Berbagi Berita Merangkai Cerita

PMI Purna di Kumbi Sukses Hasilkan Produk “Kopi Kumbi”

52

FOTO. Kadisnakertrans NTB GP Aryadi saat meninjau sentra produksi Kopi Kumbi di Dusun Kumbi yang dihasilkan oleh PMI Purna. (FOTO. RUL,/DS).

MATARAM, DS – Tenaga kerja atau PMI yang berangkat sesuai prosedur, banyak yang sukses, baik di luar negeri maupun dalam negeri. Tercatat, banyak diantara mantan PMI atau yang dikenal sebagai PMI Purna, setelah pulang, mereka sukses menjadi wirausaha mandiri.

“Inilah yang harus dicontoh,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB I Gede Putu Aryadi, dihadapan PMI Purna dari Arab Saudi, Malaysia, Brunei Darussalam, saat membuka Kegiatan Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna Penempatan Paket I dan II Tahun Anggaran 2021 Disnakertrans NTB di Aula LTSA, Kamis (26/8). Kegiatan berlangsung selama dua hari, yakni Rabu (25/8) dan Kamis (26/8).

Menurut dia, salah satu contoh PMI Purna yang berhasil menjadi wirausaha mandiri adalah kelompok PMI Purna yang berasal Dusun Kumbi. Dusun Kumbi sendiri adalah salah satu dusun kantong PMI di Desa Pakuan, Kecamatan Narmada.

“PMI purna yang berasal dari Dusun Kumbi merupakan PMI yang pernah bekerja di negara Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, Singapore dan Arab Saudi. Kelompok wirausaha mandiri ini mengolah potensi alam yang ada daerah tersebut,” jelas Gede.

Seperti diketahui, Dusun Kumbi memiliki lahan pertanian yang subur, sehingga menghasilkan kopi, pisang, talas, durian, manggis dan nangka dengan kualitas yang baik.

Gede menuturkan, sejak tahun 2019, PMI purna di wilayah setempat terdiri dari laki-laki sebanyak 20 orang. Mereka, mengelola areal seluas 20 hektar untuk ditanami kebun kopi. Mereka melahirkan merk “Kopi Kumbi”.

“Kopi kumbi tersebut bahkan, menjadi salah satu UMKM yang akan mensuplai kebutuhan di KEK Mandalika,” ucap mantan Irbansus pada Inspektorat NTB itu.

Ia menjelaskan, selain adanya kelompok PMI Purna yang mengelola Kopi Kumbi di Dusun Kumbi, di Desa Pakuan juga memiliki KWT Bile Maju berisi PMI Purna perempuan yang pernah bekerja di negara Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Singapura Qatar, Abu Dhabi dan Taiwan.

KWT ini, lanjut dia, membuat olahan keripik dari singkong, talas dan pisang. Hanya saja, kelompok ini meminta kepada pihaknya untuk bisa diberikan pelatihan skill untuk industri pengolahan hasil pertanian.

Harapannya, komoditi pertanian yang melimpah di desanya, bisa dipasarkan dalam bentuk produk olahan yang bernilai ekonomi tinggi.

“Jadi, PMI Purna memiliki tiga modal utama untuk menjadi wirausaha mandiri yang sukses. Yakni, modal itu adalah pengalaman, modal dan jaringan. Orang yang pernah bekerja diluar negeri dengan pahit getirnya kehidupan disana pasti memiliki etos kerja tinggi dibandingkan dengan orang yang bekerja di negeri sendiri,” tegas Gede.

Ia mengungkapkan, pengalaman bekerja di luar negeri harus menjadi spirit untuk menjadi manusia yang lebih baik. Apalagi Desa Pakuan memiliki potensi alam yang bagus, ujarnya

“Pengalaman bekerja di luar negeri mengajarkan anda pintar berinteraksi dengan orang-orang dengan latar belakang pendidikan, bahasa dan asal negara yang berbeda-beda. Pengalaman itu bisa diaplikasikan ketika membangun usaha dan bisa menjadi pegangan dalam upaya mengembangkan potensi yang ada di daerah,” ungkapnya.

Mantan Kadis Kominfotik NTB itu, berharap PMI Purna bisa menjadi figur teladan dalam menciptakan usaha-usaha produktif yang ada di daerah sekitar.

Terlebih, kata dia, provinsi NTB memiliki potensi yang besar dalam sektor pertanian, salah satunya adalah kopi.

“Kopi asal NTB sangat diminati oleh negara lain, seperti negara Timur tengah, Inggris dan Amerika Serikat. Prospek kopi bagus namun masih terkendala belum adanya seritifikat quality control,” tuturnya.

Ia menambahkan, adanya pagelaran event international dapat dijadikan ajang untuk mengenalkan kopi dan kuliner khas NTB, seperti keripik dari hasil bumi kepada para wisatawan.

“Kopi membutuhkan sertifikat mutu agar bisa di ekspor, sedangkan produk-produk khas perlu dikemas dengan baik dan menarik konsumen,” terang dia.

Mengakhiri sambutannya, Gede mengingatkan peserta untuk menjadi PMI yang legal. “Kalau ke luar negeri mohon diikuti prosedur yang ada, hal ini penting karena PMI yang bekerja melalui jalur resmi jika mengalami hal-hal yang tidak baik seperti tidak digaji, mengalami perlakuan tidak terpuji, maka pemerintah bisa membantu menyelesaikan masalah tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dusun Kumbi, Saringgih yang merupakan PMI Purna yang pernah bekerja Brunei Darussalam, mengatakan bekerja di luar negeri tidak seindah yang terlihat.

Menurutnya lebih baik mengolah potensi alam yang ada di daerah sekitar dibandingkan bekerja di luar negeri.

Ia menuturkan, saat ini kelompoknya akan terus meningkatkan jumlah produksi serta memperbaiki kemasan agar masuk ke pasar ekspor.

“Kopi Kumbi dan olahan keripik akan mensuplai kebutuhan kuliner pada event internasional di KEK Mandalika,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Penempatan dan Perluasan Kerja, Muhairi Isnaeni, melaporkan kegiatan ini bertujuan agar peserta bisa menata usahanya dengan baik sehingga dapat menciptakan tenaga kerja baru bagi masyarakat disekitarnya.

“Kegiatan ini akan dilaksanakan sebanyak dua paket dengan total peserta sebanyak 40 orang,” tandasnya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.