Sabtu , 23 November 2019
Home / Pendidikan / Seabreg Usulan Mengemuka dalam Musrenbang Perempuan di Desa Tenga dan Keli
Musrenbang khusus perempuan di Desa Tenga

Seabreg Usulan Mengemuka dalam Musrenbang Perempuan di Desa Tenga dan Keli

BIMA,DS-Seabreg usulan dari kalangan perempuan mengemuka dalam Musrenbang Khusus Perempuan di Desa Tenga, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Kamis (10/10) dan Desa Keli Jumat (11/10) 2019. Para perempuan itu baru pertama kali mengikuti kegiatan tersebut dan melihat banyak permasalahan di desanya yang perlu dilontakan.

Musrenbang Perempuan di Desa Tenga dihadiri Ketua LPA NTB, H.Sahan, dan istri Wabup Kabupaten Bima yang juga Ketua LPA Kabupaten Sumbawa. Musrenbang yang difasilitasi LPA NTB-KOMPAK itu sendiri menerima atensi dari kalangan perempuan dengan berbagai latar belakang.

Membuka acara, H. Sahan mengemukakan selain musrenbang perempuan, di beberapa desa binaan LPA-Kompak dilakukan juga musrenbang bagi lansia dan disabilitas. Ia berharap kaum perempuan memberikan usulan kepada Pemdes agar apa yang dialamu bisa menemukan jalan keluar.

Peserta Musrenbang perempuan bernama Siti Ica yang juga kader Posyandu Balita mengusulkan adanya kelas gizi untuk ibu hamil, bayi dan balita. Selain itu ia meminta agar desa mengadakan alat perlengkapan dapur seperti panci,priok dan piring. Hal yang tidak kalah penting adalah pembebasan biaya lahir bagi ibu melahirkan dari kalangan miskin yang tidak memiliki BPJS.

Beberapa lansia seperti Rosita meminta diadakannya alat mengukur kolestrol, gula darah, alat ukur tinggi, lingkar badan, dan timbangan serta buku adminitrasi. Sedangkan Siti Hawa meminta diadakannya bibit kambing. “Agar ada kesibukan bersama cucu serta jika sewaktu-waktu sakit anak kambingnya bisa di jual untuk biaya pengobatan,” katanya.
Siti Ramlah yang juga dari kalangan lansia berharap diberikan tanah timbunan untuk halaman rumahnya mengingat setiap musim hujan kondisinya sangat becek sehingga dirinya kesulitan untuk beraktifitas. Selain itu, Romlah meminta bantuan unggas (ayam) agar ada aktifitas sehari.”Dan sisa nasi yang ada dapat di manfaatkan,” ujarnya.

Sementara itu seorang guru TK, Nurlina, menginginkan pengadaan alat bermain (AP) untuk PAUG dan TK, insentif guru TK dan PAUD serta perlengkapan TPQ berupa buku Iqro dan Al-Quran. Sedangkan Ningsih selaku kader PKK meminta pengadaan bibit sayur mayor, pelatihan pengolahan pangan local serta perbaikan gang RT 04. Dari kalangan disabilitas pun mengemuka usulan sebagaimana diutarakan Kalisom. Ia bahkan mengusulkan adanya bantuan dana bagi pengembangn kelompok usaha kecil.

Kepala Desa Tenga, Trisna Andriani, SE, mengemukakan Musrenbang khusus perempuan ini sangat bermanfaat. Pasalnya, jika dilakukan Musrenbang secara umum, para ibu enggan berbicara. Sebaliknya ketika berada dalam satu komunitas, banyak usulan yang disampaikan.

Ia mengemukakan usulan tersebut akan direalisasikan dalam jangka waktu 5 tahun. Khusus untuk tahun 2020 dilakukan skala prioritas. Hal yang sangat urgen, kata dia, diantaranya modal usaha untuk disabilitas serta bantuan BPJS untuk keluarga rentan seperti lansia dan disabilitas. “Di Desa Tenga sendiri yang tergolong miskin sekira 50 persen,” katanya seraya menyebut jumlah penduduk desa setempat mencapai 1.500 orang.

Terkait kepemilikan dokumen adminduk bagi warga rentan, ia mengatakan hampir seluruh warganya sudah memilikinya, kecuali beberapa orang yang dihambat persoalan perbedaan huruf pada namanya. “Jadi kita sudah hamper seratus persen,” kata Trisna. Pihaknya sendiri condong untuk melakkan pelayanan keliling langsung di desa setempat. Hal ini dinilai lebih efektif untuk pemenuhan adminduk warga.

Sementara itu Musrenbang khusus perempuan di Desa Keli, yang berlangsung Jumat (11/10), dihadiri oleh kader PKK, bidan desa, guru PAUG, kader Posyandi, dan Pokja Adminduk. Sebagaimana di Desa Tenga, Desa Keli pun baru pertama menggelar musrenbang khusus tersebut.

Dalam kesempatan itu, para perempuan mengusulkan berbagai program untuk mengatasi persoalan di desanya. Sebutlah Eka dari kader PKK diantaranya mengusulkan pembangunan WC bagi masyarakat miskin, pengadaan mobil sampah karena TPA berada jauh dari pemukiman warga (perbatasan kampung), modal usaha bagi kelompok usaha kecil, rumah bacaan yang ramah anak lengkap dengan WC anak-anak, pelatihan pengolahan pangan lokal, dan bantuan unggas bagi masyarakat miskin.
Junari, salah seorang bidan desa mengusulkan pembiayaan persalinan gratis masyarakat miskin yang tak memiliki BPJS, penambahan ruang bersalinan polindes dan alat steril. Sedangkan salah seorang guru PAUD, mengusulkan pembangunan gedung PAUD.

Nuristiana dari kalangan lansia menuslkan pengadaan alat tinggi badan, pengukur badan dan timbangan serta insentif yang ditambah bagi lansia. Khusus bida kesehatan, Sri Jumhari dari kder Posyandu mengusulkan tempat pelayanan posyandi yang tetap. Narti yang perawat Postu Desa mengusulkan diadakannya pelaksaan isbat nikah dan pengadaan duplikat buku nikah . ian

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Kedepan Polisi Tak Identik dengan Badan Tegap

MATARAM,DS-SDM Polri kedepan tidak lagi dilihat dari kesemaptaan fisik dan kecerdasan akademisnya tetapi juga harus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: