BSK Samawa

Persagi, Investasi Seribu Hari Pertama Kehidupan

Kegiatan PERSAGI Lotim, pemberian paket makanan tambahan untuk anak kurang Gizi lewat Posyandu Keluarga (Foto : Dok.Persagi Lotim)

SELONG, DS – Stunting merupakan masalah krusial yang harus ditangani hingga tuntas. Pasalnya, ada dua dampak stunting baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang.
Dalam jangka pendek menyebabkan gagal tumbuh, hambatan perkembangan kognitif dan motorik, dan tidak optimalnya ukuran fisik tubuh serta gangguan metabolisme. Sedangkan dalam jangka panjang menyebabkan menurunnya kapasitas intelektual. Hal ini berdampak kepada menurunnya daya serap pelajaran di sekolah yang berpengaruh kepada produktivitas saat dewasa.
Kekurangan gizi juga menyebabkan gangguan pertumbuhan (pendek dan atau kurus) dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hypertensi, jantung koroner, dan stroke.
“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK),” kata Muhammad Subhan, SKM., Ketua DPC Persagi (Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Ahli Gizi) Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Jum’at (1/04/2022).
Kondisi gagal tumbuh pada anak balita, lanjutnya, disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama dan terjadinya infeksi berulang. Kedua faktor penyebab ini dipengaruhi oleh pola asuh yang tidak memadai terutama dalam 1.000 HPK.
Menurut Subhan, anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badan menurut umurnya lebih rendah dari standar nasional yang berlaku. Status gizi balita dikatakan stunting, jika hasil pengukuran antropometri menunjukkan berat badan atau panjang badan Balita berdasarkan umurnya kurang dari 2 Standar Deviasi (< – 2 SD). Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri anak ( laki dan perempuan) bahwa berat badan 0 s/60 bulan. Untuk panjang badan dimulai umur 0 – 24 bulan. Sedangkan tinggi badan dimulai dari umur 24 s/d 60 bulan.
“Berat badan untuk anak laki-laki umur 0 bulan adalah yaitu minimal 2,5 kg, umur 60 bulan minimal 14,1 kg. Panjang Badan umur 0 bulan yaitu minimal 46,1 cm, umur 24 bulan minimal 81,7 cm. Tinggi Badan umur 24 bulan minimal 81,0 cm, umur 60 bulan minimal 100,7 cm. Sedangkan berat badan untuk anak perempuan umur 0 bulan adalah minimal 2,4 kg, umur 60 bulan minimal 13,7 kg. Panjang badan umur 0 bulan minimal 45,4 cm, umur 24 bulan minimal 80,0 cm. Tinggi badan umur 24 bulan minimal 79,3 cm, umur 60 bulan minimal 99,9 cm,” terang Kepala Sub Koordinator Kesehatan dan Sosial pada Bidang P2M (Pemerintahan dan Pembabgunan) BAPPEDA Kabupaten Lotim ini.
Subhan kemudian menyebut dua upaya dalam penurunan stunting yaitu Intervensi Gizi Spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan Intervensi Gizi Sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langjsung. “Untuk upaya ini kita sukseskan lewat Posyandu dan bhakti sosial,” kata Subhan.
Sementara itu, Dewan Pembina DPC Persagi Lotim, Lalu Muhammad Anwar, SST., MPH menambahkan bahwa permasalahan stunting itu kata kuncinya adalah pada 1000 HPK. “Apabila hal tersebut betul- betul dimanfaatkan yang hanya kita punya kesempatan 2 tahun, Insyaallah permasalahan stunting hingga mencapai jauh di bawah 14 % pada tahun 2024 dapat tercapai,” katanya optimis (Kusmiardi).

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.