Kamis , 17 Oktober 2019
Home / Pemerintah / Catatan 1 Tahun Pemerintahan Zul-Rohmi (2) Industrialisasi, Meretas Kebuntuan Kreativitas
Gubernur Zulkieflimansyah saat meninjau pesanan peralatan pertanian dan perkebunan di pergudangan BUMD PT GNE, beberapa waktu lalu

Catatan 1 Tahun Pemerintahan Zul-Rohmi (2) Industrialisasi, Meretas Kebuntuan Kreativitas

Ketika musim panen tiba, Zulkarnaen kembali tersentak. Tumpukan nenas berdesakkan di dalam karung, menggunung bak menanti dipikul. Begitu selalu terjadi setiap buah indah bersisik itu harus dipetik. Sampai ketika Zulkarnaen menjadi Kepala Desa Jurit di Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, suasana itu masih ada. Namun, ia masih terus berfikir mencari jalan keluar. Mungkinkah mengandalkan kreativitas warga untuk mengurai persoalan pengolahan hasil pertanian itu?

Harga nenas Desa Jurit di tingkat petani berkisar Rp 1.500 per buah, bahkan bisa menyentuh Rp 1.000. Sangat murah memang. Dan, selama ini cara itulah yang biasa dilakukan petani, petik dan jual. Pasarannya dari Rempung, Masbagik sampai Kota Mataram. Di Kota Mataram sendiri, sebagian nenas dijual dalam keadaan dikupas.

Pertanyaannya, mungkinkah petani nenas di Desa Jurit bisa bertahan ketika suatu saat kesetiaan sebagai petani tidak lagi memberikan hasil yang maksimal?

Harga jual yang rendah bisa saja membuat petani nenas berfikir ulang memertahankan lahannya sebagai kebun nenas. Padahal, buah inilah salah satu citra yang melekat dari Jurit. “Saya sebenarnya ingin ada pengolahan lebih lanjut agar harga nenas bisa dibandrol naik,” cetus Zulkarnaen.

Kondisi serupa terjadi di desa lain seperti Desa Lingsar sebagai penghasil rambutan dan durian. Harga buah-buahan ini naik ketika langka dan murah ketika datang musimnya. Bahkan tidak jarang buah-buahan ini bersaing dengan yang datang dari daerah lain dalam kondisi aslinya. Hasil pengolahan buah seperti durian justru datang dari Jawa dan Medan.

Problem pengolahan pun terjadi di Sumbawa. Beberapa tahun lalu, misalnya, NTB mengekspor jagung ke luar negeri. Namun, ekspor tersebut belum memberikan nilai tambah karena yang diekspor masih dalam bentuk barang mentah. Disisi lain petani NTB kerap kesulitan pakan ternak yang kebutuhan dasarnya adalah jagung.

Pun garam yang dihasilkan petani garam di Bima. Bahkan garam mereka ditolak oleh perusahaan yang ada di Jawa Timur karena tidak sesuai standar yang dipersyaratkan perusahaan. Kandungan NaCl nya hanya mencapai 84 persen. Sementara standarnya, kandungan NaCl garam minimal 94 persen.

Ini artinya, betapa pun kayanya potensi yang dimiliki dan kerasnya daya juang masyarakat memertahankannya, kondisi perekonomian NTB seakan masih belum beranjak jauh dari tempat semula. Hasil yang melimpah belum tentu menunjukkan keadaan yang menyejahterakan jika belum diolah secara maksimal.

Gambaran masyarakat pedesaan yang terbelenggu keadaan lama memerlukan visi jernih kepemimpinan dengan mencermati kebutuhan-kebutuhan rakyat. Langkah itu bisa didorong dan bersifat top down. Misalnya bagaimana pemerintah bisa memberikan inovasi berupa  pelatihan keterampilan dalam olah kreativitas. Sebab, banyak dijumpai persoalan kreativitas ini menjadi jalan buntu kemajuan. Mengambil contoh lama, kuliner semacam kue serabi Lombok sejak zaman bahuela belum berubah dari segi rasa maupun teksturnya.

“Padahal jika masyarakat pedesaan dilatih, mereka sehari dua hari sudah menguasainya,” kata Dr. Syech Idrus, dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram. Karena itu, sesuatu yang dibutuhkan adalah menyelami kebutuhan masyarakat dalam berkreativitas  agar ada sesuatu yang baru dalam mengantisipasi persaingan yang kian ketat.

Persaingan selama ini sudah “mengharuskan” adanya kreativitas guna menjadikan yang biasa sebagai sesuatu yang baru. Adanya peningkatan produk dari bahan baku menjadi produk kemasan memerlukan sentuhan itu. Terlebih desa-desa — yang menjadi barometer kemajuan daerah — memiliki potensi yang berbeda. Keberagaman potensi hasil pertanian itulah yang semestinya dikelola sehingga masih-masing desa tidak sekadar memiliki komoditas unggulan, melainkan melakukan pengolahan sebagai produk kemasan unggulan pula.

Kepiawaian dalam mengolah produk pertanian akan berkontribusi dengan kemantapan sektor pertanian itu sendiri. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB NTB, menurut Kepala Dinas Perindustrian NTB, Andi Pramaria, mencapai sekira 22 persen.

