Berbagi Berita Merangkai Cerita

Perkawinan Anak di NTB (14), Ternyata Forum Anak Berkontribusi Besar Lakukan Pencegahan

22

Pembentukan forum anak di tiap desa memberi dampak positif dalam mencegah terjadinya perkawinan anak mengingat mereka bisa dengan cepat melaporkan kejadian perkawinan anak yang ada di desanya. Hal ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena masyarakat terkesan menutup-nutupi kasus dan mereka yang mengetahuinya enggan bahkan takut melapor.

Forum anak itu oleh LPA NTB semula dibentuk di 10 desa di Kecamatan Bayan, Pemenang, Gangga, Kayangan, dan Tanjung, namun kemudian  bertambah menjadi 13 desa setelah adanya pemekaran desa dengan jumlah anggota 271 anak. Keberadaan forum anak ini membangun sikap peduli khususnya dalam pencegahan perkawinan anak. 

Peran forum anak di lingkungan masyarakat cukup besar dalam mencegah perkawinan anak melalui pelaporan yang mereka lakukan. Melalui peran serta anak itulah fasilitator anak, kadus, kades, tokoh adat, babinsa, konselor desa, bahu membahu menyelesaikan kasus perkawinan anak.

Justru ketika muncul forum anak kasus perkawinan anak mulai terbuka ke publik berkat laporan forum anak. Jika sebelumnya identitas pelaku tidak diketahui, kini sudah diketahui masyarakat. Kalau semua desa tidak memiliki data kasus tersebut,kini masyarakat sudah mulai menyaksikan secara langsung pelaku-pelakunya.

Perkawinan anak itu sendiri sebetulnya tidak diinginkan masyarakat KLU, termasuk di kalangan anak-anak. Jika belum melaporkan apa yang mereka ketahui, itu semua disebabkan belum lahirnya forum anak. Karena itu mereka bingung mau ke mana melaporkan kasus seperti ini. Sekarang mereka bisa melapor ke LPA dan fasilitator anak.

Hasilnya, sejak bulan Februari hingga Agustus 2020 anak-anak sudah melaporkan kasus perkawinan anak sebanyak 10 kasus di Desa Senaru dan Sukadana. Keterlibatan mereka sebagai pelapor yang kemudian ditindaklanjuti segenap unsur masyarakat berhasil melerai 6 kasus, sedangkan 4 kasus tetap melakukan perkawinan anak karena diantaranya (2 kasus) kehamilan.

Forum anak juga melaporkan 1 kasus perkawinan anak di Desa Dangiang yang kemudian berhasil dilerai.  Kasus yang satu ini melibatkan dua orang anak baik yang laki maupun perempuan yang diselesaikan secaraadat gubuk.

Terdapat pula sebanyak 2 kasus di Desa Jenggala pun hasil laporan anak yang satu kasus diantaranya berhasil dilerai. Sehingga untuk 4 desa saja forum anak berhasil melerai 8 dari 12 kasus. Kasus lain yang berlanjut ke jenjang perkawinan didorong berbagai faktor  diantaranya kehamilan.

Keberanian anak melaporkan setiap kejadian perkawinan yang melibatkan anak-anak tidak lepas dari semakin baiknya pemahaman terhadap dampak-dampak yang diakibatkan oleh masalah tersebut. Terdapat pula pengetahuan menyangkut berbagai regulasi seperti UU Perkawinan,UU Perlindungan Anak, dan rencana Perda dan Perdes di tingkat daerah.

“Kami selalu memberikan pembekalan kepada anak-anak sehingga mereka semakin faham dampak yang disebabkan perkawinan anak,” kata Mariyanti, salah seorang fasilitator anak di Desa Jenggala. Dia meyakini kasus perkawinan anak bisa ditekan melalui peran forum anak dan stakeholder lain dalam menindaklanjutinya.

Daya tolak anak-anak terhadap perkawinan anak di Kabupaten Lombok Utara pun kian menguat. Forum Anak Desa Tegal Maja misalnya, bahkan berpartisipasi menyebarluaskan informasi terkait bahayanya perkawinan anak. Mereka memasang spanduk vinil berisi bahaya menikah usia anak. Pemasangan spanduk tersebut dilakukan di obyek pariwisata Air Terjun Sekoah Leong Timur desa setempat.

Ide ini berawal dari penyusunan rencana aksi forum anak yang salah satunya berupa sosialisasi pencegahan perkawinan anak di desa. Semula forum anak hanya memasang poster berukuran kecil menggunakan kertas hvs yang dilaminating dan dipajang di pohon. Namun, upaya sosialisasi di batang pohon itu menerima reaksi pencopotan dari Pokdarwis karena dinilai merusak pohon. Akhirnya forum anak membuat vinil berukuran besar dan diperbolehkan dipasang Senin tanggal 21 September 2020.

Hal ini cukup menarik perhatian publik di obyek wisata itu mengingat gambar dan pesan yang disajikan cukup mengena. Terlebih pengunjung dihari biasa mencapai 10 – 15 orang dan hari libur 20 sebanyak orang. Menurut Bery dari Forum Anak Desa Tegal Maja, memajang vinil tersebut sebagai upaya sosialisasi pencegahan perkawinan anak menyusul maraknya perkawinan anak di KLU.

“Namun,  itu hanya salah satu upaya. Pola lain dilakukan melalui diskusi baik dengan anak maupun orangtua serta membuat grup-grup pencegahan perkawinan anak di media sosial,” ujarnya.

Related Posts

Menurutnya.dampak forum anak terhadap penekanan kasus perkawinan anak cukup besar. Sejak dibentuk Forum Anak di Tegal Maja, tahun 2020 tidak ditemui adanya perkawinan anak. Tahun sebelumnya yakni 2019 terdapat dua kasus. Dalam posisinya di forum anak, Bery mengemukakan berupaya melakukan berbagai pendekatan agar perkawinan anak tidak terjadi di desanya.

Sementara kasus- kasus perkawinan anak yang terjadi sebelumnya disebabkan faktor ekonomi dan putus sekolah. Anak-anak yang tidak sekolah itu memilih menikah dan didorong pula oleh orangtuanya karena belitan ekonomi. Bery mengatakan anak anak sebayanya sudah mulai mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat perkawinan anak.

Disisi lain, partisipasi  forum anak mulai menguat di tingkat desa. Forum anak mulai diberi ruang berpartisipasi dalam kegiatan dan memberi masukan berbagai program di desa. Keterlibatan anak itu menimbulkan keinginan dari para orangtua memasukkan pula anak-anaknya di forum anak.

Mereka memberi masukan kepada pemerintahan desa dalam Musrenbang Anak yang berlangsung di 10 desa, termasuk dalam berbagai pertemuan yang mengundang mereka. Salah satu masukan anak selain pencegahan perkawinan anak, kesehatan reproduksi, pembentukan lingkar remaja, juga upaya-upaya kreatif pengolahan sampah menjadi barang yang bermanfaat.

Menguatnya  penolakan terhadap perkawinan anak membuat tokoh masyarakat meminta agar dilakukan peniadaan tradisi perkawinan versi melarikan anak dan diubah dengan cara melamar. Tradisi ini menimbulkan persoalan perkawinan anak dan persoalan dalam rumah tangga mengingat  orangtua sering kali tidak tahu anak mereka dilarikan.ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.