Berbagi Berita Merangkai Cerita

Pengamat : “Paslon Harus Jual Program Bukan Tampang Apalagi Keliling ke Tokoh

50

MATARAM, DS – Pertarungan Pilkada Kota Mataram diprediksi bakal berlangsung sangat ketat. Di media sosial baik facebook, whatsaap grup sudah terlihat ‘perang’ dukungan antar para pendukung masing-masing pasangan calon (paslon) dalam membela dan mengunggulkan calonnya mereka masing-masing.

Hanya saja dukungan itu perlu dikonkritkan pada jualan program kerja yang akan diberikan lima tahun kedepan pada masyarakat.

“Kalau sekadar jadi tim sukses sama kayak paslon yang didukungnya. Yakni, hanya jual tampang dan keluarga untuk apa?. Ingat, ini Kota Mataram, penduduknya adalah kalangan pemilih rasional yang butuh asupan program kerja nyata,” ujar Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Agus M.Si, menjawab wartawan, Minggu (23/8).

Mantan komisioner KPU NTB itu mengatakan pola kampanye yang hanya berkeliling silaturahmi ke sejumlah tokoh maupun ormas untuk menggalang dukungan di Pilkada Mataram, dirasa tidak tepat. Sebab, kata Agus, fase Pilkada Mataram saat ini belum masuk pada fase pertarungan lantaran, belum dimulainya pendaftaran paslon ke KPUD setempat

“Fase awal ini harusnya yang dijual itu adalah program kampanye kandidat. Baik di baliho, dan APK lainnya. Hal ini akan bisa membuat penasaran masyarakat untuk tahu lebih dalam dan detail lagi,” kata Agus.

Terkait kehadiran para tokoh panutan umat dan ormas dalam barisan paslon sangat baik. Mengingat hal itu akan bisa mempengaruhi elektoral. Apalagi, karakter pemilih di Kota Mataram masih memilih berdasarkan sosiologis dan simbol-simbol sosial.

“Mataram ini landai di awal dan ketat di pertarungan. Jadi, jualan program kerja di baliho dan APK lainnya menjadi kunci masyarakat untuk memilih paslon itu,” ucap Agus.

Munculnya empat figur paslon di Kota Mataram. Yakni, Hj. Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan (Salam), H. Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman (Harum), HL. Makmur Said-Badrutama Ahda (Molah) dan Baehaqi-Diah, justru masih di dominasi figur lama.

Oleh karena itu, jika paslon Selly-Manan dan Baehaqi-Diah sebagai pendatang baru berani membuat gebrakan baru dalam sisi kampanye yang dilakukannya. Maka, pilkada kali ini akan lebih menarik.

“Jadi, saran saya ke paslon pendatang baru harus berani beda tentang gaya berpolitiknya. Bila perlu tagline perubahan dan anti politik dinasti harus berani digaungkan melengkapi program dan janji kampanye jika terpilih kedepannya,” tandas Agus. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.