Berbagi Berita Merangkai Cerita

Perkawinan Anak di NTB (4), Memulang, Adat yang Disalahgunakan

45

Dibalik alasan yang cukup kompleks dari berbagai sisi kehidupan masyarakat, ada pintu masuk yang sering dilupakan dan dijadikan jalan mulus, yakni eksploitasi tradisi memulang. Hal ini didorong rapuhnya benteng ketahanan keluarga.

    Dari 60 an kasus perkawinan anak di 10 desa di KLU, berdasarkan identifikasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, seluruh indikasi perkawinan anak yang terjadi berawal dari dilarikannya anak gadis oleh pihak laki-laki. Dalam kasus-kasus tersebut, rencana itu ada diantaranya yang diketahui orangtuanya walau sebagian besar tidak diketahui.

     Dalam perkawinan adat Sasak, melarikan anak gadis dengan maksud untuk dikawini disebut merariq atau memulang (KLU). Tradisi itu hanya salah satu pilihan diantara pilihan lain seperti ngelamar dan dijodohkan. Ironisnya, memulang seakan-akan menjadi satu-satunya cara yang digunakan sebagai jalan mudah menempuh hidup baru.

    Ketika anak gadisnya dilarikan (memulang), pada sebagian besar orangtua perempuan sudah menganggapnya sebagai bagian dari prosesi perkawinan itu sendiri. Karena, ada hubungan yang erat antara memulang dengan tahapan berikutnya. Bahwa satu peristiwa ini akan diikuti peristiwa adat lainnya yang berakhir di pelaminan.

    Asumsi yang muncul, kalau peristiwa memulang sudah terjadi maka merupakan sebuah aib keluarga jika anak bersangkutan dikembalikan lagi kepada orangtuanya. Itulah sebabnya memulang kemudian akan dilanjutkan dengan besejati dan persiapan pernikahan lainnya. Sebaliknya  jika perkawinan dibatalkan  terdapat sanksi yang harus diterapkan dari yang berat hingga yang lebih ringan.

    Secara filosofis, adat memulang menunjukkan keperkasaan seorang lelaki. Tetapi, sebelum dilakukan memulang, orangtua si gadis sudah mengetahui sosok pria yang menjadi pilihan hati anak gadisnya. Itu bisa terjadi ketika sebelum memulang berlangsung midang (pacaran) yang juga menjadi tradisi Sasak.

     Dalam midang, ketika dua sosok berlainan jenis bertemu di rumah si gadis, di sanalah  ditanyakan identitas laki-laki dan kemampuannya bisa membajak sawah dan lain-lain. Khusus perempuan bisa memasak. Jadi, latarbelakang keduanya bisa diketahui dengan mudah, termasuk apakah kedua belah pihak sudah bisa mengaji.

     Kini, sebagian besar latarbelakang pria yang menjadi kekasih anaknya tidak diketahui, bahkan ketika kasus-kasus memulang mencuat, orangtua baru tersadar bahwa anak mereka sudah diarikan.

Pelanggaran dalam Tradisi Memulang

      Adat  memulang sebenarnya tidak akan menjadi masalah ketika yang terlibat bukan anak-anak dan prosesnya melalui tahapan-tahapan adat sebagaimana dijunjung tinggi generasi terdahulu.

     Fenomena akhir-akhir ini menunjukkan memulang dilakukan oleh anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah ataupun dalam usia dibawah 18 tahun. Karena itu,  kedua orangtuanya terutama orangtua pihak perempuan, sering kali tidak mengetahui sosok pria yang melarikan anaknya. Siapa dia? Dari mana asalnya, dan lain-lain.

    Sebagai contoh kasus yang terjadi pada diri Mawar, sebut saja namanya begitu. Suatu kali, dia mengenal seorang pria asal Lingsar melalui media sosial. Si gadis kecil, melalui adat memulang, dilarikan oleh pria pujaan hatinya. Sesampai di kediaman sang pria, Mawar terkejut karena baru mengetahui kekasihnya itu beda keyakinan agama dengannya.

    Perbedaan keyakinan menjadi daya tolak yang cukup tinggi dalam kasus seperti itu. Akhirnya, dia minta dijemput dan kembali ke rumahnya. Sang ayah pun baru mengetahui anaknya yang menghilang itu ternyata berniat kawin.  Beruntung, peleraian  berhasil dilakukan.

    Melarikan anak gadis dengan memanfaatkan tradisi memulang merupakan bentuk dari eksploitasi adat  yang pada gilirannya menimbulkan degradasi nilai-nilai adat itu sendiri. Pembiaran pada kasus-kasus perkawinan anak bisa membangun pola baru dalam budaya Sasak sehingga sering muncul istilah “merariq kodeq” yang menggerus budaya setempat.

    Salah kaprah terhadap pemanfaatan adat memulang tanpa disadari menyebabkan terjadinya pergeseran usia perkawinan orang Sasak dibandingkan generasi terdahulu dan terdegradasinya nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam budaya Sasak. Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam penunggangan adat/tradisi ini meliputi :

     Pertama, hilangnya nilai-nilai silaturrahmi dalam masyarakat. Karena, proses memulang di kalangan anak-anak tersebut sebagian besar dilakukan sepihak tanpa orangtua mengenal pihak lelaki. Pihak keluarga perempuan sering kali tidak mengetahui latarbelakang pria yang membawa lari anaknya.

     Memulang biasanya dilakukan selama tiga hari untuk mendiskusikan lebih lanjut kesepakatan kedua belah pihak. Ironisnya, upaya persuasif menyangkut kesiapan mental dan metarial selama jeda waktu tersebut sering dilupakan karena ujung terakhirnya bermuara pada perkawinan.

    Kedua, dalam Islam peristiwa besar perkawinan harus disebarluaskan bahkan ketika perkawinan itu masih direncanakan.  Dalam kasus perkawinan anak kerap kali hanya diketahui segelintir orang yang menghilangkan makna siar itu sendiri. Terlebih, perkawinan anak berlangsung dibawah tangan atau tidak tercatat.

     Tokoh adat Sasak, Putrawadi, mengemukakan memulang memang tidak diketahui orangtua pihak perempuan. Akan tetapi, sebelum memulang, orangtua perempuan sudah mengenali latarbelakang laki-laki dimaksud. Namun, kali ini pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan orangtua perempuan kepada pihak laki-laki tidak pernah ada lagi.

    Dalam konteks anak-anak yang dilarikan untuk kawin ditambah orangtua tidak mengenal pria yang melarikan anaknya, Putrawadi menilai bahwa itu merupakan pelanggaran norma adat. 

    Penyimpangan norma adat memulang yang sebetulnya menyaratkan kedewasaan pasangan itu berlangsung turun temurun dua dekade terakhir. Hal itu disebabkan beberapa faktor  :

  1. Penafsiran Agama

    Ada pihak-pihak yang membawa kasus perkawinan semata-mata pada penafsiran agama. Asumsinya adalah masa haid pada diri si gadis. Ketika seorang anak sudah mengalami haid atau akil baligh maka sudah dijadikan jalan pembenar perkawinan itu berlangsung. Hal-hal lain menyangkut tanggung jawab dan kesiapan material untuk menghidupi keluarga terlupakan. Islam dengan berpedoman pada Al-Qur’an yang menggariskan agar tidak mewariskan generasi yang lemah dilupakan begitu saja.

  • Pola Asuh

     Lemahnya pola asuh keluarga ditandai dengan sempitnya ruang komunikasi antara anak dan orangtua. Dalam menyampaikan keluh kesahnya, anak-anak lebih lancar mengemukakan kepada orang lain yang baru dikenalnya. Apalagi jika menemukan pasangan yang dianggap sebagai pemenang hatinya.

  • Pengetahuan Orangtua

     Pengetahuan orangtua terhadap dampak-dampak perkawinan anak sangat lemah. Itulah sebabnya, sebagian besar pernikahan anak terjadi di lingkungan masyarakat rentan seperti di pedesaan. Perkawinan akhirnya seolah-olah menjadi momentum melepas beban keluarga.

  • Masyarakat Belum Satu Suara

     Kendati satu pihak memahami dampak-dampak negatif yang ditimbulkan akibat perkawinan anak, dalam lingkungan masyarakat belum satu suara mendukung pencegahan perkawinan anak. Bahkan diantara dusun-dusun di satu desa masih terjadi selisih pendapat. Mereka yang mengetahui pelanggaran itu cenderung cuek.

    Norma adat dalam ketentuan perkawinan ini masih berbeda-beda antara satu dan yang lain akibat terjadinya pembiaran terhadap berbagai pelanggaran. Ketentuan adat Sasak yang berbeda-beda memungkinkan perkawinan anak terjadi walau sudah ada regulasi nasional yang melarangnya.

      Pada akhirnya perkawinan anak oleh segelintir tokoh desa dianggap sebagai momentun kesenangan (begawe) yang ditunggu-tunggu terutama di pedesaan. Di sana mereka bertemu dan merayakan pesta tersebut tanpa melihat kenyataan itu sebagai sebuah kasus yang berdampak cukup besar, harapan pada begawe justru sebuah bencana tak Nampak yang mengorbankan hak anak dan kualitas SDM daerah. riyanto rabbah

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.