Sabtu , 23 November 2019
Home / Pendidikan / Joki Cilik Tewas di Pacuan Kuda, LPA NTB Sebut Ada Dugaan Eksploitasi Anak
Inilah Almarhum Muhammad Sabila Putra, joki cilik sesat sebelum tewas saat mengikuti ajang balapan kuda piala Walikota Bima menyambut HUT TNI ke 74 tahun 2019 yang fotonya viral di media sosial

Joki Cilik Tewas di Pacuan Kuda, LPA NTB Sebut Ada Dugaan Eksploitasi Anak

MATARAM, DS – Muhammad Sabila Putra (10) meninggal dunia akibat terjatuh dari kuda saat pacuan. Kuda yang ditungganginya cidera dan jatuh. Dia tertindih dan mengalami cidera di kepala. Korban tergeletak pisang dengan mulut mengeluarkan darah. Dia kemudian dinyatakan meninggal setelah sempat dibawa ke rumah sakit.

Bocah laki-laki yang masih duduk di kelas empat SD itu meninggal dunia dengan tragis di tengah lintasan pacuan kuda. Muhamad meninggal dalam ajang pacuan kuda yang diselenggarakan untuk merayakan event perebutan piala Walikota Bima menyambut HUT TNI ke 74 tahun 2019.

Koordinator Divisi Hukum dan Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Joko Jumadi, mengatakan saat ini tengah berkoordinasi dengan LPA Kota Bima untuk menginvestigasi kematian korban.

“Tidak hanya menyayangkan, kita selalu menolak pacuan kuda dengan joki anak karena dampaknya sangat luar biasa,” ujar Joko menjawab wartawan, Rabu (16/10).

Menurut dia, dampak pacuan kuda yang melibatkan anak tidak hanya dari sisi keselamatan. LPA melihat adanya eksploitasi anak dan rusaknya pergaulan anak.

“Tidak hanya soal keselamatan anak saja tapi dari sisi pergaulan. Kita juga melihat kemungkinan adanya eksploitasi anak di kasus-kasus joki anak yang di Sumbawa dan di Bima, termasuk di Lombok,” tegas Joko seraya menjelaskan, ada indikasi eksploitasi anak dalam ajang balapan kuda tersebut dalam kasus joki anak ada putaran uang.

“Biasanya, satu anak bisa sampai Rp10 juta dalam sekali event, yang menikmati sebenarnya orang tua, dan orang tua yang mempekerjakan anak menjadi joki. Misalnya dijaga ketat agar berat badannya tidak naik,” ucapnya.

Selain itu, kata Joko, di lokasi pacuan kuda juga sering digunakan sebagai ajang judi, merokok hingga minuman keras. Ini berdampak pada pergaulan dan kesehatan anak. “Belum lagi mereka meninggalkan bangku sekolah untuk menjadi joki. Mereka akhirnya tidak sekolah dalam jangka waktu bisa sampai sepuluh hari, karena lokasinya tidak dekat dengan sekolah,” jelasnya.

Diketahui, sebagian besar kuda tersebut merupakan milik pejabat daerah. LPA menyadari itu merupakan problem serius tentang komitmen Pemda tentang perlindungan anak. Terlebih lagi, sarana keselamatan anak saat pacuan kuda sangat minim. Bahkan video yang beredar, joki cilik yang terjatuh harus dilarikan ke rumah sakit karena jarang ada petugas kesehatan di lokasi pacuan.

“Ini persoalannya tidak hanya soal eksploitasi, tapi para petinggi wilayah. Yang punya kuda sebenarnya pejabat juga, ada bupati sampai gubernur. Ini menjadi problem tersendiri. Kami tidak menolak pacuan kuda, tapi pacuan kuda dengan joki anak, apalagi keamanan minimalis,” tandas Joko.

Sementara itu, salah satu pemuda Bima, Muhamad Isnaini meminta aparat kepolisian mengusut tewasnya pejoki cilik dalam ajang balapan kuda perebutan piala Walikota Bima menyambut HUT TNI ke 74 tahun 2019 kali ini.

“Kegiatan ini sudah kali kedua diselenggarakan. Tapi, yang kedua ini terkesan anak-anak yang lugu itu diekspolitasi oleh hobi para pejabat daerah. Makanya, kami galang petisi untuk meminta aparat kepolisian bertindak memanggil para panitia penyelenggaranya,” ujar Isnaini. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Kedepan Polisi Tak Identik dengan Badan Tegap

MATARAM,DS-SDM Polri kedepan tidak lagi dilihat dari kesemaptaan fisik dan kecerdasan akademisnya tetapi juga harus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: