BSK Samawa

Perkawinan Anak di Lombok Bukan karena Masalah Adat Budaya

Mataram, DS-Terjadinya perkawinan acap kali diklaim disebabkan adat budaya. Ketua Majelis Adat Sasak Kabupaten Lombok Barat, H. Moh. Rais, membantah anggapan faktor adat budaya sebagai penyebab ramainya perkawinan anak di Lombok.

Rais menuturkan dalam parameter budaya, usia orang yang diperkenankan menikah. Dalam pranata adat, kata dia, tidak dikenal umur seseorang boleh menikah akan tetapi dikenal istilah dewasa, yakni 22 tahun untuk perempuan.

Dewasa untuk perempuan biasanya jika sudah mampu merangkai kapas menjadi benang dan mengolahnya menjadi kain tenun.

Sedangkan laki laki bisa disebut dewasa jika bisa menggembalakan sapi 22 ekor atau disetarakan dengan umur 23-24 tahun.
“Usia laki laki yang bisa menikah 23 – 24 tahun, ” ujar Rais.

Pada dialog deklarasi penandatanganan komitmen bersama dan MoU lintas sektor untuk pencegahan perkawinan anak di NTB di Gedung Sangkareang Kantor Gubernur setempat, Jumat (3/5), Rais.mengaku bahagia semua unsur sudah nyatakan sikap bersama menyikapi perkawinan anak.

Ia menambahkan tahun 2009 sudah punya awig awig di desa dalam menyikapi masalah ini. Bahkan, kata dia, Majelis Adat Sasak mendapat penghargaan presidsn karena mendorong awig awig pencegahan perkawinan anak.

“Namun hal yang paling penting adalah anggaran, ” cetusnya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, mengemukakan mengatasnamakan budaya untuk perkawinan anak tak cuma di NTB tapi daerah lain.

“Mari carikan solusi. Tak ada budaya perkawinan anak, ” katanya seraya menambahkan bahwa investaai paling berharga adalah SDM yang akan membawa tongkat estafet generasi ke depan. Ian

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.