Berbagi Berita Merangkai Cerita

Perkawinan Anak di NTB (18), Orangtua Jojo Terkejut Ada Perempuan Muda di Rumahnya

88

Sepasang kekasih yang masih berusia anak dari KLU harus menunda rencana perkawinannya. Penundaan itu justru dilakukan oleh orangtuanya sendiri yang sudah menerima pembekalan pengetahuan dari para fasilitator TePAK.

Indikasi perkawinan anak itu melibatkan pelaku Jojo (sebut saja begitu) dengan Mawar, masing-masing masih berusia 16. Jojo berasal dari Desa Gumantar sedangkan Mawar 16 berasal dari Desa Dangiang. 

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (17/10/2020) sekira pukul 21.00  wita. Jojo melarikan Mawar ke rumah orangtuanya. Melarikan anak gadis merupakan salah satu tradisi di lingkungan suku bangsa Sasak. Pada saat itu, kedua orangtua Jojo terkejut karena melihat ada perempuan muda di rumahnya. Usut punya usut, ternyata Mawar bukan teman biasa karena Jojo hendak menikahi Mawar.

Ayah Jojo tentu tidak lantas menyetujui rencana anaknya. Bayangkan, usianya masih terlalu muda dan belum memiliki pekerjaan. Sang ayah bahkan sudah menerima pengetahuan terkait perkawinan anak. Karena itu, sang ayah melarang pernikahan itu berlangsung, terlebih ia sempat menjadi peserta pertemuan Tepak sehingga menjadi tahu dampak yang ditimbulkan perkawinan anak. Ia segera menghubung kepala dusun setempat, konselor dan kader Tepak Desa Gumantar.

Ia menghubungi kader Tepak mengingat sudah pernah mendapatkan pencerahan perlindungan anak dan pencegahan perkawinan anak dari kegiatan TePAK. Informasi itupun menyebar luas.

Pada pukul 23.00 dihari yang sama, kepala dusun, konselor dan kader Tepak  mendatangi rumah pihak keluarga anak perempuan  di Desa Dangiang untuk menyampaikan informasi  bahwa anak perempuaannya dibawa memulang  ke Desa Gumantar. Mereka   sekaligus menyampaikan  nasihat kepada orangtua perempuan agar tidak terburu-buru menikahkan anak alias dilakukan penundaan perkawinan hingga Mawar  berusia 19 tahun. 

Berkat pendekatan kadus dan para kader Tepak, keluarga pihak perempuan  menerima anaknya dikembalikan. Karena sudah dilakukan mamulang, pihak perempuan memberi  catatan   agar pihak  laki-laki  membayar  denda adat    sesuai  dengan  ketentuan  adat  yang  berlaku  di  Desa  Dangiang.

Upaya pencegahan perkawinan anak akhirnya berhasil dilakukan setelah Mawar dikembalikan lagi kepada orangtuanya. Selain itu, pihak keluarga anak laki-laki bersedia membayar denda adat. Sanksi adat itu berupa  bedak langeh (dimandikan di Kampu, tempat ritual adat Desa Gumantar).

Kerja Keras

Terjadinya kasus perkawinan anak memiliki latarbelakang yang berbeda-beda. Namun, keputusan itu sebagian besar berada di tangan anak-anak. Orangtua bahkan tidak mengetahui ketika anak gadisnya dilarikan. Sementara itu, pandangan orangtua ketika anak gadisnya sudah dilarikan menjadi aib jika dikembalikan lagi kepada orangtuanya.

Itulah sebabnya, usaha fasilitator forum anak dan LPA untuk mencegah perkawinan dini tidak selalu berjalan mulus. Kadangkala pihak pelaku dan korban mengancam. Hal itu terjadi ketika Liana, Topiandi dan Yana menemukan rencana pernikahan anak asal Desa Senaru, Kecamatan Bayan, KLU.

Persitiwa itu didengarnya pukul 24.00 wita tanggal 31  Mei 2020. Pelakunya SR, pria berusia 30 tahun yang melarikan YR, perempuan 16 tahun, Keduanya berasal dari dusun yang sama.

Pada tengah malam itu kadus dan keluarga pihak perempuan sudah berusaha melerai namun tidak berhasil karena perempuan mengancam akan bunuh diri jika mereka dipisahkan.

Keesokan harinya tim LPA dan fasilitator forum anak turun lapangan. Tim LPA mengunjungi keluarga pihak perempuan untuk diberikan pemahaman agar peleraian tetap dilakukan mengingat riskannya jika anak-anak harus menikah. Setelah diajak ngobrol dan diberi pemahaman mereka akhirnya bersedia dilerai dengan syarat tim LPA harus melakukan perundingan dengan keluarga pihak laki-laki.

Tim LPA mengunjungi  keluarga laki-laki dengan mengajak kepala dusun setempat. Tetapi kepala dusun berhalangan ikut hingga akhirnya hanya mereka yang berkunjung. Setelah berunding dengan keluarga pihak laki-laki, akhirnya kedua belah pihak bersedia untuk melerai anak mereka.

Pencegahan tidak berhenti di sana. Dinas Sosial KLU, LPA, fasilitator forum anak, konselor desa, ketua PKK dan anggota, serta kepala desa datang untuk menjemput perempuan berinisial YR. Ironisnya,  ketika dalam perjalanan pelaku sempat kabur karena tidak ingin dipisah.

Tidak lama setelah kabur mereka kembali ke rumah Kades dan keluarga perempuan datang lagi untuk diberikan pemahaman. Setelah semuanya setuju akhirnya keduanya berhasil dibelas dan kembali ke rumah masing-masing.

Dalam kesempatan itu, pihak keluarga laki-laki membuat surat pernyataan bahwa SR tidak boleh mengulangi lagi kesalahannya menikahi anak dibawah umur. Surat ditandatangani diatas materai.

Sepekan setelah kesepakatan tersebut, muncul kabar baru bahwa mereka nekat menikah. Karena nekat, diupayakan kemudian lewat jalur dispensasi agar mereka bisa menunggu saat yang tepat. Sayangnya, belum saja jalur itu diselesaikan mereka sudah menikah di bawah tangan. Tersiar kabar kenekatan tersebut karena suatu sebab yang dianggap aib.

Menurut psikolog Unram Puji Arrahman, anak-anak melampiaskan dirinya pada perkawinan karena merasa tidak nyaman di depan orangtuanya. Komunikasi antara anak dan orang tua kurang berlangsung baik sehingga anak-anak mencari limpahan kasih sayang dari orang lain. Artinya, tindak lanjut setelah peleraian harus dilakukan berkala dan berkesinambungan untuk menutup celah munculnya hubungan asmara itu kembali.

Di sisi lain ada pengamalan adat yang salah kaprah yang dinilai juga sebagai penyebab mereka kembali lagi dan memaksakan diri untuk menikah dini walau sudah berhasil dilerai. Ketika perempuan dilarikan, mereka sudah dianggap berada dalam satu rumah bahkan satu kamar selama beberapa hari sebelum akad nikah. Inilah yang menyebabkan ada kesan aib dalam kasus tersebut.

Selain itu komitmen koselor desa yang berperan dalam menangani kasus-kasus semacam itu masih rendah dan cenderung kurang peduli, termasuk masih minimnya pelibatan tokoh agama dan tokoh adat dalam menyikapi masalah tersebut.

Peleraian memerlukan keterlibatan berbagai pihak, dari para relawan anak, aparat desa termasuk kades, tokoh adat dan agama, psikolog dan Dinas Sosial setempat termasuk Dinas Pendidikan. Hal itu bertujuan agar anak-anak yang sudah berhasil dilerai kembali utuh sebagai anak untuk bersekolah dengan cita-cita yang masih panjang.ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.