Berbagi Berita Merangkai Cerita

Pasar Murah Sambut Nyepi

0 6

MATARAM, DS – Lokasi Pura Mayura di Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram yang biasanya ramai akan kunjungan wisatawan dan umat Hindu yang beribadah, justru mendadak ‘disulap’ menjadi pasar tumpah pada Jumat (17/3) . Sebanyak 30 distributor, puluhan UKM dan belasan retail modern berkumpul berjualan menggunakan tenda-tenda kecil menjajakan barang dagangan mereka di lokasi sakral yang dibangun sekitar tahun 1744 lalu oleh Raja AA Made Karangasem itu.

Menariknya, kegiatan pasar murah yang dimulai sejak pukul 07.00 Wita itu terus dibanjiri ribuan masyarakat yang datang dari berbagai pelosok di Kota Mataram diantaranya, Ampenan, Pagutan hingga Sindu. Akibatnya, puluhan pecalang di sekitar wilayah Cakranegara terlihat sibuk mengarahkan kendaraan masyarakat dalam kegiatan yang dihelat Dinas Perdagangan NTB bekerjasma dengan Dinas Perdagangan Kota Mataram tersebut.

Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj. Putu Selly Andayani MSi mengatakan dipilihnya Pura Mayura kali ini, dikarenakan lokasinya sangat luas. Selain itu, kegiatan pasar murah ini bertjuan meringankan beban masyarakat memenuhi kebutuhannya, khususnya yang akan merayakan Nyepi, menyusul naiknya harga sejumlah bahan pokok dewasa ini.

“Prinsipnya, setiap tibanya hari besar agama, baik itu agama Islam, Konghucu dan kini hari raya Nyepi, kami akan menyiapkan pasar murah sebagai bentuk perhatian nyata kepada masyarakat yang sangat merasakan kenaikan harga berbagai jenis kebutuhan di pasaran,” ungkap Selly menjawab wartawan, Jumat (17/3).

Mantan Kadis Koperasi dan UKM itu mengaku, meski kegiatan ini hanya berlangsung sehari, tetapi paling tidak dapat membantu masyarakat, karena harga jual relatif lebih murah dibandingkan harga di pasaran umum.

Selly mencontohkan, harga gula pasir dijual distributor hanya Rp12.500/kg sementara di pasaran umum mencapai Rp14.000/kg. Begitu pula harga telur dijual pengecer di pasar-pasar di Kota Palu saat ini mencapai Rp 39.000/terenya, sedangkan di pasar murah hanya berkisar Rp 28.000-29.000/tre.

Hal ini termasuk komoditi cabai merah yang dipasaran harganya mencapai kisaran Rp 100.000/kg, sementara di pasar murah harga penjualanya hanya dibandrol Rp 80.000/kg. Begitupun, miyak goreng juga dijual jauh dari harga pasaran oleh pisak distributor, yakni Rp 25.000/dua liternya.

“Harga yang terjangkau ini adalah bentuk kehadiran pemerintah ditengah kondisi sulit yang dirasakan masyarakat saat ini,” tegas Selly.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada semua distributor dan Bulog yang telah turut berpartisipasi dalam kegiatan dimaksud. Apalagi, mereka rela dua kali bolak-balik mengambil stok yang ada di gudang mereka lantaran, baru satu jam dibuka, semua barang dagangan mereka langsung diborong oleh masyarakat.

“Misalnya, telur tadi pagi, belum satu jam, sebanyak 50 ribu butir telur persedian, sudah dibeli oleh masyarakat. Sehingga, distributornya harus balik mengambil stok yang dimilikinya,” ujar Selly.

Mantan Penjabat Walikota Mataram itu menambahkan, kegiatan sosial bertajuk pasar murah ini semata-mata dilakukan untuk meringankan beban masyarakat membeli berbagai kebutuhan yang diperlukan dengan harga relatif lebih murah. Direncanakan, kegiatan tersebut akan dilakukan di berbagai wilayah lainnya di NTB. diantaranya, di KLU, Sumbawa dan Kabupaten Bima.

“Khusus kali ini, pasar murahnya lebih diperuntukan bagi masyarakat Hindu dan warga Kota Mataram yang berada di sekitar lokasi kegiatan. Tapi anda lihat sendiri, ada warga yang berasal dari Lobar juga datang ke kegiatan ini,” tandas Selly Andayani. fahrul.

Leave A Reply