Sabtu , 24 Agustus 2019
Home / Pendidikan / Gubernur : Aktifis Jangan Manja
Gubernur Zulkieflimansyah saat menerima Prof He MINGKE dari Beijing Wuzi University yang berencana akan menerima sebanyak 50 mahasiswa NTB untuk melanjutkan studi tahun ini.

Gubernur : Aktifis Jangan Manja

MATARAM, DS – Program pengiriman sebanyak 120 aktivis dari sejumlah organisasi untuk kuliah pascasarjana ke Malaysia yang kini menuai kritikan berbagai kalangan, ditanggapi santai oleh Gubernur Zulkieflimansyah.

“Ngeritik sih ngeritik, tapi kita juga perlu fairlah. Karena jika kita pakai jalur normal seperti pembukaan program biasa selama ini, maka saya yakin mereka (Aktifis NTB) tidak akan bisa lolos pada tahap seleksinya. Sehingga, inilah dasar kita buka kenapa ada jalur aktifis itu,” ujar Gubernur Zulkieflimansyah menjawab wartawan mengomentari nada miring terkait pembukan jalur aktifis yang proses seleksinya sudah selesai itu, Kamis (13/6).

Menurut Zul, program pengiriman mahasiswa yang digagasnya tersebut, seyogyanya perlu disambut gembira oleh para aktifitis di NTB. Pasalnya, diadakannya program tersebut tidak lain untuk mengakomodir keberadaan para aktifis yang selama ini dikenal sebagai orator jalanan dan punya kecakapan berbicara dimuka umum agar memiliki pengalaman mengeyam pendidikan tinggi yang jauh lebih baik lagi bagi karir mereka kedepannya.

“Dengan ada pengalaman, yakni kita kaasih privilege bagi para aktifis itu, maka harapan kita mereka mungkin bisa jadi tokoh besar. Ingat lho, anak-anak NTB itu punya pengalaman bisa bicara dan orasi yang baik selama ini,” kata Gubernur.

Ia menyatakan, saat seleksi penerimaan mahasiswa ke Luar Negeri sebelumnya, justru kebanyakan yang mayoritas mendominasi lolos untuk diberangkatkan ke berbagai negara tujuan. Salah satunya Polandia, adalah mahasiswa NTB yang lulusan UGM dan UI yang mengusai kemampuan kebahasaan asing, yakni Bahasa Inggris dengan IELS/Toefel IBT diatas 500 sebagai syarat utamanya.

Gubernur menjelaskan, jika merujuk laporan dari Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP), terkait aktifitas NTB yang lulus dan siap diberangkatkan untuk melanjutkan studi ke Malaysia adalah sebanyak 20 orang untuk tahap pertama. Mereka berhasil, menyisihan sebanyak 500 orang yang telah mendaftarkan diri mengikuti program itu

“Janganlah gara-gara keterlambatan kita balas whatsapp, dan mereka tidak dilosloskan oleh tim pengujinya, seenaknya para aktifis itu, ngumbar ngomong ke publik terkait seolah-olah besok akan datang hari kiamat. Jadi, aktifis itu, jangan manja juga, lihatlah kuota yang ada. Apalagi, kita sudah sangat berbaik hati, yakni pelaksanaan Malaysia University English Test (MUET) kita lakukan di Mataram dan tidak sampai di negara Malaysia. Jadi apa lagi kurang kita sudah membantu memberi porsi pada aktifis itu,” jelas Zul kesal.

Terkait kejelasan dana program pemberangkatan program pengiriman mahasiswa ke Luar Negeri itu. Diakuinya, hal tersebut berasal dari penggalian sumber pendanaan dari pihak swasta. Yakni, pihaknya mempersilahkan siapapun dari dunia usaha untuk menyumbangkan donasi mereka pada LPP NTB.

Sebab, kata Gubernur, jika program kegiatannya melalui dana pemprov NTB, maka hal tersebut masuk katagori gratifikasi. “Makanya, begitu program ini kita luncurkan awal, kami minta Sri Astuti dkk di LPP untuk mengumumkan secara terbuka siapa-siapa saja para penyumbangnya. Dan itu, setahu saya dilakukan secara transparansi dengan penuh keterbukaan, sehingga akuntabilitasnya jelas,” tandas Zulkieflimansyah.

“Jadi, jika ada yang terus bernada sumbang dan miring akan program ini, silahkan datang ke Sekretariat LPP NTB di eks hotel Giri Putri Kota Mataram, nanti disana silahkan tanya dan lihat langsung biodata siapa-siapa saja aktifis dan mahasiswa yang lulus seleksi, termasuk siapa para donatur program ini,” tambah Gubernur.

Terpisah, Nusa Tenggara Development Institute (NDI) NTB menilai program pertukaran pelajar ke luar negeri yang masuk dalam program NTB Gemilang tidak mampu memberikan output yang jelas dan tepat sesuai dengan kebutuhan pembangunan NTB.

“Di sisi manajemen dan admininstrasi kepemerintahan program gemilang ini seharusnya didasari dengan pengkajian dari berbagai elemen pemerintah terkait, sehingga dalam perjalanannya program ini mampu memberikan output yang jelas dan tepat sesuai dengan kebutuhan pembangunan NTB,” ujar Direktur NDI, Abdul Majid menjawab wartawan.

“Akan tetapi karena dengan relevansi kebutuhan NTB itulah yang memberikan titik fokus prioritas utama siapa yang akan dikirim dan jurusan apa yang diutamakan, dalam hal ini tidak boleh sembarangan dalam melakukan pengiriman,” sambungnya.
Saat ini mencapai ratusan pelajar dikirim di beberapa negara untuk studi.

Kata Majid, 20 mahasiswa berlatar belakang aktivis di NTB dikirim ke Malaysia. Program tersebut katanya memang penting untuk membangun kualitas SDM, namun harus dengan managemen yang terarah.

“Kami sangat mengapresiasi program gemilang ini, akan tetapi program pengiriman mahasiswa ke luar negeri tidak boleh dilakukan semau-maunya tanpa pertimbangan yang terarah terkait dengan kebutuhan NTB, serta mahasiswa harus difilter dengan serius ataupun prosedur yang jelas untuk menunjuk siapa yang pantas untuk dikirim. Inikan persoalannya menggunakan APBD dan anggaran APBD harus digunakan dengan adil sesuai kebutuhan daerah NTB,” jelas Majid. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Perempuan Harus Memiliki Posisi Tawar

SELONG,DS-Ketidakadilan gender dan kekerasan terhadap perempuan salah satunya disebabkan oleh lemahnya posisi tawar perempuan. Hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: