Berbagi Berita Merangkai Cerita

Perusahaan Sawit Kalimantan Tawarkan Gaji Rp 13 Juta buat Warga NTB, Ada Ribuan Kesempatan Kerja

1.440

FOTO. Sosialisasi kegiatan pembinaan operasionalisasi pelayanan penempatan tenaga kerja AKAD (Antar kerja antar Daerah) dan AKL ( Antar kerja Lokal) yang diinisiasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Perusahaan perkebunan kelapa sawit di Pulau Kalimantan membuka ribuan kesempatan kerja bagi pekerja perkebunan asal NTB.

Pada tahap pertama ini, PT. Abinggo B.Banga yang punya kantor Cabang pada PT. Primadaya Pratama Pandukarya yang beralamat di Grimak Lombok Barat itu, telah mengantongi kuota sebanyak 1.950 orang pekerja.

Itu dijelaskan Direktur PT. Abinggo B. Banga, Wu Cui pada kegiatan pembinaan operasionalisasi pelayanan penempatan tenaga kerja AKAD (Antar kerja antar Daerah) dan AKL ( Antar kerja Lokal) yang diinisiasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB, di LTSA di Udayana Mataram, Kamis (17/6).

“Kuota tersebut, terdiri dari 500 orang pekerja untuk perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah, 450 orang untuk Kalimantan Barat dan 1000 orang untuk Kalimantan Timur. Dan akan terus bertambah lagi, karena masih proses negoisasi,” ungkapnya.

Pada acara yang dibuka Kadisnakertrans Provinsi NTB, Gede Putu Aryadi dan menghadirkan narasumber dari BP2MI Mataram serta para pejabat fungsional pengantar kerja tersebut, diikuti oleh 60 orang pekerja yang kesemuanya merupakan warga NTB, bahkan sebagian di antaranya merupakan eks PMI perkebunan sawit yang dipulangkan dari Malaysia, karena negara tersebut, kini tengah lockdown.

Wu Cui menyebut bahwa penghasilan perbulan yang akan diterima para pekerja ini cukup menjanjikan. Perbulannya berkisar antara Rp5 juta hingga Rp13 juta tergantung produktivitas pekerjanya. ” Ini tidak kalah dengan Malaysia, bahkan lebih baik,” katanya.

Kepala Disnakertrans NTB, I Gede Putu Aryadi, mengatakan dengan ditutupnya pengiriman Pekerja Migran (PMI) ke Malaysia. Maka PMI NTB yang dipulangkan dari Malaysia dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk bekerja di perkebunan kepala sawit yang ada di Indonesia, termasuk Kalimantan.

“Penghasilannya tak kalah dengan bekerja di perkebunan sawit di Malaysia. Malah ini lebih prospektif. PMI yang dipulangkan lebih baik bekerja di dalam negeri. Kita bisa mengawasi, dan pemenuhan jaminan sosial serta hak-hak lainnya bisa lebih tertib,” kata Aryadi.

Ia meminta kepada perusahaan, agar transparan dan benar-benar memperhatikan terhadap hak-hak para pekerja. Mulai dari transparansi dalam perjanjian kerja yang detail mengatur tentang besaran gaji, perlindungan asuransi dalam bentuk Jamsostek dan aspek perlindungan lainjya agar dipenuhi oleh perusahaan.

Sedangkan, kepada para pekerja yang nantinya berangkat ke Kalimantan, Aryadi berpesan agar senantiasa mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja dengan mengikuti prosedur dan persyaratan yang telah ditentukan serta disiplin penerapan protokol kesehatan.

Gede menjelaskan, masyarakat tidak dipungut biaya, karena akan diberangkatkan oleh perusahaan tersebut.

Namun, sebelum pemberangkatan, calon pekerja perkebunan kelapa sawit tersebut akan dilatih terlebih dahulu. Mereka dibekali terkait dengan hak dan kewajibannya di sana.

“Termasuk, jaminan sosialnya, biar dia mengetahui. Setelah itu, kita serahkan ke perusahaan yang mengirim,” ucapnya.

Gede menyebutkan jumlah pekerja asal NTB yang sudah direkrut sebanyak 500 orang.
“Pemberangkatan tak dipungut biaya. Untuk pendaftaran bisa menghubungi kantor cabang perusahaannya yang ada di Lombok Barat serta berkoordinasi dengan Disnakertrans kabupaten/kota,” tandasnya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.