Berbagi Berita Merangkai Cerita

Pemicu Diabetes, YAICI : Waspadai Bahaya Susu Kental Manis pada Anak

0 15

MATARAM, DS – Mengkonsumsi susu kental manis (SKM) secara berlebihan akan meningkatkan risiko diabetes dan obesitas pada anak-anak. Hal ini disebabkan kadar gula tinggi di minuman SKM.

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Arif Hidayat, meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar lebih meningkatkan pengawasan Susu Kental Manis (SKM). Alasannya SKM masih saja dikonsumsi sebagai minuman susu, meskipun BPOM telah mengeluarkan larangan melalui Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.

“Menurut para ahli gizi, tubuh punya toleransi tertentu dan penelitian menjelaskan, konsumsi gula lebih dari 10 persen energi total akan berisiko penurunan sensitivitas insulin yang kemudian memicu hiperglikemia (kadar gula darah lebih tinggi dari batas normal) dan memicu risiko diabetes,” ujar Arif menjawab wartawan, di Mataram,

Menurut Arif, sesuai riset kesehatan dasar (Riskedas) tahun 2018 memang ada perbaikan status gizi pada balita di Indonesia. Diantaranya, proporsi status gizi sangat pendek dan pendek turun dari 37,2 persen di tahun 2013 menjadi 30,8 persen.

Hal itu termasuk pada proporsi status gizi buruk dan gizi kurang turun dari 19,6 persen sesuai Riskedes tahun 2013 menjadi 17,7 persen. Meski demikian, WHO masih mengkatagorikan Indonesia sebagai negara darurat gizi buruk.

Sebab, kata dia, ambang batas toleransi stunting yang ditetapkan WHO adalah sebesar 20 persen dari jumlah keseluruhan balita. “Khusus di NTB, kasus gizi buruk mencapai sebanyak 217 kasus pada tahun 2018 dipicu bukan karena faktor kemiskinan, namun kurangnya pengetahuan masyarakat akan makanan dan minuman yang bergizi pada anak. Salah satunya, karena pengaruh iklan SKM itu,” jelas Arif.

Ditegaskannya, meski masyarakat sudah mengetahui larangan mengkonsumsi SKM sebagai minuman susu, namun karena sudah menjadi kebiasaan akhirnya sulit dihentikan. Selain itu, rasanya yang juga enak membuat konsumen sulit menghentikan kebiasaan meminum SKM sebagai susu.

“Sebab sudah nyaris 100 tahun susu kental manis dipromosikan sebagai susu bernutrisi, jadi kebiasaan tersebut sulit dihentikan,” tegas Arif.

Bahayanya lagi, apabila kebiasaan mengkonsumsi susu kental manis tersebut ditularkan oleh orang tua kepada anak. Anak yang sudah terpapar susu kental manis sejak dini akan mengalami gangguan makan, kerusakan karies gigi serta peningkatan resiko diabetes dan penyakit tidak menular.

Dijelaskan Arif, mengacu pada kebijakan BPOM tentang susu kental manis, produsen dilarang menampilkan visual susu kental manis disajikan sebagai minuman susu. Aturan BPOM tersebut diyakini Arif sebagai edukasi untuk masyarakat agar dapat memanfaatkan susu kental manis dengan benar, yaitu sebagai topping atau penambah rasa dalam makanan.

“Iklan susu kental manis di televisi memang terlihat sudah mulai berubah. Namun promosi secara langsung ke masyarakat, melalui event-event offline yang tidak melibatkan televisi ternyata masih mempromosikan susu kental manis sebagai susu,” ucapnya.

Karenanya, Arif meminta agar BPOM meningkatkan pengawasan, tidak hanya memonitoring iklan di televisi, namun juga promosi-promosi tatap muka produsen dengan masyarakat.

Susu kental manis sendiri dibuat dari susu sapi yang airnya dihilangkan dan ditambahkan gula. Didalam 1 sendok makan SKM terkandung 21 gr gula, 3 gr protein, 3,5 gr lemak, 4 mg natrim, dan 150 mg kalium. Terlihat jelas kandungan komponen lemak dan gula pada susu kental manis sangat tinggi dibanding kandungan protein yang ada.

Kepala BPOM Mataram Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih menyatakan, susu kental manis ( SKM) merupakan susu yang dikentalkan. SKM hanya sebagai pelengkap, bukan sebagai pengganti air susu ibu (ASI). Menurut BPOM, SKM itu sebenarnya susu yang dikentalkan. Tapi di dalam persyaratannya itu kadarnya harus lebih dari 8 persen.

“Jadi, memang dari awal (SKM) hanya sebagai pelengkap, bukan pengganti ASI. Apalagi diperuntukan untuk gizi, bukan untuk itu,” ujarnya menjawab wartawan.

Produk susu kental manis masih memiliki kandungan susu dalam tataran rendah yang diolah dan ditambahkan gula. BPOM sudah menerbitkan Surat Edaran bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018 Tentang Label dan Iklan Pada Produk Susu Kental Manis dan Analognya (Kategori Pangan 01.3). Dalam edarannya, surat edaran tertanggal 22 Mei 2018 tersebut diterbitkan dalam rangka melindungi konsumen utamanya anak-anak dari informasi yang tidak benar dan menyesatkan, perlu diambil langkah perlindungan memadai.

Nengah mengatakan ada dua poin penting dalam surat edaran tersebut. Pertama, mengenai label dan iklan produk agar memperhatikan larangan menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun, larangan menggunakan visualisasi bahwa produk susu kental manis disertakan dengan produk susu lain sebagai menambah atau pelengkap gizi.

Kemudian larangan menggunakan visualisasi gambar susu cair dan atau susu dalam gelas disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman. Selain itu larangan ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.

“Sekali lagi, SKM itu bukan makanan pokok tapi makanan pendamping toping. Yang dipersoalkan itu memang iklannya karena anak-anak dibawah umurnya. Standar itu 8 persen, di labelnya,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Nurhandini Eka Dewi menambahkan, SKM mengandung gula sebesar 40 persen hingga 50 persen, kadar gula yang tinggi pada SKM meningkatkan resiko diabetes dan obesitas pada anak-anak, asupan gula yang berlebihan akan merusak gigi anak.

Oleh karena itu, ia meminta jika produsen ketahun melakukan pemasaran secara masive agar dilaporkan pada pihaknya. Sebab, jika hal tersebut dilakukan maka masuk katagori melanggar aturan.

“Saya siap bersama kepala BPOM Mataram akan turun ke desa-desa jika ada laporan produsen yang bermain memasarkan kayak giti. Saya minta wartawan membantu kami memberi pemahaman pada masyarakat termasuk, melaporan jika ada produsen yang melanggar SE BPOM itu karena, saya sudah lakukan penertiban kayak kosmetik ilegal dengan turun mengejar langsung produsennya,” tandas Nurhandini Eka Dewi. RUL

Leave A Reply