Berbagi Berita Merangkai Cerita

Percepat Pemulihan Gempa Palu, DPRD Sulteng Kunjungi NTB

15

Mataram,DS- Keberhasilan Provinsi NTB dalam percepatan, rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa bumi tahun 2018 lalu menuai apresiasi dari Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah lain di Indonesia. Salah satunya adalah Provinsi Sulawesi Tenggara yang ingin menggali lebih banyak tentang upaya Pemerintah Provinsi NTB membangun sinergi dengan pemerintah kabupaten kota yang terdampak gempa, sehingga  berhasil melakukan proses rehab rekon lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

Pasalnya, beberapa bulan kemudian pada tahun yang sama tepatnya pada bulan 28 September 2018, gempa bumi kembali mengguncang Kota Palu dan beberapa kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara, disusul dengan tsunami dahsyat yang menewaskan ribuan orang. Bahkan sebagian besar desa dan susun yang terdampak bencana itu terkubur oleh tanah.

Untuk itu, rombongan Pansus Rehab/Rekon Palu, Donggala, Sigi dan Parogimoutong (Padagimo) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Povinsi Sulawesi Tenggara mengunjungi daerah NTB yang diterima langsung oleh Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah  didampingi Kalak BPBD NTB di ruang kerjanya, Selasa (11/08).

Gubernur NTB yang akrab disapa Dr. Zul mengatakan bahwa bencana gempa bumi tahun 2018 menyisakan trauma panjang bagi masyarakat NTB yang terdampak. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal, ratusan nyawa melayang bahkan sebagian orang kehilangan mata pencaharian. Namun, bencana itu bukan untuk terus diratapi dan sesali, ada sejuta hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran untuk terus bangkit dan menata hidup yang lebih untuk kedepannya.

“Semangat itulah yang membuat kami cepat bangkit dari musibah,” ungkap Dr. Zul dihadapan puluhan Anggota DPRD Sulteng.

Bahkan Dr. Zul mengakui sebelum dirinya dilantik jadi gubernur, gempa sudah lebih awal mengguncang NTB. Sehingga beban amanah yang harus dipertanggungjawabkan menjadi semakin berat. Meski demikian, tak menyurutkan semangatnya untuk terus membangun sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah kabupaten kota, TNI, Polri serta masyarakat untuk saling menguatkan dan bangkit dari bencana.

“Kenapa pemulihan pasca gempa di NTB relatif cepat, bukan hanya membangun sinergi dengan pemerinta kabupaten kota serta masyarakat. Kami juga perkuat komunikasi dengan pemerintah pusat, para menteri maupun anggota DPR RI. Sehingga upaya kami untuk melakukan rehan rekon relatif lebih cepat,” jelas doktor ekonomi industri tersebut.

Selain itu, lanjut orang nomor satu di NTB itu, untuk mempercepat pemulihan pasca gempa. Pemerintah terus menyapa pemerintah kabupaten kota yang terdampak dengan tawaran kebijakan, kerja sama serta anggaran yang dapat meringankan beban mereka. Apa yang mereka butuhkan, pemprov dengan siap siaga segera penuhi.

“Pokoknya kami sering-sering menyapa para bupati walikota. Kita selalu jemput bola apa yang dibutuhkan oleh daerah yang terdampak. Begitupun juga upaya yang kami lakukan untuk menghubungkan pemerintah kabupaten kota dengan pusat. Karena pentingnya pimpinan daerah memiliki akses ke Pusat. Kolaborasi itulah yang membuat maayarakat kami cepat bangkit,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Pansus Rehab Rekon Padagimo, Budi Luhur Laringi mengatakan, kunjungan ini untuk mengetahui pola pelaksanaan pemulihan pasca gempa di Lombok. Yang nantinya, DPRD Sulteng dapat melakukan kolaborasi dengan pemerintah kabupaten kota yang terdampak gempa Palu. Sehingga upaya yang diterapkan oleh Pemprov NTB selama ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam mempercepat pemulihan bagi Empat kabupaten kota yang terdampak gempa bumi.

“Kami harus banyak belajar dari NTB terkait proses rehab rekon yang dilakukan selama ini,” jelasnya dihadapan gubernur NTB.

Ia menjelaskan, rombongan DPRD ini memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap empat kabupaten kota yang terdampak gempa Palu yaitu, Pertama Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parogimoutong. Dimana tugasnya adalah mempercepat rehabilitasi rekonstruksi, bagaimana pemulihan ekonomi dan pemulihan psikologis masyarakat yang terdampak.

“Meski gempa di Lombok tidak separah dengan gempa Palu. Sehingga wilayah kami porak poranda bahkan sebagi dusun dan desa banyak yang hilang. Karena itu, kami ingin banyak belajar di NTB agar masyarakat segera menata hidup yang lebih baik lagi,” katanya.

Menurutnya, persoalan baru yang hadapi saat ini adalah terkait lahan yang banyak yang hilang. Desa, dusun banyak yang berpindah-pindah. Sehingga menyulitkan pemerintah untuk mengambil kebijakan yang tepat. Sehingga rumah-rumah warga yang telah dibangun kembali hanya sebanyak 10 ribuan unit dari 15 ribuan unit rumah yang rusak. Belum lagi infrastruktur yang banyak rusak yang membutuhkan anggaran yang cukup besar.

“Untuk itu, mudah-mudahan kedatangan kami di NTB ini banyak memberi pelajaran dan pengalaman untuk mempercepat pemulihan di daerah kami,” tutup ketua Pansus itu. man

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.