A place where you need to follow for what happening in world cup

Perkawinan Anak di NTB (8), Membangun Hubungan Dialogis Orangtua dengan Anak

63

Dalam tradisi kehidupan rumah tangga, ada kecenderungan untuk menganggap anak sebagai anggota yang kurang memiliki peran penting,yang tidak perlu diperhatikan dan dilibatkan, Lebih-lebih untuk dimintai pendapat dalam keputusan-keputusan keluarga, termasuk yang bersangkutan dengan diri dan masa depan anak.

Dalam kehidupan keluarga, harus selalu mengedepankan hubungan yang saling menghargai, menghormati, dan menyayangi antaranggota keluarga. Seorang ayah menghargai, menghormati, dan menyayangi keberadaan istri dan anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya, seorang ibu juga harus senantiasa menghargai, menghormati, dan menyayangi suami dan anak-anaknya. Seorang anak, tentu saja juga harus selalu menghargai, menghormati, dan menyayangi keberadaan orangtua mereka.

Orangtua cenderung menganggap diri mereka sebagai yang paling tahu tentang segala hal yang bersangkutan dengan baik dan buruknya sang anak. Anak diperlakukan ibarat benda mati yang segalanya tergantung kepada orangtua, termasuk kelak sang anak harus menjadi apa nantinya.

Anak dianggap sebagai sosok yang tidak berhak memiliki keinginan-keinginan dan kemauan. Bahkan, anak dianggap tidak berhak memiliki dirinya sendiri karena dia adalah milik orangtuanya, yang terserah mereka mau dijadikan apa kelak. Kita sebagai orangtua sering kali secara tidak sadar telah membelenggu anak dengan ambisi-ambisi kita dan melupakan bahwa anak adalah sosok yang diciptakan Allah dengan kemauan, keinginan, dan cita-cita yang tertanam dalam jiwanya.

Sebagai orangtua, seharusnya selalu berusaha menghargai, menghormati, dan menyayangi anak-anak. Namun, tentu saja penghargaan dan penghormatan kepada anak tidak seperti keharusan mereka menghargai dan menghormati kita sebagai orangtuanya. Penghargaan dan penghormatan anak kepada orangtua adalah sebagai wujud pengabdian dan kasih sayang kepada mereka, sedangkan penghargaan dan penghormatan orangtua kepada anak merupakan wujud kasih sayang kepadanya. Di antara wujud penghargaan orangtua kepada anak adalah dengan selalu berusaha melibatkannya dalam berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan masa depan sang anak, misalnya, dengan mengajaknya berdialog.

Dengan mengajak anak-anak berdialog, maka orangtua akan dapat memahami dan menyelami pikiran dan perasaan anak, sehingga kalau akhirnya orangtua harus mengambil keputusan, maka keputusan yang diambil itu benar-benar yang terbaik bagi masa depan anak. Hubungan dialogis antara orangtua dengan anak sebagaimana digambarkan di atas, dapat dipahami dari cerita dalam Al-Qur’an tentang Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam berikut ini.

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.  (Q.S. Ash-Shaffat [37]: 102).

Ayat di atas memberi gambaran tentang bagaimana hubungan komunikasi yang harus dibangun antara orangtua dengan anak. Antara keduanya semestinya senantiasa berlangsung dialog, dalam rangka untuk saling menyelami pikiran dan perasaan antarkeduanya. Anak berusaha memahami pikiran dan perasaan orangtua dengan penuh penghormatan, sementara orangtua berupaya meyelami pikiran dan perasaan anak dengan penuh kasih sayang.

Pola hubungan seperti di atas semestinya senantiasa berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, terutama berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang melibatkan orangtua dan anak. Misalnya, keputusan-keputusan yang akan diambil orangtua berkaitan dengan masa depan anak, maka orangtua harus mendialogkan terlebih dahulu dengan anak yang bersangkutan. Paling tidak agar anak mengetahui dan memahami kemauan dan keinginan orangtua terhadap anak, dan sebaliknya, orangtua juga dapat mengetahui  dan memahami kemauan dan keinginan anaknya. Kalau antara keduanya dapat saling memahami, maka tentunya akan lebih mudah, terutama bagi orangtua, untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi masa depan anaknya.

Dari ayat di atas juga dapat dipahami bahwa pola hubungan dialogis antara orangtua dengan anak, harus senantiasa diupayakan tidak hanya bersangkutan dengan permasalahan keduniaan saja, bahkan sampai kepada persoalan-persoalan penting dalam bidang agama, anak seharusnya dimintai pandangannya. Komunikasi dialogis semacam ini sekaligus dapat dijadikan sebagai wahana untuk pengajaran dan penanaman nilai-nilai keagamaan oleh orangtua kepada anak. Dengan cara ini, orangtua dapat mengajarkan nilai-nilai agama dengan lebih komunikatif, yang akan lebih memungkinkan dapat menumbuhkan kesadaran pada diri anak terhadap nilai-nilai moral-agama.

Upaya membangun komunikasi dialogis dalam mendidik anak sebagaimana dikemukakan di atas, tentu saja memerlukan kesiapan psikologis pada orangtua. Sangat mungkin bahwa dalam proses dialogis tersebut anak akan memunculkan keingintahuan mereka dalam bahasa-bahasa yang di luar perkiraan orangtua. Hal itu dimungkinkan karena begitu luasnya pergaulan anak dan terbukanya kesempatan bagi mereka untuk mengakses informasi dari berbagai sumber, terutama media cetak dan elektronik. Kadang-kadang orangtua justru menjadi lebih awam dan kurang dapat memahami pembicaraan anak. Oleh karena itu, agar orangtua lebih dapat memahami kondisi kehidupan anak, maka selain dituntut kesiapan psikologis, orangtua juga dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan yang berlangsung dalam pergaulan dunia anak.

Dengan semakin terbukanya berbagai kesempatan untuk mendapatkan informasi tentang berbagai hal dari berbagai sumber, maka anak juga semakin terlatih untuk menghadapi beragam pilihan jawaban terhadap keingintahuannya dalam berbagai hal, termasuk dalam permasalahan keagamaan. Dalam menentukan pilihan jawaban anak juga mulai mementingkan alasan-alasan yang argumentative. Perkembangan semacam itu merupakan kondisi yang tidak bisa dielakkan oleh orangtua karena tidak mungkin bagi orangtua untuk menghalangi anak untuk menyerap berbagai informasi tersebut. Seyogiyanya yang dilakukan oleh orangtua adalah justru senantiasa memberikan penjelasan secara benar kepada anak tentang berbagai informasi yang telah mereka serap. Cara yang paling memungkinkan adalah dengan mengajak anak-anak berdialog dan mendiskusikan berbagai informasi yang telah mereka serap tersebut, sehingga mereka terbantu untuk memahami aspek positif dan negatifnya secara benar .

Sikap otoriter orangtua justru akan semakin menggiring anak untuk bersikap tertutup dan menentang. Anak merasa tidak dihargai keberadaannya, kecuali hanya sebatas objek penderita yang harus selalu membenarkan apa yang dikemukakan orangtua. Sikap kritis dan keberanian anak untuk mempertanyakan apa yang disampaikan orangtua selalu ditafsirkan sebagai bentuk ketidaktaatan, penentangan, dan kedurhakaan anak kepada orangtua. Kemudian, terjadilah penguasaan yang berlebihan dari orangtua kepada jiwa dan raga anaknya. Padahal anak diciptakan oleh Tuhan bukan untuk dikuasai dan dibelenggu jiwa raganya, tetapi untuk dibimbing menemukan masa depannya dengan penuh kasih sayang, sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim berikut ini.

Artinya: Dari Abi Hurairah berkata, “Nabi SAW pernah mencium cucunya aI-Hasan putra Ali, pada waktu itu aI-Aqra’ bin Habis berada di hadapan Nabi, kemudian aI-Aqraberkata, “Saya mempunyai anak sepuluh orang, tetapi tidak ada satu pun yang pernah saya cium”. Rasulullah SAW. menoleh kepada al-Aqra’ seraya bersabda, “Barangsiapa yang tidak mengasihani, maka tidak akan dikasihani”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Mari kita terus mengajak anak berdialog, menanyakan kebenaran informasi, menanyakan keputusan yang ingin dia ambil di masa depan atas dasar pertimbangan hak dan kewajiban yang ia miliki, hingga menanyakan hal sehari-hari terkait pergaulannya saat ini, agar ia terbuka kepada orangtua dan mau menceritakan permasalahannya dalam pergaulan. Kita sebagai orangtua perlu menjadi pendengar yang aktif. Jangan sampai baru heboh untuk merespon ketika anak justru sudah terjerumus ke dalam permasalahan berat yang merusak hidupnya sendiri.

Dengan senantiasa mengajak anak untuk berdialog, maka orangtua berarti telah menunjukkan kepada anak bahwa orang tuanya tidak hanya menyayangi, tetapi juga menghargai keberadaan anak. Dengan cara itu, sekaligus orangtua juga telah mendidik anak untuk senantiasa menghargai dan menghormati orang lain dalam pergaulan hidup mereka, sesama anggota keluarga, sesama teman, dan dalam pergaulan yang lebih luas. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan keluarga kita semua. Amin, ya robbal ‘alamin.

Disarikan dari Khutbah Jumat Perlindungan Anak, subjudul “Membangun Hubungan Dialogis antara Orangtua dan Anak”, hlm 83,  Penerbit LPA NTB 2019

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas