A place where you need to follow for what happening in world cup

Perkawinan Anak di NTB (2), Fakta-fakta “Merariq Kodeq” di KLU

33

    Data Laporan Remaja Dinas Kesehatan KLU tahun 2018 dan 2019  menunjukkan betapa tinggi angka perkawinan anak di KLU. Remaja KLU yang hamil (sebelum berusia 18 tahun) sebanyak 910 (2018) dan 784 (2019) atau total sebanyak 1.694. Sedangkan yang hamil dan melahirkan pada fasilitas kesehatan sebelum berusia 18 tahun sebanyak 307 (2018) dan 521 (2019) atau total selama 2 tahun terjadi 828 kasus anak melahirkan anak.

    Memikirkan bagaimana anak-anak dalam menyikapi problem hidupnya setelah berkeluarga pun sesulit mencari keberadaan sosok mereka. Siapa mereka? Di mana mereka? Bagaimana keadaannya? Kendati rekam jejak mereka ada dalam  catatan sejumlah fasilitas kesehatan, di pemerintahan desa data keadaan mereka begitu sulit dicari.

     Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB kemudian mencoba melakukan pendataan di 10 desa dengan melibatkan para kadus dan fasilitator untuk menemukenali siapa mereka sesungguhnya.

Adapun desa-desa yang disurvei berkenaan dengan perkawinan anak masing-masing Desa Senaru, Desa Sukadana (Kecamatan Bayan), Desa Gumantar dan Desa Dangiang (Kecamatan Kayangan), Desa Tegalmaja dan Desa Jenggala (Kecamatan Tanjung), Pemenang Timur, Pemenang Barat (Kecamatan Pemenang), Sambik Bangkol dan Desa Gondang (Kecamatan Gangga).

    Berdasarkan survei LPA NTB diperoleh angka pelaku perkawinan anak  baik laki-laki maupun perempuan di 10 desa mencapai 248 orang. Jika dirata-ratakan terdapat 24,8 kasus anak nikah dini di satu desa atau 1.066,4 di seluruh desa di KLU. Merujuk jumlah anak yang hamil dan memeriksakan diri di fasilitas kesehatan selama 2018-2019, jumlah ini mendekati kebenaran. Para korban perkawinan anak yang terlibat dalam kasus itu dominan berusia 15-17 tahun.

    Terdapat 180 an anak yang menikah tahun 2018 dan tahun 2019 di Desa Senaru, Desa Sukadana, Desa Gumantar, Desa Dangiang, Desa Tegalmaja dan Desa Jenggala. Ada 4 desa yang mengalami peningkatan signifkan angka perkawinan anak tahun 2018 dibanding 2019, yaitu Desa Senaru, Desa Dangiang, Desa Jenggala dan Desa Pemenang Timur. Namun terdapat 3 desa yang mengalami penurunan angka perkawinan anak dalam kurun waktu tersebut, yaitu Desa Pemenang Barat, Sukadana dan Desa Gumantar.

    Hasil pendataan menemukan bahwa jumlah perkawinan anak dengan korban perempuan lebih dominan dibandingkan perkawinan anak dengan korban laki-laki. Dari perkawinan anak di 10 desa tersebut, misalnya, sekira 67 % korbannya adalah perempuan dan 33 % anak laki-laki.

    Artinya usia menikah/perkawinan anak perempuan cenderung  lebih muda dibandingkan dengan usia anak laki-laki.  Perkawinan diusia 13 – 16 tahun lebih banyak menimpa anak perempuan, sedangkan pada usia 17 hampir seimbang walaupun perempuan sedikit lebih tinggi.

    Fakta lain yang terungkap dari data tersebut, usia rawan anak perempuan menjadi korban perkawinan anak adalah usia 15 tahun hingga 17 tahun. Usia-usia tersebut berada pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan kelas I SMA.

     Tingkat pendidikan korban perkawinan anak di Lombok Utara lebih banyak sampai pada SMP (tamat SMP), tingkat Sekolah Dasar (SD) dan tidak sekolah /tidak tamat SD. Anak perempuan yang melakukan penikahan anak sebagian besar tamat SD, sedangkan anak laki-laki lebih banyak yang tamat SMP.

     Apakah yang menjadi akar persoalan ini? Adakah hubungannya dengan tradisi budaya masyarakat? Ataukah berlatarbelakang lain seperti hamil di luar nikah? (ian)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas