Pj Sekda Paparkan Kekerasan Seksual di Lotim, Ini Angkanya

Pj Sekda Lotim pada Talkshow BEM UGR bertajuk "Lotim Darurat Kekerasan Seksual"

Selong,DS-Pj Sekda Lotim, H. Hasni, memaparkan kekerasan seksual di Lotim yang cukup marak. Tahun 2022 mencapai 39 kasus melibatkan anak dan 4 kasus ada orang dewasa. Sedangkan tahun 2023 terdapat 28 kasus kekerasan seksual anak dan 6 kasus orang dewasa.

Memberikan sambutan pada Talkshow BEM UGR bertajuk “Lotim Darurat Kekerasan Seksual” yang berlangsung, Sabtu (27/1), Hasni yang mewakili Pj Bupati mengungkapkan kekerasan seksual sangat luas dampaknya secara fisik maupun psikis, baik bagi yang bersangkutan maupun keluarganya.

Menurutnya, penggunaan teknologi yang tidak tepat merupakan faktor terpenting sehingga banyak remaja terjerumus karena mudahnya mengakses situs dewasa.

“Bentuk kekerasan seksual bisa berupa komentar yang membuat orang lain tidak nyaman. Sedangkan dalam bentuk fisik seperti sentuhan pada bagian tubuh pribadi,” urai Hasni seraya menambahkan peran penting perguruan tinggi bersama stakeholders menangani hal ini.

Upaya pemerintah dalam menangani kekerasan seksual yakni menyiapkan regulasi mulai dari Perda, keputusan bupati dan Perdes. Perda nomor 2 tahun 2020 tentang Pengarusutamaan Gende, Peraturan Bupati tentang Pencegahan Perkawinan Usia Anak, dan lain-lain. Di Kabupaten Lombokj Timur bahkan seluruh desa sudah memiliki Perdes pencegahan perkawinan anak.

Dalam berbagai kasus yang terjadi, kat Hasni, pemerintah memberikan perhatian serius diantaranya mengggratiakan korban pada pelaksanaan visum bagi korban kekerasan. Tidak hanya itu, korban kekerasan pun mendapatkan rehabilitasi.

“Pemkab memperkuat edukasi agama karena 99 persen masyarakat Lotim umat Islam. Sehingga apapun yang terjadi si Lotim mencerminkan pengamalan agama. Faktor agama terpenting menghindarkan remaja terhadap kekeraaan seksual,” ujar Hasni.

Hasni mengemuykakan bahwa Lotim memiliki 1.600 masjid. Jika orangtuanya peduli pendidikan agama, lanjut dia, insyaallah akan jauh dari kekerasan seksual karena akan faham seperti apa kehidupannya sehari-hari.

“Islam mengajarkan jangan mendekati zinah. Bukan hanya fisik melainkan juga perbuatan perbuatan. Kita harus ke hal hal positif dalam kehidupan ini,” cetusnya seraya menambahkan peran kampus dalam mencegah kekerasan bisa melalui edukasi dengan menciptakan gugus tugas terkait kekerasan seksual, memperbanyak diskusi yang menyentuh tentang hak asasi manusia sehingga meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap masalah tersebut.ian

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.