“Jika sektor pertanian tidak ada maka PDRB NTB akan jauh menurun,” katanya  seraya menambahkan, kontribusi sektor pertanian sebesar 22 persen bisa tingkatkan lagi  melalui industrialisasi agar PDRB NTB meningkat tajam.

Membuka Jalan Buntu

Konsep pengembangan industrilisasi Provinsi NTB di bawah kepemimpinan Gubernur  Zulkieflimansyah dan Wagub Sitti Rohmi Djalilah yang tertuang sebagai program strategis NTB Gemilang 2019-2023 sebenarnya bisa membuka jalan buntu hasil-hasil pertanian. Apalagi program tersebut diarahkan pada penguatan industri skala kecil dan menengah yang dimaksudkan agar NTB mampu mandiri secara ekonomi, berbasis ekonomi lokal dan berorientasi lokal.

“Konsep industri dari pemikiran saya itu tidak selamanya dilakukan secara skala besar, namun juga skala kecil dan menengah yakni bagaimana provinsi NTB mampu mengolah bahan bakunya sendiri. Harapannya jelas, kita akan mampu memperkuat daya tahan lokal NTB terhadap guncangan dari luar,” ujar Gubernur NTB Zulkieflimansyah menjawab wartawan, Rabu (18/9).

Zulkieflimansyah sendiri punya contoh perlunya pabrik pengemasan produk kopi yang memenuhi standar agar pengusaha tidak hanya mampu memroduksi kopi biasa, tetapi dikemas dengan baik sehingga nilai tambahnya menjadi lebih bernas.

Ia meyakini tumbuhnya industri olahan di NTB bisa membuat kekayaan sumber daya alam memiliki nilai lebih untuk dijual ke luar.  Dengan cara demikian NTB bukan lagi sekadar mengirim jagung atau bawang dalam kondisi mentah, tapi jagung dan bawang yang sudah diolah dan punya nilai ekonomi tinggi.

Dalam visi misi NTB Gemilang, pemerintahan Zul-Rohmi menempatkan pemberdayaan ekonomi industri sebagai komitmen ketiga. Di dalamnya mencakup program menghadirkan industri olahan, mempermudah modal usaha dan akses keuangan bagi masyarakat sehingga lahir pengusaha-pengusaha muda.

Komitmen ketiga inil dinilai punya daya dongkrak langsung terhadap pengentasan kemiskinan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat, terlebih pascagempa pertumbuhan ekonomi NTB negatif hingga 13,99 persen pada kuartal  III-2018.

“Di benak pemikiran saya itu, nanti di sejumlah wilayah di NTB akan banyak tumbuh industri dan pabrik-pabrik pengolahan tapi skalanya kecil dan rumahan. Dengan begitu, pengangguran dan kemiskinan akan bisa berkurang secara signifikan,” katanya.

Nantinya, kata Zul, program pengembangannya akan dibarengi dengan pengembangan teknologi untuk mendukung industri pengolahan. Teknologi yang dikembangkan bukan teknologi mewah yang harus menembus angkasa tetapi teknologi sederhana yang mampu diaplikasikan untuk meningkatkan kualitas produk.

Gubernur berharap organisasi perangkat daerah (OPD) di NTB membuat kajian statistik dan mengetahui tanggung jawab masing-masing dalam menghadirkan industrialisasi.

“Industrialisasi pahit dan susah, namun kita harus mulai mewujudkan NTB yang lebih sejahtera,” terang Zul.

Perlu Sinergi dengan Kabupaten/Kota

Untuk menjalankan program industriaisasi, Pemprov NTB tidak bisa jalan sendiri. Artinya, diperlukan sinergi antara provinsi dan kabupaten/kota. Kepala Dinas Perindustrian NTB, Andi Pramaria, menyatakan sudah mulai menyinergikan estimasi kebutuhan yang diperlukan oleh kabupaten/kota yang juga dituangkan di provinsi guna menyatukan persepsi.

“Industrialisasi ini yang kita kejar adalah bagaimana menekan impor. Dengan cara apa? Kalau butuh mesin olahan  tidak usah beli ke Surabaya atau Pulau Jawa. Karena kita mampu membuatnya. Sehingga uang berputar di NTB,” papar Andi.

Untuk itu, untuk memperkuat industrialisasi tersebut, Pemda akan konsen dalam penyediaan alat-alat permesinan yang diperlukan untuk mendukung industri  pengolahan. Industri pengolahan yang dituju adalah pengolahan hasil-hasil pertanian meskipun tidak menutup kemungkinan ada kegiatan industri lain.

Strategi yang diperlukan dalam soal permesinan  adalah mesin olahan  harus buatan NTB. Mesin-mesin olahan ini direncanakan dibuat oleh IKM permesinan mengingat IKM permesinan di NTB sudah relatif maju. Bahkan pada saat pameran Teknologi Tepat Guna (TTG), banyak temuan anak-anak muda NTB yang patut dihargai dan dikembangkan.

Cita-cita besar program industrialisasi memang memerlukan waktu panjang, berat dan penuh tantangan. Namun, jika program ini terealisasi bisa meretas kebuntuan kreativitas dan mendongkrak pendapatan masyarakat. rab,rul

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Delapan Pengungsi Kerusuhan Wamena Tiba di NTB

MATARAM,DS-Sebanyak delapan pengungsi kerusuhan Wamena, Papua, tiba di NTB. Kedatangan mereka disambut langsung Kepala Dinas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: