Berbagi Berita Merangkai Cerita

Penjualan Saham Newmont Undang Polemik

0 16

MATARAM, DS – Hasil penjualan 6 persen saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang seharusnya menjadi hak milik Pemprov NTB, Pemkab Sumbawa dan Sumbawa Barat, yang hingga kini tidak jelas juntrungannya mengundang polemik di tengah masyarakat. Sebab, urusan jual beli saham tersebut telah rampung akhir 2016 silam seiring dengan resmi beralihnya kepemilikan saham PTNNT ke pemilik baru Arifin Panigoro. PTNNT pun kini telah berganti baju menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara.

Ketua Pusat Study Hukum dan Analisis Kebijakan Universitas Mataram, Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, meminta kepada aparat penegak hukum  mengusut proses penjualan saham mengingat dalam memuluskan rencana tersebut diduga kuat terjadi penyalahgunaan wewenang dan melanggar Undang-undang Tindak Pidana Korupsi.

Wira menegaskan, rencana penjualan 6 persen saham Newmont  yang dikuasai PT DMB ini pada awalnya sarat dengan kepentingan politik dan hukum.

“Ini aset daerah, penegak hukum saya harap turun mengusutnya. Apalagi sudah ada isu-isu uang pelicin dan janji kompensasi Rp 15 miliar kalau berhasil terjual, jelas penyalahgunaan wewenang dan terkena undang-undang tentang korupsi,” ujarnya menjawab wartawan.

Wira mengatakan tidak akan mempersoalkan penjualan saham apabila itu milik pribadi. Persoalannya ini adalah aset daerah yang artinya milik rakyat. Untuk mengambil kebijakan sebesar itu, seharusnya dengan alasan yang jelas dan bisa diterima secara ilmiah.

Tim Ahli Investasi Gubernur yang juga sahabat-sahabatnya Wira merekomendasikan agar saham ini dijual. Alasan nilai saham Newmont  yang menurun dinilai tidak kuat.

“Saya juga tidak mengerti kenapa mereka lebih menginginkan dijual, pertimbangannya kurang pas. Soal saham ini memang bermasalah sejak awal,” tegasnya.

Wira menuding penjualan saham merupakan program penghapus dosa. Diduga kuat telah terjadi pembohongan publik sejak awal sehingga ada pihak-pihak yang sangat ketakutan apabila suatu saat nanti konspirasi itu terbongkar ke publik.

Menurutnya, terdapat berbagai kejanggalan yang ditemukannya selama ini diantaranya dividen yang tidak didapatkan daerah dari PT Multi Daerah Bersaing (MDB), perusahaan bentukan PT DMB dan PT Multi Capital untuk menguasai 24 persen saham Newmont. PT Multi Capital sendiri perusahaan milik Bakrie Group yang diajak PT DMB membeli 24 persen saham Newmont.

Selain soal dividen yang tidak diterima, Wira juga menyoroti  keabsahan saham itu. “Kalau memang kita punya saham, tagih dong dividen itu. Kalau tidak bisa juga, kita bawa ke jalur hukum karena jelas dalam perjanjian,” jelas Wira.

Melihat sikap dan kebijakan Pemprov NTB yang tergesa-gesa seperti memberikan sinyal banyak menyimpan masalah. Semua masalah tersebut akan segera tuntas dan beban berakhir setelah saham terjual.

Lebih lanjut dikatakan, saham yang selama ini disebut-sebut bisa jadi sebenarnya tidak ada sama sekali. Isu saham yang telah digadai oleh PT Multi Capital ke Credit Suisse Singapore dan sempat mencuat beberapa tahun lalu benar adanya. Saham tersebut sampai saat ini belum kembali dan pemerintah daerah telah melakukan kebohongan publik.

“Saya jarang berkoar-koar, tapi kalau saya salah mari saya tantang Pemprov NTB untuk menunjukkan saham kita itu,” ungkap Wira menyakini.

Ia menjelaskan yang namanya saham adalah sebuah surat berharga yang bisa dilihat dan diraba. Namun selama ini tidak ada yang pernah melihatnya.

“Sekali lagi kalau saya salah menyebut penjualan saham itu program penghapus dosa, tanyakan saya pada gubernur atau siapa saja dimana surat berharga itu. Dimana saham yang menjadi bukti kita itu,” beber Wira.

Wira juga meminta kepada Inspektorat untuk segera melakukan audit terhadap PT DMB. Selama ini, aktivitas Perusda tersebut tidak jelas. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban Inspektorat untuk melakukan audit.

“Termasuk, jangan sampai ancaman pemprov memberi kuasa ke Jaksa Negara adalah bagian skenario permainan untuk meredam polemik tidak jelasnya dana penjualan saham ini,” tandas Lalu Wira Pria Suhartana. fahrul

Leave A Reply