Berbagi Berita Merangkai Cerita

Perkawinan Anak di NTB (16), Begini Heroisme Para Aktifis Cegah Perkawinan

34

Para aktifis perlindungan anak harus senantiasa awas. Mata dan telinga dipasang di tiap desa untuk mengendus perilaku “menyimpang” anak-anak.

Suatu hari, tersiar kabar akan berlangsung perkawinan anak yang melibatkan warga Desa Senaru dan Desa Loloan. Mendengar informasi itu, fasilitator Temu Penguatan Kapasitas Keluarga dan Anak (TePAK), Liana, Topiandi dan didampingi Yana dari LPA KLU, langsung beranjak. Ia beranjak ketika NA (16 th), warga Desa Senaru sudah dilarikan pemuda SR (23 th) asal Desa Loloan.

Informasi itu didengar persis setelah empat hari kejadian memulang diawal bulan Juni tahun 2020.

Rencana perkawinan anak  itu bermula dari dilarikannya gadis cilik asal dari kediaman orangtuanya. Selama empat hari NA tidak pulang-pulang. Orangtuanya memahami bahwa putrinya dilarikan untuk dikawini pemuda asal desa tetangga. Dan, itu dianggapnya sudah biasa di lingkungannya.

Peristiwa itulah yang membuat mereka sangat bersemangat untuk melakukan pencegahan. Menggunakan sepeda motor, para relawan ini menggenjot laju melakukan kunjungan ke kediaman NA untuk mengetahui informasi terbaru tentang gadis itu dari orangtuanya.

“Setelah bertemu kedua orangtunya, kami jelaskan tujuan kedatangan bahwa perkawinan anak merugikan kesehatan anak. Apalagi NA baru tamat SMP,” tutur Yana. Usut punya usut, ternyata ujung sebenarnya si anak berkeinginan untuk melanjutkan sekolah. Akan tetapi kedua orangtuanya sudah merasa tidak sanggup membiayai sekolah anaknya.

Setelah dikomunikasikan untuk dilakukan upaya pencegahan, ternyata keluarga perempuan tak mau anaknya yang sudah dilarikan dilerai. Para fasilitator tidak hilang akal walau orangtuanya bersikap dingin. Mereka mengontak kepala Desa Senaru dan Loloan untuk memberitahukan rencana pernikahan itu. Akhirnya, Kepala Desa Senaru, Raden Akribuana, datang di kediaman orangtua NA dan ikut menjelaskan terkait bahaya terjadinya perkawinan anak.

Bahkan, dalam kesempatan itu Kades mengancam warganya yang menikah dini berupa sanksi tidak akan melayani kebutuhan administrasi jika mereka nekat menikah.

Kedua orangtua NA sendiri yang bekerja sebagai buruh serabutan akhirnya luluh menyetujui anaknya dibelas. Hanya saja, mereka tidak bisa berbuat banyak untuk menghubungi pihak laki-laki yang melarikan putrinya.

Merasa bertanggung jawab untuk melakukan upaya pencegahan, Liana dan kawan-kawan berinisiatif mengunjungi NA di kediaman pacarnya. Namun, di tengah jalan ada yang berusaha menghalangi dengan beberapa alasan. Tekad untuk mencegah perkawinan anak tetap membuncah menghalau penghalang. Bersama salah seorang kakak NA, mereka tetap berangkat. Setiba di sana mereka sudah mendapati kadus setempat, pihak laki laki dan keluarganya. 

Upaya pendekatan dilakukan dengan berbagai argumentasi  seperti adanya regulasi UU Perlindungan Anak dan dampak-dampak negatif lainnya. Akhirnya, berkat pendekatan yang dilakukan, pihak laki laki setuju agar keduanya dibelas. Sebelum pamit, mereka menelepon Kades Loloan, Mahyudin, agar bertemu dengan Kades Senaru untuk turut serta turun tangan dalam kasus  yang terjadi awal Juni 2020 itu.

Kedua Kades diharapkan bertemu mengingat pihak laki-laki sudah menyerahkan ajikrama sebagai persiapan perkawinan. Kedua kades akhirnya berhasil dipertemukan pada ba’da maghrib untuk membahas persoalan tersebut.

Di hadapan Kades pada tanggal 3 Juni 2020 mereka menandatangani surat pernyataan tidak melakukan perkawinan bawah umur. Hadir menyaksikan peristiwa penandatanganan itu keluarga pihak laki-laki dan perempuan serta kepala dusun. Upaya pencegahan berhasil karena pihak perempuan kemudian dikembalikan ke rumah orangtuanya.

Namun, pendekatan tidak berhenti di sana karena masih ada celah gadis itu akan direngkuh kembali. Oleh sebab itu, fasilitator anak mencari sebanyak-banyaknya stakeholders, salah satunya Dinas Sosial KLU dan seorang psikolog. Pada tanggal 12 Juni, tim dari Dinsos beserta psikolog datang ke kediaman NA guna memberikan pencerahan.

Semula NA merupakan gadis yang ketus dan selalu murung. Setelah diajak berkomunikasi oleh psikolog Unram, Pujiarrohman, dia mulai sedikit berubah dari pendiam menjadi lebih ceria dan tertawa. Pada saat itu, pihak Dinsos menawarkan jalan keluar agar NA kembali sekolah. Namun pihak keluarga masih enggan menanggapi tawaran itu.ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.