Berbagi Berita Merangkai Cerita

Pentahelix Pariwisata dan Harapan Pintu-pintu Usaha yang Terbuka

120

Banyumulek tak lagi bersinar seperti dulu. Sentra kerajinan tangan di Kabupaten Lombok Barat yang sempat mendunia itu seakan-akan menjadi bagian dari kepingan-kepingan masa lalu. Apalagi dimasa pandemi Covid-19 yang menyusutkan segala sesuatu yang pernah berkembang. Namun, bukan berarti segalanya berakhir. Sebab, pintu-pintu usaha masih terbuka melalui berbagai strategi dan inovasi.

Dahulu, pintu-pintui artshop di Banyumulek terbuka lebar seiring kemajuan sektor kepariwisataan. Banyak jutawan yang muncul dari kawasan yang terkenal dengan kerajinan gerabah itu. Sekarang, sebagian pedagang menjajakannya produk tanah liat itu kepada penduduk lokal. Berbagai jenis kerajinan gerabah yang terjual bisa dibilang hasilnya untuk menyambung hidup.

    Sejumlah pedagang sekaligus perajin kini masuk ke kantor pemerintah maupun swasta untuk mencari pembeli produk kerajinan berupa celengan, asbak, tungku dan apapun yang dipesan. Jika barang yang dicari tidak tersedia maka akan dibuatkan dengan segera. Tidak sedikit warga kemudian merogoh duit lebih dari biasanya hanya untuk membantu sang perajin.

      Situasi di Banyumulek hanya salah satu contoh terjadinya degradasi produk massal hasil karya seni yang biasa diekspor ke berbagai negara. Selain Banyumulek, sentra kerajian seperti Rungkang Jangkuk di Kota Mataram pun setali tiga uang.

     Hal itu tidak lepas dari ditutupnya sejumlah obyek wisata sebagai pilihan berlibur. “Sekarang pesanan dari luar negeri belum ada,” ujar H.Sahrun, karyawan artshop Rara. Terakhir adalah pemenuhan pesanan dari Timur Tengah, sekarang yang tersisa hanya dari warga lokal dan seisanya dari Jakarta dan Surabaya.

     Hal serupa diakui H.Nasri, pemilik Dodik Artshop. Dia semula berharap pemasaran produk datang dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Lombok. Biasanya, pada bulan Agustus ketika permintaan meruah, dia beserta 10 pegawainya disibukkan mengerjakan pesanan. Kondisi lesu saat ini membuatnya terus berfikir agar para pegawainya tetap eksis.

     Nasri hanya meyakini suatu saat kelak pandemi berakhir sebagaimana musibah yang selalu ada akhir. Hobinya di bidang itu sejak belasan tahun yang lalu membuatnya tak bisa beralih ke lain profesi. Karenanya, sekali waktu ia memposting hasil kerajinan itu di dunia maya, menyebarkan leflet atau bekerjasama dengan pihak travel untuk membangun relasi.

     “Alhamdulillah sekarang masih bertahan,” katanya terkait pintu artshopnya yang masih terbuka. Fakta yang menggembirakan, instansi pemerintah baik dari Pulau Lombok maupun Sumbawa, rata-rata memesan furniture artistik darinya.

     “Bersyukur jika suatu saat ada regulasi menyangkut kewajiban instansi pemerintah menggunakan furniture buatan lokal, itu bisa membantu,” harapnya seraya menambahkan artshopnya masih bisa hidup jika ada pesanan minimal senilai Rp 50 juta sebulan.

     Itulah sebabnya berbagai upaya dilakukan agar karyawan tetap memiliki penghasilan dimasa pandemi meskipun pahit bagi pengusaha. Modal untuk bertahan adalah dengan terus menerus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak walau mencoba berkorban sedikit harga.

     Bagi Nasri, pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama beberapa bulan merupakan pukulan telak terberat dibanding bencana lain. Ada dua pukulan berat yang dirasakan. Pertama, kehilangan sebagian konsumen dan kedua kekhawatiran kehilangan karyawan.

    Pada masa lalu ketika peristiwa bom Bali menggemparkan dunia, Rungkang Jangkuk pernah kehilangan 75 persen perajin karena pesanan sepi dan mereka beralih profesi. Jika para perajin sudah beralih profesi maka sulit untuk diajak kembali sehingga banyak artshop di Rungkang Jangkuk berubah jadi kamar kost.

  • “Dulu dengan laku satu jenis kerajinan pengusaha di sini bisa menambah sepuluh jenis barang kerajinan yang sama. Sekarang laku satu jenis kerajinan hasilnya habis untuk makan”

     Seperangkat sofa antik dengan pernik-pernik kerang yang biasa dijual Rp 10 juta misalnya, bisa menjadi Rp 9 juta atau Rp 9,5 juta. “Dulu dengan laku satu jenis kerajinan pengusaha di sini bisa menambah sepuluh jenis barang kerajinan yang sama. Sekarang laku satu jenis kerajinan hasilnya habis untuk makan,” katanya terkait seretnya permintaan.

      Pukulan berat perekonomian itu hampir merata di seluruh daerah. Anggota Komisi II DPRD Lobar yang juga pelaku pariwisata Sekotong, Loezawa Abdul Madjid, pada sebuah webinar mengatakan ketika pariwisata kelimpungan PAD pun kelimpungan yang berimbas pada APBD dan kesejahteraan masyarakat. BPS Lobar mencatat sampai Maret 2020 penurunan jumlah wisatawan  mencapai 64,19 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenyataan tersebut langsung atau tidak langsung berdampak pada perekonomian masyarakat.

     “Kita dituntut untuk kreatif dan menggunakan teknologi yang ada ditengah pandemi Covid-19,” kata Loezawa. Menurutnya, pariwisata adalah leading sector unggulan sehingga pemerintah harus seimbang memberikan sesuatu.  Ketika bencana pariwisata terjadi, pemerintah mesti aktif sebagaimana sektor ini aktif menyumbangkan devisa yang tinggi kepada pemerintah pada masa normal. “Korelasi itulah yang harus dibangun agar masyarakat bisa bertahan,” harapnya.

Fase Pembangunan dalam Krisis

     Krisis dunia kepariwisataan saat ini bukan yang pertama terjadi. Dosen STP Mataram, Muhammad Jumail, M.Par, mencatat dalam dua dekade terakhir sebanyak 46 kali krisis global menimpa sektor pariwisata. Krisis itu dipicu bencana alam, terorisme maupun wabah virus.

     Goncangan demi goncangan berdampak serius bagi dunia pariwisata. Setelah rada pulih dari dampak gempa tahun 2018, muncul yang lebih menghebohkan yaitu virus corona yang menimbulkan berjimbunnya angka kematian dan ditutupnya sejumlah obyek wisata.

     Tourism Creative Strategic Expert Fouder, Taufan Rahmadi, dalam webinar “Manajemen Krisis Pariwisata: Peranan Pentahelix Pariwisata dalam Menghadapi Krisis Kepariwisataan” Rabu (5/8), merinci beberapa fase dasar yang mesti dilalui dimasa pandemi. Fase itu masing-masing respond, reset, restart, recovery, dan renew. Ketika fase respond pemerintah melakukan kebijakan terkait stimulus yang diharapkan berdampak pada survival masyarakat. Selain itu mengetahui solidaritas komponen masyarakat untuk saling membantu. Hal ini sudah dilakukan Pemerintah NTB lewat berbagai bantuan sosial seperti JPS Gemilang.

     Pada fase reset yang terpenting adalah menebarkan optimisme dan kepercayaan diri dengan tetap menyampaikan kepada dunia bahwa destinasi NTB lagi berbenah. Sehingga, ketika covid turun NTB sudah siap menerima wisatawan baru.

     Dalam fase restart mulai menggerakkan ekonomi, destinasi wisata serta menggerakkan konsep pentahelix. Yang dilakukan adalah penguatan dan pemasaran produk lokal, atraksi, serta paket-paket wisata kreatif.

    Ketika recovery baru bicara main power, industri dan marketingnya. Semua kebijakan harus menjadi satu dimana daerah tetap sejalan dengan Pusat dengan kosep yang sama. Setelahnya adalah renew dengan protokol kesehatan yang ketat sehingga menjadi kebiasaan yang menjunjung nilai-nilai sapta pesona.

      “Pariwisata itu harus aman bagi lingkungannya dan masyarakatnya, bukan hanya aman bagi wisatawan saja. Yang didatangi juga harus aman. Harus ada regulasinya,” katanya seraya menambahkan bahwa konklusi bukan hanya bicara bisnis tetapi juga sosial enterpreuner.

Keunggulan NTB untuk Bangkit

     Ancaman besar Covid 19 tidak hanya menyedot anggaran pemerintah, melainkan juga menurunnya investasi, terjadinya pengangguran dan potensi warga yang menjadi miskin. Investasi pariwisata di NTB yang semula dominan ditahun 2019 misalnya, pada kwartal pertama tahun 2020 berdasarkan data Bank Indonesia, tersisih menempati posisi ketiga. Karena itulah wabah ini harus disikapi dengan kerja keras bersama agar kembali survive.

    Ada indikator-indikator peluang industri tanpa asap ini berkembang pesat dimasa datang. Keuggulan sektor ini karena pasarannya bisa menembus segala generasi dan segala usia. Bahkan dalam sebuah survei US Travel Assosiation, sebagaimana dikutip Taufan, ketika warga ditanya jika di lokasi tujuan ada pandemi covid apakah mereka tetap berkunjung, mereka menjawab enteng tetap akan nekat ke sana ada atau tidak ada pandemi.

     “Ada wisatawan yang 13 persen itu yang tidak perduli, rata-rata itu milenial,” katanya. Lantas ke mana calon wisatawan yang lain? Untuk memendam kerinduan berwisata, masih mengutip sebuah survei, Taufan mengatakan rekreasi yang dilakukan masyarakat di seluruh dunia yakni ‘melayari’ facebook.

     “Sekitar 1.000 persen main facebook,” kata Taufan yang akan melaunching bukunya terkait pariwisata. Hasil survei ini mesti disikapi dengan cara lebih gencar mempromosikan pariwisata NTB lewat media sosial.

      Sedangkan peluang lain yaitu karena pariwisata berbicara lingkungan, kearifan lokal, spiritual dan kekayaan alam. Seluruh potensi itu melekat di Indonesia termasuk NTB yang memiliki Lombok dan Sumbawa. Kekayaan alam maupun budaya dari Rinjani hingga Tambora  mengandung magnet  dengan daya tarik yang cukup kuat.

     Terbukti sederet tokoh dunia sempat datang ke Pulau Moyo seperti pewaris tahta Kerajaan Inggris Pangeran Charles dan mendiang Putri Diana pada Agustus 1993. Di kalangan penyanyi ada David Bowie . Pun mantan penjaga gawang Manchester United Edwin van Der Sar, pesepakbola David Beckham dan Maria Sharapova.

   Turis-turis asing tergiur tampil dalam pesta perkawinan di Lombok hanya agar bisa mengenakan pakaian adat Sasak. Terdapat diantara mereka yang terpesona kegiatan menyangrai kopi dan menanam padi di Tete Batu. Bahkan ada wisatawan yang ikut serta mencoba UFC ala Lombok bernama ‘belanjakan’ di Masbagik Lombok Timur untuk adu kuat dengan warga setempat.

     Pesona Lombok Sumbawa sudah membawa harum NTB dengan predikat Halal Tourism yang  tidak boleh digarap setengah hati. Penghargaan dunia tersebut perlu mendatangkan dukungan di bawah mengingat  Moeslim Market memiliki potensi tinggi agar pariwisata lebih cepat pulih.

    Beragamnya jenis kegiatan masyarakat serta pesona alam dan budayanya merupakan keunggulan tersendiri bagi Indonesia termasuk Lombok Sumbawa di mata dunia.  Mozaik-mozaik yang menyatu yang kerap disebut nasionalisme pariwisata itu basisnya ada di Indonesia. Karenanya, market pariwisata tidak hanya mengandalkan turis internasional melainkan juga turis lokal dan domestik. Tiap daerah memiliki perbedaan dan itulah keunikan yang menggugah bahkan bagi warga Indonesia sendiri.

     Dari aspek investasi, kabar yang menggembirakan adalah adanya daya dukung investasi yang masuk ke NTB. RIRU Bank Indonesia NTB, Supiandi, memaparkan, dari 100 persen investasi dari Australia yang datang ke Indonesia sekira 61,5 persen dibawa ke NTB.

     “Sekarang ini Australia sebisa mungkin menyediakan komoditas yang biasanya didatangkan dari Tiongkok kini didatangkan dari NTB,” ungkapnya.

     Banyak kegiatan yang bisa mendatangkan peningkatan ekonomi di NTB seperti KEK Mandalika. Pada gelaran MotoGP tahun 2021 jumlah tamu yang akan datang diperkirakan 150.000 orang. Tenyata, hikmah positif Covid-19 adalah munculnya berbagai strategi dan inovasi untuk mencari investor. Segala lini masyarakat termasuk Bank Indonesia secara intens pula mempromosikan potensi Lombok-Sumbawa untuk menarik investasi.

Kosep Pentahelix Pariwisata

      Mengamati berbagai fenomena sepuluh tahun terakhir, Direktur STP Mataram, Dr.Halus Mandala, mengakui industri pariwisata sangat rentan goncangan. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa harus ada sebuah rancangan dalam mengatasi krisis baik yang disebabkan bencana alam maupun buatan manusia mengingat dampaknya yang luas bagi semua orang.

      Menurutnya, langkah yang perlu dilakukan adalah percepatan pembangunan kembali sektor pariwisata secara kolaboratif melibatkan berbagai pihak seperti akademisi, pebisnis, komunitas, media, dan pemerintah. Kekompakan itu dibangun melalui perannya masing-masing sehingga akan membangkitkan sektor pariwisata yang tangguh dan berdampak terhadap perekonomian rakyat.

    Akademisi dalam hal ini bertugas melakukan kajian-kajian serta solusi dalam mengatasi permasalahan pariwisata. Sedangkan pebisnis membangun strategi marketing agar pariwisata berdampak bagi masyarakat yang paling rentan. Pemerintah diharapkan melakukan pemenuhan aksesibilitas obyek wisata, sarana prasarana serta mengeluarkan kebijakan dalam penguatan pariwisata.

     “Membangun pariwisata wajib dipublikasikan media,” ujarnya terkait konsep pentahelix pariwisata tersebut yang juga melibatkan media massa. “Penanggulangan krisis harus bertahap dan bekesinambungan sehingga perlu keterlibatan multipihak dalam penanggulangannya,” tambah Halus.

      Loezawa Abdul Madjid mengakui pentahelix  akan menjadi kekuatan besar yang bisa meningkatkan keunggulan kepariwisataan. Tanpa pentahelix proses mencapai tujuan kepariwisataan akan berlangsung lama. “Dengan pentahelix akan membangun kebersamaan. Yang dibawah ingin sesuatu yang benar-benar dirasakan, bagaimana punya penghasilan lagi. Dari atas ke bawah harus sinkron dan seirama,” paparnya.

    Covid-19 memberi pembelajaran kembali bahwa ruh pariwisata adalah Sapta Pesona sebagai nilai jual yang utama. Ada tidak ada corona, masyarakat harus menjalankan pola  hidup bersih dan sehat. Hal lain yang diperlukan, kata dia, bagaimana destinasi wisata bersinergi satu sama lain, termasuk regulasi yang mengakomodir pegiat pariwisata di bawah agar terintegrasi.

    Satu daerah memerlukan daerah tetangganya sebagaimana satu pihak memerlukan pihak lainnya guna mencapai tujuan bersama. Dengan multiplayer effect yang ditimbulkannya, pariwisata merupakan sektor muara dimana seluruh unsur selayaknya bersinergi dalam konsep pentahelix. Di dalam sektor ini terakomodir sektor lain sehingga bisa mengatasi sebagian besar masalah termasuk dalam soal krisis agar pintu-pintu usaha kian terbuka dan warga paling rentan memiliki jalan keluar terhadap berbagai kebutuhan ekonominya.

riyanto rabbah

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.