Berbagi Berita Merangkai Cerita

Perkawinan Anak di NTB (3), Ada yang Sebut karena Budaya namun Begini Alasan Korban yang Paling Dominan

54

KLU merupakan kabupaten termuda di NTB. Memiliki sebanyak 5 kecamatan, 43 desa dan 428 dusun, daerah dayan gunung berpenduduk 220.412 jiwa. Dengan topografi berupa lereng, bukit pegunungan sekaligus pesisir lautan, kabupaten yang paling miskin di NTB itu mengalami musibah terparah gempa bumi tahun 2018. Parahnya, wabah corona menjadi musibah berikutnya disusul menanjaknya kasus perkawinan anak?

Di satu sekolah, akibat dampak pandemi Covid 19, anak-anak sibuk dengan PJJ. Ironisnya, pemanfaatan teknologi digital itu sering disalahgunakan untuk memudahkan “urusan” lain. Terjadi sejumlah-kasus perkawinan anak yang sulit terdeteksi.

Melihat kondisi tersebut, banyak yang kemudian mengaitkan dengan aspek adat dan budaya. Apakah itu semua dikarenakan dorongan budaya setempat?

    Ketua Majelis Adat Sasak, Bayu Windia, dalam akun fbnya menegaskan tuduhan pada “adat budaya” sebagai penyebab merariq kodeq merupakan anggapan yang sangat dangkal. Observasi yang dilakukan Majelis Adat Sasak (MAS) menemukan bahwa orang-orang Sasak pada zaman dulu, usia pernikahannya cukup tinggi, rerata 25 tahun. Lantas mengapa terjadi pergeseran usia yang begitu drastic?

     Hasil identifikasi LPA NTB menemukan beberapa alasan yang menyebabkan terjadinya perkawinan anak. Dalam kasus ini, biasanya sangat sulit dilakukan peleraian atau memisahkan anak agar tidak mengsungkan perkawinan. Alasan itu masing-masing kehamilan, kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, dan sanksi adat.

  1. Alasan Kehamilan

     Faktor kehamilan sangat dominan menjadi penyebab terjadinya perkawinan anak. Hal ini tidak lepas dari fenomena pergaulan bebas di masyarakat akibat lemahnya pengawasan keluarga. Bahkan kompleksitas masalah ini memincu berbagai kasus seperti prostitusi anak dimana anak-anak “dijual” oleh temannya sendiri kepada laki-laki lain yang berakibat pada kehamilan di luar nikah.

    Penyalahgunaan teknologi digital memberi kemudahan anak-anak mengakses informasi. Anak-anak mudah berkomunikasi dengan lawan jenisnya dan mengakses konten-konten negatif malah dimasa pandemi Covid 19. Dampaknya, tindakan asusila berupa hubungan suami istri sebelum menikah pun terjadi.

    Kasus seperti ini dinilai sebagai aib keluarga dan masyarakat. Peluang untuk mengembalikan posisi anak seperti terhalang, apalagi perkawinan bisa dilakukan secara siri (tidak tercatat). Kasus perkawinan anak dengan alasan kehamilan ini menempati posisi tertinggi.

     Pada masa lalu, adat memiliki formula dalam menyikapi kasus seperti ini. Cara penyelesaian adat terhadap kasus “too young to be married” pada zaman dahulu, menurut Ketua Majelis Adat Sasak, Bayu Windia,  berupa mediasi di kantor desa.     Kepala desa akan mengajukan beberapa pertanyaan dan menelisik kedua calon mempelai. Pada umumnya, akan dilihat level kecakapannya untuk mandiri secara ekonomi atau dikenal dengan istilah kencaq, cekatan, cakap, dan terampil.

    Sebagai masyarakat agraris, pertanyaan paling umum sebelum mereka dinikahkan adalah sejauh mana perempuan bisa mengerjakan kerja-kerja di sawah. Begitu juga kepada calon mempelai laki-laki akan ditanyakan kecakapannya dalam bertani dan keterampilan lainnya. Jika tidak bisa menjawab pertanyaan, maka mereka akan dipisahkan (tebelas).

      Perkawinan anak dengan alasan kehamilan sangat mendominasi kasus-kasus di KLU. Peleraian dalam situasi ini sangat sulit dilakukan karena selalu dihubungkan dengan sesuatu yang menodai atau aib keluarga. Orangtua pun mendorong dilakukannya memulang sebagai pintu masuk menyegerakan perkawinan itu terjadi.

  • Alasan Kemiskinan

     Tidak bisa dimungkiri masalah kemiskinan memiliki daya dorong kuat terhadap laju perkawinan anak di KLU. Dorongan orangtua (yang berada dalam taraf kemiskinan) ini berkorelasi langsung maupun tidak langsung dengan faktor tradisi. Orangtua yang miskin tidak serta merta mendorong anaknya menikah jika tidak dijumpai sebab-sebabnya.

    Ada kalanya untuk mencapai tujuan itu para orangtua akan mendorong anak mereka menikah ketika anak mereka dilarikan (bagi perempuan) sehingga memulang dijadikan pula sebagai pintu masuknya.

    Terdapat 5 kasus perkawinan anak dengan alasan kemiskinan di 10 desa di KLU. Anak-anak secara sadar mengatakan bosan terhimpit kemiskinan orangtuanya sehingga memilih menikah. Mereka pun beralasan ingin membantu orangtuanya dengan cara tidak mau menjadi beban keluarga lagi.

    Selain itu, ada kasus unik anak gadis yang dikawinkan yang didorong oleh lingkungan sekitarnya karena dikenal dengan kebiasaannya mencuri yang mengganggu orang-orang di sekitarnya.

  • Kekerasan dalam Rumah Tangga

     Ada seorang gadis di KLU melakukan perkawinan dengan alasan tertekan. Ia merasa kehilangan ruang bermain karena dibebani dengan pekerjaan memasak dan mengasuh keponakannya yang masih kecil. Kesibukan itu akhirnya membuat si gadis ingin mencari pelarian dan perlindungan lain sampai pada memilih menikah diusia dini.

  • Sanksi Adat

     Disebut alasan adat, terdapat satu kasus perkawinan anak yang disebabkan tepergok pulang larut malam bersama pria lain. Beberapa desa menerapkan awiq-awiq sanksi adat seperti ini yang membatasi perempuan pulang larut malam. Mereka harus dikawinkan walau kadang tidak dijumpai bukti yang menunjukkan bahwa mereka sudah berbuat selaiknya hubungan suami istri.

  • Suka Sama Suka

     Terdapat juga kasus anak perempuan yang seakan kebingungan dan putus asa sampai berjalan ditengah guyuran hujan setelah kabur dari rumah karena ingin bertemu kekasihnya. Di tengah jalan dia kemudian menelepon sang kekasih agar dijemput (dilarikan). Sementara itu, orangtuanya yang berada di rumah khawatir karena beberapa kali anaknya itu sempat mau bunuh diri tak mau dipisahkan. Akhirnya orangtuanya memuluskan jalannya  melalui memulang dan menikah.

      Tidak sedikit dijumpai kasus anak-anak sesama rekannya berjanji untuk susul menyusul melakukan perkawinan. Sehingga, ada rentetan perkawinan anak dalam waktu yang berdekatan di satu desa.ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.