Berbagi Berita Merangkai Cerita

Pelayanan Medis di Tenda Darurat Sembalun Berjalan, Ombudsman NTB Atensi Tim Medis

0 24

LOTIM, DS – Ombudsman Perwakilan NTB menilai pelayanan kesehatan yang dilakukan aparat medis di tenda pengungsian di komplek Kantor Camat Sembalun, Lombok Timur, berjalan cukup baik. Semua satuan tenaga medis dari RSU Kota Mataram, RSUD dr. Soedjono dan RSUP NTB, terpantau ikut aktif bersama-sama membantu petugas kesehatan pascarusaknya Puskesmas Sembalun akibat dterjang gempa bumi berkekuatan 6,4 pada Skala Richter (SR) mengguncang Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, NTB, Minggu (29/7), pukul 06.47 Wita.

Kepala Ombudsman NTB, Adhar Hakim MH, mengatakan, kesigapan aparat medis ditenda pengungsian layak diacungi jempol. Apalagi, mereka hadir juga dengan dibekali stok obat yang mencukupi.

Para pengungsi kebanyakan mengeluhkan penyakit sesak nafas. Bahkan, ada pula pengungsi yang lagi hamil. “Tapi syukurnya, semuanya tertangani dengan baik dengan kondisi obat yang tercukupi. Kita atensi kinerja tim medis itu,” ujarnya menjawab wartawan usai melakukan kunjungan ke tenda kesehatan pengungsi di Sembalun, Rabu (1/8).

Menurut Adhar, kendati antisipasi pelayanan medis dirasa cukup baik, sebaiknya renovasi Puskesmas Sembalun harus segera dilakukan oleh pemerintah daerah. Pasalnya, pelayanan pengungsi tidak bisa terus dilakukan di tenda darurat.

Hal itu lantaran daya tahan tubuh para pengungsi yang sakit juga rentan menjadi persoalan. “Dari hasil diskusi saya dengan Kepala Puskesmas Sembalun, dia khawatir akan kondisi daya tahan tubuh pengungsi yang kini dirawat di tenda pengungsian hampir pasti akan bisa melemah jika tidak ada penanganan lebih intensif di bangunan yang representatif,” tegas Adhar.

Oleh karena itu, mendengar keluhan dari Kepala Puskesmas setempat, Adhar langsung menghubungi Staf Ahli Gubernur NTB bidang kesehatan, dr. Nurhandini Eka Dewi. Koordinasi itu membuah hasil.

Dipastikan renovasi Puskesmas Sembalun dialokasikan melalui dana cadangan yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) yang dimiliki Dinas Kesehatan yang bersumber dari APBN tahun 2018.

“Inilah yang kita dorong percepatan renovasi pembangunan Puskesmas Sembalun itu secepatnya. Tapi, sambil sambil menunggu renovasi Puskesmas, maka sebaiknya penempatan perawatan pengungsi yang kini tengah dirawat harus segera dipindahkan ke pustu terdekat yang memiliki bangunan permanen,” jelas dia.

Adhar juga mendorong penanganan korban yang dirawat di Puskesmas darurat harus menjadi perioritas utama mengingat jika dibiarkan penanganannya dikhawatirkan menjadi persoalan dikemudian hari.

“Kami lihat, para pasien yang dirawat di tenda pengungsian kebanyakan adalah lansia ibu-ibu yang melahirkan dan anak-anak kecil. Bagi Ombudsman, mereka harus dipastikan kesehatannya agar bisa pulih seperti semula,” tandas Adhar Hakim.

Diketahui, gempa bumi berkekuatan 6,4 pada Skala Richter (SR) mengguncang Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, NTB, Minggu (29/7), pukul 06.47 Wita.

BPBD NTB menerima laporan sementara sebanyak 16 orang meninggal dunia, termasuk di antaranya satu warga Malaysia, dan satu warga Makassar, Sulawesi Selatan.  Selain korban meninggal dunia, gempa bumi tersebut juga menyebabkan ratusan orang mengalami luka berat dan ringan. Seluruhnya tersebar di Kecamatan Sambelia, dan Sembalun di Kabupaten Lombok Timur, serta di Kabupaten Lombok Utara. RUL.

Leave A Reply