Berbagi Berita Merangkai Cerita

Perkawinan Anak di NTB (5), Ada Rambu-rambu Perkawinan dalam Adat Sasak yang Terabaikan

54

Adat Sasak di Kabupaten Lombok Utara ternyata memiliki rambu-rambu perkawinan yang membuat setiap warga seharusnya  berfikir seribu kali sebelum mengarungi bahtera rumah tangga.

Masyarakat Sasak sebetulnya sangat tabu dengan pernikahan dini. Itu kata para tokoh adat. Mereka pun bercerita, dimasa lalu, perkawinan masih mengindahkan berbagai persyaratan yang sesuai dengan adat masyarakat setempat.

     Pada masa  itu, nyaris tidak ditemukan adanya perkawinan anak (dalam jumlah banyak). Mereka memahami perkawinan itu sebuah peristiwa besar, berat dan penuh syarat tertentu. Selain berpenghasilan, juga memiliki tempat tinggal dan bertanggung jawab.

    “Karena itulah orang Sasak di masa lalu kawinnya sudah dalam usia cukup tua,” jelas Rasidep, tokoh adat Sasak asal Desa Gondang. Mereka memahami perkawinan harus dengan persiapan matang sehingga berlaku proses adat yang rumit, runut dan cukup panjang.

     Kearifan lokal itu seakan runtuh sedikit demi sedikit menyusul perkembangan teknologi digital. Anak-anak mengenal handphone dan berhubungan dengan dunia luar. Dampaknya, berbagai informasi diakses. Mereka ke luar rumah dan pulang larut malam. Inilah yang diduga menjadi cikal bakal muncjulnya letupan kasus perkawinan anak.

     Gadis yang pulang malam dianggap sebagai aib karena divonis sudah melakukan tindakan amoral dengan kekasihnya. Ada anggapan bahwa lingkungan di sekitarnya turut mengemban aib itu. Akhirnya, sanksi untuk mengawinkannya diberlakukan walau kadang perbuatan asusila itu tidak terbukti.

     Pada tahun 80 an  misalnya, terjadi kasus seorang anak perempuan dalam satu desa dibawa seorang pria selama beberapa hari. Walau masih memiliki hubungan keluarga, ketika gadis itu pulang malam diantar pria pasangannya, orangtua si perempuan keberatan. Sikap serupa juga disampaikan  oleh lingkungan sekitarnya. Akhirnya, mereka dinikahkan di Kantor Urusan Agama.  Kala itu si perempuan masih berusia 16 tahun.  Dan, usia tersebut kala itu adalah batas minimal perempuan menikah.

     Pada masa itu, usia perkawinan tersebut dibenarkan UU Perkawinan. Sayangnya, hal ini seakan-akan menjadi patokan dikemudian hari ketika regulasi berubah. Ketika regulasi sudah mengatur ulang usia perkawinan ke batas minimal  19 tahun, kasus-kasus perkawinan anak tetap saja terjadi.

Keterlibatan Lembaga Adat

Kabupaten Lombok  Utara memiliki lembaga adat yang diberi nama Majelis Krama Desa (MKD) yang bahkan dinaungi Peraturan Bupati (Perbup).  Setiap desa memiliki MKD yang dalam tupoksinya berperan dalam menyelesaikan sengketa-sengketa adat.  Jika terjadi kasus perkawinan, MKD tak serta merta bertugas melakukan peleraian kecuali jika ada pihak-pihak yang keberatan.

Sementara ini, masalah yang lebih banyak menjadi delik aduan adalah  tanah warisan. Artinya, perkawinan anak belum dianggap sebagai sebuah kasus jika tidak ada pihak yang keberatan. Apalagi di tingkat masyarakat masih terjadi “pertentangan” berkaitan dengan perkawinan anak.

Ketika lembaga adat terdiam menyaksikan perkawinan anak, bisa diartikan masalah itu akan menjadi tradisi turun-temurun.  Pasalnya, tokoh agama dan tokoh adat termasuk yang sangat didengar oleh masyarakat selain pemerintah.

      Dalam konteks perkawinan, penafsiran agama terkait usia perkawinan terbatas pada masa akil baligh, demikian halnya pada aspek hukum adat. Hak-hak menikah ini pada akhirnya bias dan meruntuhkan makna sesungguhnya dari mahligai rumah tangga seperti berbagai persiapan materi dan tanggung jawab kepala rumah tangga.

      Masa akil baligh dalam pandangan adat disebut dedare santri. Ketika seseorang di lingkungan keluarga Sasak melakukan perkawinan dini, masyarakat kemudian menilai itu disebabkan si gadis sudah mencapai dedara santri atau sudah tahap menstruasi. Untuk usia dengan istilah itu sekira 14-15 tahun yang sebenarnya masih memerlukan penjabaran lebih luas tidak sebatas dalam konteks perkawinan.

      Dikenal juga istilah dedara ngerekes diusia 19 tahun keatas dan dedara nuwas usia 30 tahun keatas.  Khusus untuk pihak laki-laki ada istilah teruna beleq diusia 19 tahun keatas dan teruna manggung 30 tahun keatas.Istilah itu sudah turun temurun berlaku di lingkungan masyarakat Lombok Utara. Namun,istilah-istilah itu sesungguhnya bukan untuk memanggul predikat untuk segera melakukan perkawinan. Karena, masih ada syarat  lain seperti tanggung jawab dan pertimbangan-pertimbangan lain.

     Norma-norma adat itu sendiri,  diambil dari nilai-nilai agama dalam bentuk penjabaran prilaku yang juga tertulis dalam lontar yang biasa ditembangkan dalam berbagai kegiatan adat. Lontar-lontar itu berbicara banyak hal mulai dari kelahiran, perkawinan hingga kematian.

     Dalam tradisi suku Sasak, perkawinan pada umumnya dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu yang berdasarkan pada tuntunan adat. Proses tersebut meliputi proses perkenalan, lari bersama untuk kawin serta akad perkawinan.

      Memulang merupakan peristiwa adat yang besar sebagai akhir dari masa lajang seseorang. Kondisi berkeluarga ini merupakan tempat mencurahkan kasih sayang baik dalam keadaan susah maupun senang. Pun sebagai tempat mencurahkan tanggung jawab secara moral maupun material kepada keluarga.

      Karena itu, ukuran kedewasaan seseorang  sangat diutamakan sebelum melakukan memulang. Bagi laki-laki harus mampu memberi makan (dalam arti luas) kepada anak istri (bau isik ngiok). Selain itu memiliki kegiatan untuk anak istri (bau isik ngayang), punya rumah dan bertanggung jawab melindungi anak dan istri.Sedangkan bagi perempuan bisa memasak dalam arti luas (segala jenis makanan) dan menjaga kehormatan diri dan suami(bau isik nyauk dirik).

      Oleh sebab itu, ada hal-hal yang mengawali seseorang sebelum memulang untuk mengetahui secara detil kemampuan masing-masing pihak. Sebutlah adanya saling maleang tangenang, yaitu merayu yang bisa dilakukan dengan kata terang-terangan maupun berupa sindiran ketika bertemu perempuan pujaan hatinya. Pun bila pria datang ke rumah perempuan (midang) yang didampingi pihak keluarga,

      Masa perkenalan dan pemilihan jodoh disebut midang atau kunjungan seorang laki-laki kepada seorang perempuan dengan maksud untuk mengadakan perkenalan, pendekatan dan menjalin hubungan lebih serius. Setelah beberapa kali midang dilakukan, barulah si pemuda menanyakan apakah perempuan pujaannya itu bersedia menjadi istrinya.

      Jika tawarannya diterima maka terjadi beberayean. Jika dua sejoli sudah sepakat untuk kawin, selanjutnya yang dilakukan adalah melarikan si gadis dari lingkungan orangtua serta keluarganya. Selanjutnya ada bale panyeboan, yang mana kedua calon mempelai terikat dengan berbagai ketentuan adat yang ketat. Misalnya mereka tidak boleh tidur bersama di satu tempat tidur sampai benar-benar telah menjadi pasangan suami istri yang sah.

     Selama masa pranikah ini diketahui kemampuan masing-masing pihak, termasuk dalam soal pengetahuan agama; apakah masing-masing sudah bisa  mengaji dan lain-lain.

      Sedangkan pada saat memulang, dedare dibawa ke rumah laki-laki.Pemulangan yang lazim di masyarakat adalah menyopok atau menyatukan. Hal ini biasa dilakukan bersama keluarga.

Kemudian, melakak atau cara yang berlangsung dalam keluarga dekat dan orang jauh yang ada pertalian keluarga. Terdapat pula paulang atau larikan. Cara ini lazimnya dilakukan pada malam hari (selesai maghrib-isya) dibantu teman dibawa kerumah laki-laki biasanya seama tiga hari. Selama dilakukan paulang ini calon pengantin wanita tidak boleh dekat dengan calon pria. Para tetangga mengetahui hal ini dan mereka menjenguk dengan membawa sesuatu (gula,kopi, jajan,rokok, dan lain-lain).

      Proses yang harus dilalui calon suami istri sebelum memasuki jenjang rumah tangga menelan waktu lama. Melalui proses inilah masing-masing pihak akan mengetahui secara detil baik kelebihan maupun kekurangan masing-masing. Bahkan karena itu juga, jika kemudian terjadi ketidakcocokan, proses perceraian menelan waktu yang lama. Dalam soal perceraian, setidaknya selama tiga kali masing-masing pihak diminta berfikir ulang melakukannya. Pihak yang ingin mendamaikan datang dengan utusan berbeda-beda.

      Ada standar moral yang ditekankan dalam adat yang meliputi tanggung jawab suami istri dalam berkeluarga. Bahwa seorang suami harus memiliki tempat tinggal dan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Karena itu, seseorang yang melakukan perkawinan anak akan sangat sulit memenuhi ketentuan itu jika tidak benar-benar bekerja keras. Istilah akil baligh bukanlah standar baku perkawinan, melainkan memerlukan faktor-faktor utama lain seperti kemampuan finansial dan tanggung jawab.

     Setelah mengemukanya kasus perkawinan anak yang berlangsung selama bertahun-tahun, pelanggaran-pelanggaran ini baru disadari masyarakat adat. Terjadi degradasi nilai-nilai memulang yang sangat fundamental. Degradasi itu meliputi :

      Memulang yang semula diawali dengan midang mulai sangat jarang terjadi karena baik laki-laki maupun perempuan memilih berpacaran di luar rumah. Akibatnya, keluarga pihak perempuan tidak mengenal laki-laki yang menjadi kekasih anaknya.

      Memulang yang semula mengutamakan unsur-unsur kedewasaan pasangan berubah tidak lagi menekankan hal itu. Fakta itu nampak dari adanya pergeseran usia perkawinan yang semula diatas 20 tahun menjadi belasan tahun.

      Memulang  yang berlangsung selama tiga hari biasanya dalam jangka waktu itu dirangkai dengan besejati dengan serangkaian diskusi namun sering kali jatuh kesimpulan untuk segera menikahkan pasangan.

      Memulang yang semula menekankan kemampuan masih-masih pihak dalam membangun mahligai rumah tangga mulai mengabaikan faktor-faktor kunci ketahanan rumah tangga.

      Dampak yang timbul akibat pengabaian makna maupun filofsofi memulang menjadi sangat luas seperti timbulnya perceraian yang pada gilirannya melahirkan kemiskinan.  Sumber kerentanan anak yang cukup permanen pun dimulai dari perkawinan anak.

Melihat dampaknya yang luas, tokoh adat Dayan Gunung, Rasidep, memandang perlunya rivitalisasi adat. Para tokoh adat di Pulau Lombok, kata dia, perlu duduk bersama membahas persoalan ini agar dicapai jalan keluar mengatasi perkawinan anak. riyanto rabbah

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.