Senin , 18 November 2019
Home / Pemerintah / Selly Minta Dunia Usaha, UMKM dan Pemerintah Bersinergi
Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj. Putu Selly Andayani (kiri) bersama beberapa kadis perdagangan di Indonesia usai menghadiri kegiatan sinergitas program dalam rangka meningkatkan ekspor

Selly Minta Dunia Usaha, UMKM dan Pemerintah Bersinergi

MATARAM, DS – Langkah pemerintah menempatkan sektor kemaritiman sebagai salah satu  program utama dan fokus pembangunan selain infrastruktur adalah sangat tepat. Hal ini karena Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki garis pantai yang panjang dan lautan yang luas disertai dengan ketersediaan ikan dan hasil laut yang  melimpah. Salah satunya di Provinsi NTB.

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj. Putu Selly Andayani, mengatakan ikan dan hasil laut tersebut saat ini dapat dijadikan andalan ekspor yang menghasilkan devisa yang banyak untuk menutup defisit neraca perdagangan. Apalagi, hasil laut Indonesia memiliki daya saing ekspor yang tinggi sekaligus dapat meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.

Merujuk data Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Mataram, nilai ekspor ikan tuna hasil dari Perairan Wilayah NTB mencapai 84.679 kilogram senilai Rp10,58 miliar pada semester I (Januari-Juni) 2019. Sehingga, meningkat 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 33.357,48 kilogram atau senilai Rp 5,96 miliar.

“Disinilah, pemerintah harus dapat menyinergikan semua dunia usaha dan masyarakat nelayan yang selama ini menggeluti bisnis di bidang perikanan dan kelautan. Dan ini menjadi upaya kami di NTB kedepannya,” ujar Selly menjawab wartawan, Minggu (15/9).

Selain sektor kemaritiman, Provinsi NTB memiliki berbagai komoditas yang berpotensi ekspor, baik produk perikanan, kerajinan dan pertanian. Semua komoditas tersebut memiliki pasar di negara-negara di Kawasan Asia dan Eropa.

Mantan Penjabat Walikota Mataram itu mencontohkan salah satu komoditas perkebunan NTB yang potensial diekspor adalah kopi. Negara yang sangat membutuhkan kopi adalah Korea karena di negara tersebut tidak ada tanaman kopi.

Selama ini, kopi yang sudah cukup populer di negara tujuan ekspor adalah kopi asal Mandailing, Sumatera Utara dan kopi Gayo yang dihasilkan oleh petani di Aceh.

“NTB belum dikenal. Kalau kopi NTB dikenal akan bisa dikembangkan karena kebutuhan kopi di Korea meningkat setiap tahun karena negara itu tidak punya lahan kopi. Disinilah, kita akan petakan komoditi kopi NTB bisa masuk mengisi ekspor di Korea, ” jelas Selly saat mengikuti kegiatan sinergitas program dalam rangka meningkatkan ekspor yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat yang dibuka oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito beberapa hari lalu.

Selly menjelaskan, upaya pemberian pengetahuan kepada pelaku UMKM yang berpotensi menjadi eksportir penting dilakukan karena volume ekspor komoditas NTB belum begitu memuaskan. Padahal, pusat promosi perdagangan Indonesia (Indonesian Trade Promotion Center/ITPC) yang tersebar di 18 negara sudah ada. Sayangnya peluang itu tak kunjung dimanfaatkan.

“Untuk itu beberapa waktu lalu kami sempat mengundang pejabat dari Kementerian Perdagangan untuk memberikan pembekalan. Apalagi, Pemerintah Pusat menilai surat keterangan asal (SKA) produk ekspor yang dikeluarkan dari NTB relatif kecil sehingga belum bisa dikatakan ekspornya gol selama ini,” tandas Selly Andayani. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Sekda Teken MoU Membangun Kualitas Data Statistik Sektoral

Tanjung,DS-Bertempat di aula kantor Bupati Lombok Utara berlangsung penandatanganan MoU membangun kualitas data statistik sektoral …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: