A place where you need to follow for what happening in world cup

Perkawinan Anak di NTB (7), Begini dalam Pandangan Islam

100

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Surat Ar-Rum Ayat 21:

Salah satu di antara tanda-tanda kekuasaan Allah dalam ayat di atas adalah diciptakan-Nya kita berpasang-pasangan dan Islam mengajarkan kita melalui pernikahan. Pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah di mana seorang lelaki dan perempuan melakukan akad yang bertujuan untuk mendapatkan kehidupan sakinah (tenang dan damai), mawaddah (saling mencintai dengan penuh kasih saying), dan rahmah (kehidupan yang dirahmati Allah SWT). Tujuan utama dari sebuah pernikahan adalah memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat sehingga dasar hukum Islam dari sebuah pernikahan bisa dikatakan sunnah, wajib, atau juga mubah.

Pernikahan dapat menjadi wajib hukumnya jika seseorang sudah memiliki kemampuan untuk membangun rumah tangga atau menikah serta ia tidak dapat menahan dirinya dari hal-hal yang dapat menjuruskannya pada perbuatan zina. Orang tersebut wajib hukumnya untuk melaksanakan pernikahan karena dikhawatirkan jika tidak menikah ia bisa melakukan perbuatan zina yang dilarang dalam Islam. Hal ini sesuai dengan kaidah yang menyebutkan bahwa: “apabila suatu perbuatan bergantung pada sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu pun wajib.”

Namun, patut diingat bahwa kata kuncinya adalah “sudah memiliki kemampuan (secara emosional, biologis, pengetahuan, hingga kesiapan ekonomi) untuk membangun rumah tangga.” Artinya, secara usia dan kematangan juga sudah dewasa, bukan usia anak-anak (atau bukan di bawah usia 18 tahun menurut Undang-undang Perlindungan Anak) sehingga memiliki kesiapan.

Selanjutnya, berdasarkan pendapat para ulama, pernikahan hukumnya sunnah jika seseorang memiliki kemampuan untuk menikah atau sudah siap untuk membangun rumah tangga, tetapi ia dapat menahan dirinya dari sesuatu yang mampu menjerumuskannya dalam perbuatan zina. Dengan kata lain, seseorang hukumnya sunnah untuk menikah jika ia tidak dikhawatirkan melakukan perbuatan zina jika ia tidak menikah.

Hukum Islam sendiri memiliki beberapa prinsip, yakni perlindungan pada agama, harta, jiwa, keturunan, dan akal. 

Masa muda adalah masa yang indah. Identik dengan masa tumbuhnya ketertarikan seseorang kepada lawan jenisnya. Pada masa ini pula kematangan organ-organ reproduksi seseorang mulai terasa. Di samping itu, masa muda adalah masa yang rawan, jika tidak dibentengi keimanan dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Merebaknya media informasi dan hiburan yang kerap kali menyajikan hal-hal yang bersifat membangkitkan hawa nafsu sebagai hidangannya, budaya seronok negeri Barat maupun Timur mulai mewabah, serta perilaku masyarakat yang kurang memperhatikan etika pergaulan Islami, sungguh menjadi cobaan berat bagi para pemuda dalam menjaga diri dan kehormatannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: Tidaklah aku tinggalkan sesudahku cobaan bagi kaum pria yang lebih berbahaya melebihi cobaan wanita. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kesiapan pernikahan anak muda dalam tinjauan fiqih munakahat (fikih pernikahan) sebagai kewajiban dalam memenuhi syarat persiapan pernikahan setidaknya diukur dalam tiga hal, yakni:

  1. Kesiapan Ilmu

Kesiapan ilmu adalah kesiapan pemahaman dalam hukum hukum fiqih yang berhubungan dengan pernikahan baik dalam hukum sebelum menikah seperti hukum khitbah atau melamar, hukum pada saat menikah seperti syarat dan rukun aqad nikah dan juga kehidupan setelah menikah yakni hukum nafkah, talak, serta ruju’. Syarat pertama ini didasari dengan prinsip fardhu ain hukumnya untuk seorang muslim mengetahui apa saja hukum-hukum perbuatan yang dilakukan sehari-hari atau yang akan segera dilakukan.

  • Kesiapan Materi

Yang dimaksud dengan kesiapan materi atau harta terdiri dari dua jenis yakni harta sebagai mahar atau mas kawin dan juga harta sebagai kewajiban laki-laki setelah menikah yakni nafkah suami pada istri untuk memenuhi segala kebutuhan primer, sandang, pangan dan papan. Mengenai mahar sebetulnya bukan mutlak berupa harta akan tetapi juga dapat berupa manfaat yang diberikan suami pada istri seperti mengajarkan ilmu pada istri. Sementara kebutuhan primer adalah wajib diberikan dalam kadar yang layak setara dengan nafkah yang diberikan pada wanita.

  • Kesiapan Fisik

Kesiapan fisik khususnya untuk laki-laki adalah bisa menjalani tugasnya sebagai seorang laki-laki alias tidak impoten. Imam Ash-Shan’ani dalam kitabnya Subulus Salam juz III halaman 109 berkata, “al ba`ah dalam hadits anjuran menikah untuk para syabab (pemuda) di atas, maksudnya adalah jima’. Khalifah Umar bin Khaththab pernah memberi tangguh selama satu tahun untuk berobat bagi seorang suami yang impoten (Taqiyuddin An-Nabhani, 1990, An-Nizham Al Ijtima’i fi Al Islam, hlm.163).

Sementara itu, kesiapan fisik untuk perempuan, misalnya, mempertimbangkan kemampuan mengelola organ reproduksi seperti pengetahuan kebersihan menstruasi dan kesiapan kehamilan. Kesiapan fisik seperti ini sangat cenderung belum dimiliki oleh perempuan berusia di bawah 18 tahun.

Untuk seseorang yang ingin melakukan pernikahan dini seperti saat masih bersekolah atau kuliah, maka ini berarti orang tersebut masih menjalani sebuah kewajiban yakni menuntut ilmu. Oleh karena itu, hal tersebut harus ditetapkan dalam kaidah aulawiyat atau prioritas hukum yakni wajib harus didahulukan dibandingkan dengan sunnah. ini berarti menuntut ilmu masih menjadi prioritas utama dibandingkan menikah. Dengan demikian, nikah adalah sunnah Rasulullah SAW yang harus diikuti dengan persiapan-persiapan agar benar dalam melaksanakan amanah dan selalu dalam bimbingan Allah SWT.

Disarikan dari Buku Khutbah Jumat Perlindungan Anak, Subjudul : Pernikahan Anak dalam Pandangan Islam, hlm 49, Penerbit LPA NTB 2019

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas