Jumat , 13 Desember 2019
Home / Pendidikan / Hanya Segelintir Siswa DO di Kecamatan Bayan
Lokakarya Penyusunan Draf Tool Monev dan Strategi Pemantauan Layanan (Colaboratif Monitoring/Jurnalisme Warga) di Kantor Camat Bayan

Hanya Segelintir Siswa DO di Kecamatan Bayan

BAYAN,DS-Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Bayan, H.Safrudin, mengemukakan untuk menekan DO siswa dilakukan gerakan Saber DO sejak 2017. DO itu sendiri memiliki katagori, masing-masing keluar pada saat menempuh pendidikan, tidak tamat SD dan melanjutkan sekolah serta warga usia sekolah yang tidak pernah sekolah.

Pada Lokakarya Penyusunan Draf Tool Monev dan Strategi Pemantauan Layanan (Colaboratif Monitoring/Jurnalisme Warga) di Kantor Camat Bayan, Senin (4/11), Safrudin menuturkan semula diduga ada ribuan warga Bayan yang DO. Setelah dicek oleh Tim Saber DO, ternyata hanya segelintir saja atau jauh di bawah itu.

“Pemda sudah membentuk tim masing-masing kecamatan untuk mendata per desa,” katanya seraya menyebut data DO di SD paling banter satu sekolah cuma satu orang yang DO. Sedangkan yang tidak melanjutkan dari SD ke SMP pun tidak banyak kecuali satu atau dua orang saja. “Di SMP yang putus sekolah adalah yang kawin sebelum usia 19 tahun,” kata Safrudin merinci.

Salah satu kasus yang ditangani adalah adanya warga usia sekolah tamatan SD sudah kawin namun kemudian dibantu dan dipandu ikut ujian masuk SMP. Sedangkan suami menunggu di luar. “Dia melaksanakan ujian. Kebijakan yang ditempuh adalah untuk menghentikan DO,” katanya.

Disisi lain, untuk memutus terjadinya DO, warga yang tamat SD diberikan pilihan mengikuti program Paket B dan SMP terbuka di SMP 2 Bayan. Mereka diperbolehkan masuk ke situ. “Ada warga usia lebih 15 tahun daftar SMP Terbuka 2 Bayan agar DO berkurang,” katanya seraya menyebut angka DO di Kecamatan Bayan berada di bawah angka nasional.

Sementara itu penyebab DO masing-masing karena tenaganya dipergunakan oleh orangtuanya untuk bekerja di sawah/kebun. Ada juga karena yang bersangkutan malas sekolah, faktor ekonomi dan keluarga yang berpindah-pindah. Belakangan muncul mereka yang tidak mau sekolah disebabkan alasan sepele seperti tidak dibelikan sepeda motor (untuk SMP dan SMA).

Upaya persuasif yang dilakukan adalah dengan memberikan kesadaran pentingnya pendidikan dalam jangka panjang. Pihaknya membangkitkan semangat warga dengan menceritakan bahwa orang yang berhasil di kota besar sebagian besar berasal dari daerah terpencil. “Itu agar bagaimana supaya mereka bangkit,” cetusnya.

Program Saber DO sendiri dimaksudkan agar data mereka yang tamat melanjutkan ke pendidikan selanjutnya bisa terpantau. Data itu sendiri diakuinya sudah ada. Hanya saja, ada anak yang masuk ponpes namun kemudian keluar, kata dia, itu yang tidak terpantau. Berkenaan dengan kasus tersebut, pihaknya mendekati orangtua agar jangan terjadi DO. Pihaknya sendiri tidak bisa mendata warga pada sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.ian

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Dirjen Kemasyarakatan Beri Semangat Baru ke Penghuni Lapas Terbuka

Lombok Tengah,DS – Direktur Jenderal Pemasyarkatan (Dirjen) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Sri Puguh Budi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: