Berbagi Berita Merangkai Cerita

Perkawinan Anak di NTB (9), Jangan Meninggalkan Keturunan yang Lemah

45

     Pernikahan dalam Islam merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan perempuan yang menghalalkan persetubuhan. Allah menyebutkan bahwa pernikahan itu adalah mitsaqon galidzhan (janji yang erat).Dengan demikian, pernikahan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa-raḥmah.

      Dalam pernikahan mesti diperhatikan tentang syarat dan rukun pernikahan, agar pernikahan tersebut menjadi sah, meskipun pernikahan telah memenuhi seluruh syarat dan rukun, belum tentu pernikahan tersebut sah, karena masih tergantung pada satu hal, yaitu pernikahan itu telah terlepas dari segala hal yang menghalanginya.

     Dalam hukum Islam terdapat larangan pernikahan yang berkaitan dengan waktu, yaitu larangan untuk melakukan pernikahan ketika seseorang melakukan ihram, baik ihram haji maupun ihram umrah, dan pada masa iddah.Dalam Islam juga tidak begitu eksplisit mengatur aturan terkait pembatasan umur usia pernikahan, sehingga sampai saat ini masih diperbincangkan oleh para ‘ulama dan para ahli tafsir terkait batasan umur menikah dalam Islam.

      Masyarakat kita di Pulau Lombok selain berpegang teguh pada hukum Islam, juga masih perpegang teguh pada adat kebiasaan yang sudah turun-temurun terhadap larangan melakukan perkawinan pada waktu-waktu tertentu.Namun jangan pernah luput dari hukum negara yang berlaku dan telah banyak mengatur tatanan kehidupan dan bernegara, salah satunya adalah aturan dalam pernikahan, aturan terkait anjuran dan larangan dalam pernikahan.

      Aturan perundang-undangan yang mengatur larangan pernikahan anak usia anak adalah :

    UU Nomor 35 tahun 2014, Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

     Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas           Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

     Kaidah fiqhiyah juga menerangkan : Setiap ibadah yang mudharatnya lebih besar dari pada manfaatnya maka ibadah tersebut dilarang.

     Pada dasarnya, suatu ibadah itu disyariatkan untuk mendatangkan atau mewujudkan maslahat (kebaikan) dan menolak mudharat. Akan tetapi pada kondisi-kondisi tertentu ibadah tersebut dapat mendatangkan mudharat, bahkan mudharatnya lebih besar bila dibandingkan dengan manfaatnya. Ketika seperti ini, maka ibadah itu terlarang.

Mudharat perbuatan haram lebih besar dari pada maslahat perbuatan mustahab/sunat (Lihat Minhaj Sunnah 4/154)

     Sebuah amalan sunat apabila menyebabkan perbuatan haram maka perbuatan tersebut tidak lagi disunatkan akan tetapi berubah menjadi perbuatan haram.


Dampak Pernikahan Anak

     Setiap kejadian pasti memiliki dampak terhadap sesuatu, baik positif maupun negatif. Begitu juga dengan terjadinya pernikahan anak, Bahaya yang dikhawatirkan akan timbul akibat dari pernikahan anak ditinjau dari segi kesehatan (medis), psikologi, ekonomi, agama dan lainnya :

Kesehatan dan psikologis

     Pernikahan anak rata-rata dipandang sebagai solusi terbaik atas fenomena pergaulan bebas tanpa batas, namun patut  dipertimbangnkan bahwa usia pernikahan jika belum mencukupi batas yang telah ditentukan oleh pihak medis maka akan berakibat fatal bahkan akan berujung pada kematian. Dalam hal ini, pihak yang paling sering merasa kurang diuntungkan adalah perempuan, banyak masalah yang timbul ketika perempuan yang belum cukup umur dan belum memiliki kedewasaan psikologi  dan kesiapan mental dengan kurun waktu yang cukup singkat memiliki anak dan berkewajiban untuk mengayomi dan mendidiknya, kedewasaan seorang perempuan dalam mendidik anaknya tentu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anaknya.

     Demikian juga bahwa calon ibu yang kurang memiliki pengetahuan tentang alat  rerproduksi, maka akan menjumpai berbagai kesulitan dalam menjaga dan merawat kandungannya. Hal ini yang amat  sangat dikhawatirkan terhadap kualitas anak yang akan dilahirkan, dengan demikian aspek kedewasaan psikologis dan kesiapan pengetahuan tentang seluk beluk pernikahan sangatlah penting, adapun kedewasaan secara psikologis umumnya tidak dimiliki oleh perempuan di bawah umur.

Kemiskinan merajalela

     Pernikahan yang sukses sering ditandai dengan kesiapan calon suami-istri dalam memikul beban dan tanggung jawab ketika memutuskan untuk melangsungkan pernikahan, pasangan tersebut  harus siap menanggung segala resiko dan beban yang timbul akibat pernikahan, terutama menyangkut urusan nafkah lahir-batin, nafkah pendidikan dan dan pola asuh anak. Menikah bukan hanya perihal manuruti hawa nafsu belaka, menikah harus difikirkan, dipertimbangkan dan dipersiapkan dengan sangat matang terutama ekonomi keluarga.

     Ekonomi menjadi hal utama yang patut dipertimbagankan, walau bukan menjadi barometer kebahagiaan dalam berumah tangga. Tak jarang dalam rumah tangga terjadi cekcok dan pertengkaran sengit  bahkan berujung pada perceraian disebabkan karena secara psikologi usia laki-laki belum cukup umur dan belum mempunyai pekerjaan tetap.Ekonomi yang mapan, memilki pekerjaan tetap dan tetap bekerja, umumnya tidak dimiliki oleh laki-laki dibawah umur.

Kekerasan dalam rumah tangga

    Telah banyak kasus terjadi berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga, pelakunya adalah suami atau istri yang menikah di bawah umur. Kekerasan dalam rumah tangga kerap kali terjadi disebabkan karena kurangnya pengetahuan suami-istri tarhadap hak dan kewajiban dalam berumah tangga.Tak hanya itu, pola fikir yang masih labil pada pasangan suami-istri (nikah anak), sangat menetukan terhadap memutuskan suatu persoalan dan permasalahan rumah tangga, sehingga berefek pada kualitas baik dan buruknya menjalankan roda rumah tangga.

Kutukan sosial

    Bagian dari akibat bahayanya pernikahan anak adalah tak jarang menjadi perbincangan buruk tetangga, warga, bahkan satu desa membicarakan hal-hal tidak baik yang menjadikan pelaku pernikahan anak sulit beradaptasi. Selain itu, hal yang paling sangat miris dan menjadi penyakit sosial yang selalu dijumpai adalah pernikahan anak yang berujung pada perceraian. Oleh karenanya, keputusan untuk menikah anak wajib difikirkan dan dipertimbangkan sematang-matangnya agar tidak terjadi suatu hal buruk yang tidak diinginkan.

Dan lainnya.

     Bahaya-bahaya yang dikhawatirkan timbul akibat pernikahan usia anak tidak terlepas dari apa yang telah Allah SWT jelaskan : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Quran Surat An-Nisa Ayat : 9)

     Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah menafsirkan :

Dan hendaklah berhati-hati orang-orang yang jika meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, mereka akan khawatir kecelakaan atas mereka. Lantaran itu, hendaklah mereka takut kepada Allah dan hendaklah mereka betul berkata perkataan yang tiada mengada-ngada.

    Banyak para ‘ulama ahli tafsir yang menafsirkan ayat ini, mereka menjelaskan bahwa hendaknya kita semua manusia (khusunya para orang tua) takut kepada Allah untuk meninggalkan atau mewariskan anak turunan dalam kondisi lemah, dalam artian lemah secara ruhani, jasmani dan ekonomi.

    Terlalu banyak hadits Rasulullah SAW, yang mengaharuskan menikah dengan mempertimbangkan kekuatan ekonomi yang memadai, di antaranya :

Artinya ; Barang siapa yang mempunyai kekayaan hendaklah ia menikah (HR. Ibnu Majah)

Artinya ; Barang siapa yang kaya serta mampu menikah tetapi ia tidak menikah, maka ia bukan dari golonganku (HR. Baihaqi)

    Artinya : Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu biaya nikah, maka hendaklah ia menikah, karena itu lebih bisa memejamkan mata dan menjaga kemaluan (HR. Bukhari dan Muslim).

    Yang disebut  “Pemuda” dalam hadits ini menurut imam Nawawi dalam syarah Muslim Juz IX hal. 172 adalah orang baligh sampai umur 30 (tiga puluh tahun).

    Atsar dari hadits-hadits di atas menunjukkan suatu pengertian bahwa menikah di usia mapan (pemuda) dan mampu secara ekonomi hendaknya harus disegerakan. Yang disebut pemuda adalah orang yang mampu berfikir jernih serta dapat mempertimbangkan baik-buruknya dalam memutuskan suatu persoalan dan mampu mengolah ekonomi secara mapan. Sementara berfikir jernih dan mampu mengolah ekonomi, hal itu tidak terdapat di kalangan anak-anak, karena pola fikir anak-anak dan pemuda mapan sungguh sangat jauh perbedaannya. Disarikan dari Khutbah Jumat “BAHAYA MENIKAH DI USIA ANAK

Lalu Habiburrahman, M.Pd

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.