswa untuk berdialog di Kantor DPRD NTB. Hanya saja, tidak semuanya, namun perwakilan  kelompok mahasiswa. “Kalau semuanya, bagaimana bisa nampung ruangan kita,” ucap Politisi Golkar itu.

Menjawab pernyataan itu, Presiden Mahasiswa BEM Unram, Muhamad Amri Akbar, menyesalkan ketua dan anggota DPRD NTB yang tidak berani bersikap terkait Revisi Undang Undang KPK dan RUU KUHP itu. Padahal, sudah jelas UU KPK itu tidak masuk dalam Prolegnas DPR RI tahun 2019. “Karena Bu Ketua DPRD tidak berani bersikap, maka  jangan salahkan kami jika akan terus menggedor dan menduduki kantor DPRD NTB,” tegas Muhamad Amri Akbar.

Ada delapan poin yang menjadi tuntutan mahasiswa. Diantaranya menolak Revisi UU KPK dan KHUP dan meminta pimpinan DPRD NTB menyatakan sikap menolak RUU tersebut.

Sementara itu, Kapolda NTB, Irjen Pol Nana Sudjana, mengatakan jumlah personil yang diturunkan pihaknya untuk mengawal aksi mahasiswa jilid dua kali ini berjumlah sekitar 850 orang dari unsur kepolisian, serta sebanyak 110 orang dari unsur TNI.

“Belajar dari pelaksanaan aksi demo sebelumnya, kita akan mengupayakan pendekatan humanis, tidak menggunakan senjata. Salah satunya peluru karet,” ujar Kapolda.

Terkait adanya kawanan anjing yang berada di sekitar Kantor DPRD NTB, menurut Nana, hal itu merupakan bagian antisipasi dan protap dalam pengamanan unjuk rasa.

“Insya Allah, evaluasi dari kegiatan aksi sebelumnya, benar-benar kita jaga bahwasanya pendekatakan adalah humanis. Sehingga, terus kita sampaikan informasi berulang-ulang pada pengunjuk rasa,” kata Kapolda.

Menyinggung adanya anak SMU yang ikut pada aksi ribuan mahasiswa kali ini, Kapolda mengaku telah mengimbau secara maksimal ke seluruh kepala sekolah, termasuk para rektor agar tidak mengizinkan siswa dan mahasiswa turut serta pada aksi.

“Kalau ada dosen yang ikut, itu hanya satu dan dua orang saja. Kami menyayangkan sebenarnya, karena imbauan kita tidak pula diindahkan. Tapi, enggak apa-apa, yang penting kami siap mengamankan dan mengawal jalannya penyampaian pendapat dengan tertib serta sesuai protap,” tandas Irjen Pol Nana Sudjana.

Pantauan wartawan sekira pukul 17.00 WITA, ribuan mahasiswa masih bertahan di depan kantor DPRD NTB. Bahkan, aksi saling dorong terjadi namun tidak  pada taraf pengerusakan dan mengarah pada anarkisme. Meski demikian, aparat kepolisan terpaksa menyemprotkan air melalui mobil water canon karena massa aksi memaksa masuk ke kantor DPRD NTB.

24 Mahasiswa Diamankan

Hingga pukul 18.00 Wita sebagai batas aksi melakukan unjuk rasa namun ada sekitar 250 orang mahasiswa yang  bertahan. Padahal, mereka telah di imbau secara humanis namun tetap memilih bertahan. Parahnya, mereka melakukan pelemparan pada aparat keamanan.  Dimana, ada sekitar lima orang aparat kepolisian yang terkena lemparan serta satu orang dari pihak TNI.

“Sehingga, kita amankan sebanyak 26 orang pelaku yang tidak saja diduga provokator namun mereka juga melakukan pelemparan pada aparat keamanan,” kata Kapolda NTB Irjen Pol Nana Sudjana menjawab wartawan, Senin (30/9) sekitar pukul 21.00 Wita.

Menurut Kapolda, sebanyak 26 orang pelaku perusuhan yang diamankan itu terdiri dari sebanyak 24 orang berasal dari mahasiswa dan sebanyak 2 orang merupakan warga biasa.

“Mereka akan kita bawa ke Kantor Polda NTB untuk kita minta keterangannya lebih lanjut. Yang pasti kami punya bukti rekaman dan foto jika sebanyak 26 orang itu melakukan pelemparan pada petugas kami yang bertugas sedari awal,” tandas Irjen Pol Nana Sudjana.

 

Hingga berita ini diturunkan aparat kepolisian dan TNI masih melakukan penjagaan di Gedung DPRD NTB. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Bapemperda DPRD NTB Sampaikan Penjelasan Empat Raperda Inisiatif di Sidang Paripurna

MATARAM, DS – Badan Pembentukan Perda (Bapemperda) DPRD NTB menyampaikan penjelasan empat raperda inisiatif dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: