Berbagi Berita Merangkai Cerita

Peredaran Mutiara Palsu dari China Bisa Gerus Kepercayaan pada Mutiara Asli NTB

25

FOTO. Yusron Hadi. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB H. Yusron Hadi menilai beredarnya mutiara palsu dari China di NTB akan mempengaruhi identitas daerah sebagai penghasil mutiara laut selatan terbaik.Sebab, mutiara menjadi brand NTB yang dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil mutiara laut terbaik di dunia.

“Keberadaan mutiara palsu asal China itu bisa menggerus keberadaan dan kepercayaan konsumen terhadap mutiara asli NTB,” ujar Yusron pada wartawan, Sabtu (27/2).

Yusron mengungkapkan, bahwa saat ini pihaknya tengah dalam proses membuatan hak kekayaan georafis NTB atas mutiara laut yang dihasilkan. Mengingat, banyak hasil produksi mutiara Lombok dikirim keluar negeri maupun daerah lainnya. Adanya hak paten tersebut, tentu dapat mengurangi peredaran mutiara palsu asal China beredar di NTB.

Selain itu, lanjut Yusron, salah satu upaya DKP NTB untuk melindungi keaslian mutiara Lombok, nanti, akan melibatkan dari pihak terkait lainnya untuk melindungi keberadaan mutiara asli Lombok .

Menurutnya, kehadiran mutiara palsu yang di impor dari China tentu akan mengganggu hasil produksi mutiara laut Lombok. Apalagi dari sisi penjualan dapat menurun. Sedangkan, bagi pembudidaya maka stok mutiara akan bertambah, mengingat pengiriman ke luar berkurang.

“Masalahnya jangan sampai indentitas Lombok sebagai mutiara laut selatan ini menjadi tercemar. Karena masuknya bahan-bahan mutiara yang tidak asli itu harus kita jaga,” tegas Yusron.

Dijelaskannya, saat ini ada sekitar 17 perusahaan yang memproduksi mutiara laut, baik pembudidaya maupun pemelihara. Tetapi jika memang ada mutiara laut masuk, hal ini perlu diperhatikan oleh instansi terkait, agar dapat mencegah tidak masuknya lagi mutiara palsu dari  China.

“Sekarang ini produksai mutiara NTB hasilnya sekitar 450-500 kilogram (kg) dan ini merupakan mutiara air laut dengan kualitas terbaik,” tandas Yusron Hadi. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.