Berbagi Berita Merangkai Cerita

Perkawinan Anak di NTB (6), Begini Cara Majelis Krama Desa Turun Tangan

32

      Majelis Krama Desa (MKD) merupakan lembaga adat desa di KLU. Selama ini, MKD menangani kasus-kasus yang bersifat delik aduan namun belum memiliki peran mencegah perkawinan anak. Kendati di satu sisi para tokoh adat menolak perkawinan anak, tupoksinya sebagaimana tertuang dalam Perbup tidak secara khusus memberi peran untuk melakukan pencegahan. Toh bukan berarti mereka tinggal diam.

      Mulusnya kasus-kasus perkawinan anak disebabkan masyarakat yang menyetujui dilakukannya pencegahan masih berjalan sendiri-sendiri, belum kompak dan tidak mau repot. Sedangkan perkembangan teknologi yang kiat pesat begitu cepat menimbulkan pengaruh perubahan prilaku anak-anak. Akibatnya, potensi pencegahan melalui lembaga adat cenderung berjalan lambat.

     Melalui UU Perlndungan Anak, LPA KLU melihat sisi lemah pencegahan sehingga kemudian merangkul MKD untuk memberikan pemahaman bahwa perkawinan anak merupakan sebuah pelanggaran. MKD belum sepenuhnya satu suara bahwa perkawinan anak juga merupakan pelanggaran norma-norma adat.

      Namun, tidak semua MKD enggan membuka mata terhadap perkawinan anak. Pasalnya, hal ini sangat bergantung dari laporan masyarakat yang menjadi dasar lembaga adat ini ikut andil di dalamnya. Salah satu yang cukup intens terlibat menangani kasus perkawinan anak adalah  MKD Desa Bentek, Kecamatan Gangga, KLU.

      Pada bulan Februari tahun 2020 misalnya, terjadi peristiwa seorang gadis dari Desa Bentek berusia 18 tahun dilarikan seorang pemuda  Desa Sambiq Bangkol berusia sekira 16 tahun berinisial R. Dalam kasus ini pelaku menggunakan sistem memulang (melarikan). Saat itu, si gadis dititipkan di kediaman ibu laki-laki, kemudian dipindah ke rumah Kadus. Pihak Kadus melaporkan kasus tersebut kepada LPA sehingga peristiwa itu ditangani Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Lombok Utara.

    Ketua LPA KLU, Bagiarti,menuturkan bahwa pihaknya sempat menampung si gadis cilik yang dilarikan itu. Ketika mengetahui usia pihak laki-laki yang melarikannya belum cukup umur, LPA KLU memutuskan agar keduanya dipisahkan.  Bagaimana reaksi pihak keluarga perempuan?

      Akibat hendak dipisah, muncul gejolak mengingat selama 5 malam si gadis sudah menjalani proses memulang. Pihak keluarga perempuan tidak mau menerima begitu saja. Karena terjadi konflik ang berlarut-larut, akhirnya LPA KLU melibatkan MKD dalam menangani kasus ini.

 Cara Majelis Krama Desa Turun Tangan

     Untuk menuntaskan kasus tersebut, MKD Bentek melakukan pemanggilan dan musyawarah pemulangan kedua belah pihak. MKD dalam kaitan ini melihat konteks perkawinan anak atas dasar UU Perkawinan dan UUPA.

     Karena ada pelanggaran, pihak MKD menghadirkan Sekdes dan kadus. Dalam sidang yang digelar mengemuka  jika perkawinan anak dipaksakan, berlaku denda ngawe pati sebesar  100 ribu kepeng bolong atau uang sekira Rp 5 juta.

      Pihak keluarga laki-laki tidak mau menerima keputusan tersebut karena dinilai terlalu tinggi.Karena itu, dalam sidang kedua yang berlangsung di Desa Sambik Bangkol, sidang memberi dua pilihan lain, yaitu melakukan kawin tadong atau menikah dengan disposisi pengadilan. Kawin tadong ini sejenis perkawinan namun belum bisa berhubungan layaknya suami istri sampai pasangan memenuhi syarat umur sesuai amanat UU Perkawinan.

       Kedua sanksi denda — baik  ngawe pati maupun  kawin tadong — dalam sidang itu tidak bisa diterima. Akhirnya diberi pilihan lain yaitu noracara atau bukan cara orang. Noracara diberlakukan disebabkan usaha melarikan anak gadis orang sudah dilakukan selama 5 hari alias tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat adat setempat dengan maksimal 3 hari. Dendanya, sebanyak 5.450 kepeng/uang bolong atau setara Rp 270.500. Namuh, bukan berarti ketika noracara diterima mereka bisa kawin. Dampak dari keputusan tersebut justru mereka harus dibelas (dipisah).

     Vonis yang paling ringan itulah yang diterima sehingga kasus itu selesai dengan memisahkan keduanya. Dalam  musyawarah  pihak keluarga itu hadir Pj.Kepala Desa dan MKD Sambik Bangkol, Kades Bentek, Babinsa, Kadus, tokoh adat dan pihak keluarga masing-masing. riyanto rabbah

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.