Senin , 23 September 2019
Home / Pariwisata / Usulan Pengembangan Destinasi Wisata Sembalun
Exif_JPEG_420

Usulan Pengembangan Destinasi Wisata Sembalun

Putri Raja Thailand; Princess Maha Chakri Sirindhorn’s  pada pertengahan Maret 2016 yang lalu menyempatkan diri berkunjung ke Sembalun dalam tour wisatanya ke Pulau Lombok. Sekitar satu jam putri dan rombongan menikmati sejuknya udara Sembalun dan pesona alamnya. Putri menyampaikan kesannya; sangat senang berkunjung ke Sembalun dan mengatakan jika memiliki waktu akan datang kembali datang dengan waktu yang lebih lama lagi.

Agus Netral, SE., Sekretaris Forum Komunitas Pariwisata Lombok Timur; [email protected]

Setelah kunjungan Putri Raja itu, pada tanggal 21 September 2016 Sembalun mendapatkan barokah berupa penghargaan sebagai Destinasi Bulan Madu Ramah Wisatawan Muslim Terbaik 2016 atau Halal Honeymoon Destination Award tingkat nasional. Selanjutnya Sembalun ikut mewakili Indonesia pada ajang World Halal Travel Awards 2016 yang berpusat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) yang pemenangnya akan diumumkan tanggal 7 Desember 2016. Untuk bisa berhasil di Abu Dhabi, masyarakat diminta untuk melakukan dukungannya melalui e-voting di situs  www.votelombok.com sampai dengan tanggal 25 Nopember 2016.

Kedatangan Putri Raja dan anugrah Halal Honeymoon Destination Award ini menjadikan orang menengok dan ingin mencari tahu tentang kawasan wisata Lembah Sembalun di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur itu. Hal ini tentu saja akan bermanfaat dan berdampak bagi Sembalun yang akan membuatnya semakin dikenal. Pada gilirannya kunjungan wisatawan akan semakin meningkat ditahun-tahun yang akan datang dan akan menguntungkan masyarakat Sembalun dari segala segi.

Kawasan wisata Sembalun memang sangat potensial sebagai destinasi unggulan kedepan dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Sembalun dikenal luas selama ini sebagai salah satu pintu masuk utama untuk pendakian menuju ke Segara Anak dan Gunung Rinjani dari jalur selatan, selain Senaru di Utara. Dan pendakian ke gunung Rinjani dari tahun ke tahun menunjukkan trend yang semakin meningkat.

Data dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menunjukkan selama tahun 2015 jumlah pendakian ke gunung Rinjani mencapai 70.705 orang yang terdiri dari wisman 27.186 orang dan wisnu 43.519 orang. Jumlah itu meningkat pesat dibanding dengan keadaan 5 tahun yang lalu (tahun 2011) yaitu yang jumlah kunjungan masih 15.030 orang (wisman 8.778 orang dan wisnu 6.252 orang). Sebuah peningkatan yang mencapai 370%.

Trend peningkatan jumlah pendakian ke Rinjani yang melewati pintu masuk Sembalun diperkirakan akan terus meningkat terutama dengan akan dinobatkannya Gunung Rinjani menjadi Geopark Dunia oleh Badan PBB Unesco tahun 2017. Selanjutnya Gunung Rinjani dengan status sebagai Geopark Dunia akan semakin banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia dan dunia sehingga mereka tertarik untuk mendaki dan menyaksikan keindahannya.

Selain sebagai daerah atau kawasan pintu masuk Rinjani, bagi masyarakat di Lombok sendiri, Lembah Sembalun adalah tempat yang menarik dan menantang untuk dikunjungi. Hal itu karena dari segi posisi atau lokasi, Sembalun berada di balik gunung dengan ketinggian antara 800 hingga 1.200 meter diatas permukaan laut yang cuacanya sejuk. Lalu hasil taninya berupa sayur mayur dan buah-buahan, juga sudah dikenal luas.  Termasuk apel yang memiliki potensi untuk dikembangkan, seperti di Batu, Malang Jawa Timur. Demikian pula dengan obyek wisata lainnya berupa pemandangan dan landscape alam pegunungan yang mengagumkan, serta adat kebiasaan dari masyarakat Sembalun, yang semuanya menarik untuk dikunjungi.

Dalam 2 tahun terakhir, trend masyarakat lokal di Pulau Lombok yang berlibur di Sembalun menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. Bahkan pada libur Lebaran lalu, jalan jurusan Sembalun mulai dari Pesugulan – Sapit sampai dengan Pusuk, terjadi macet total selama berjam-jam. Ini menunjukkan betapa minat masyarakat di Lombok yang begitu tinggi untuk berwisata ke Sembalun

Tetapi macet pada perjalanan menuju Sembalun termasuk beresiko, karena berlama-lama mengerem di tanjakan yang tajam bisa membuat rem blong. Sehingga mengantisipasi Liburan Tahun Baru Desember – Januari 2017 yang akan datang, pihak Polres Lombok Timur perlu memberlakukan sistem buka – tutup untuk jalur Sembalun, seperti yang dilaksanakan di kawasan Puncak – Bogor Jawa Barat.

Penyebab macetnya perjalanan di tengah hutan menuju Sembalun salah satunya adalah karena banyaknya pengunjung yang berhenti di kawasan Pusuk (puncak), sementara tidak ada areal parkir selain badan jalan. Ini sekaligus perlunya dipikirkan areal parkir yang cukup di Pusuk Sembalun.

Dengan trend kunjungan wisatawan baik wisman maupun misnu yang meningkat cukup pesat ke Sembalun, maka prospek kawasan Sembalun menjadi destinasi unggulan kedepan sangat cerah. Dan, ini merupakan salah satu peluang bagi para pemilik modal untuk menginvestasikan dananya pada berbagai usaha terkait wisata di Sembalun, utamanya untuk hotel dan restoran serta agro wisata. Lahan masih terbuka untuk kerjasama pengembangan.

Akan tetapi, walaupun potensi kunjungan dan investasi ke Sembalun yang memiliki prospek yang cerah, harus diakui juga ada sejumlah permasalahan yang masih dihadapi oleh daerah tujuan wisata ini. Adapun permasalahan yang dimaksudkan itu  diantaranya adalah;

 

1.Tingginya ketergantungan terhadap wisata treking Rinjani.

Sembalun selama ini hari-harinya masih lebih banyak menjadi tempat transit untuk treking Rinjani daripada sebagai tujuan utama wisatawan. Hal ini mengakibatkan ketergantungan yang tinggi terhadap eksistensi dari pendakian Rinjani. Sehingga apabila terjadi penutupan untuk pendakian oleh pihak TNGR, maka berdampak luas terhadap aktifitas pelaku wisata disana, dimana tingkat hunian dari hotel dan penginapan jauh menurun, serta porter maupun guide menjadi menganggur, termasuk tour operator.

 

2.Destinasi wisata yang belum dikembangkan baik dari segi penataan obyek maupun akses yang menuju ke lokasi wisata

Sebenarnya ada sejumlah obyek wisata yang ada di lembah Sembalun selain Treking Rinjani yaitu agro wisata (persawahan dan perkebunan petani), wisata alam (jalan-jalan pagi di udara dingin, bersepeda gunung, paralayang dari bukit, mata air Mangku Sakti di Sajang, treking ke bukit-bukit yang mengelilingi lembah Sembalun, dll), dan wisata budaya (diantaranya Al-Qur’an tulis tangan di Bilok Petung, Komplek Bale Bleq dan Tarian Tandang Mendet). Destinasi ini masih belum maksimal dikelola, sehingga tidak maksimal juga menjadi daya tarik wisatawan.

Termasuk Agro wisata untuk perkebunan apel, jeruk, kopi dll, belum begitu banyak lahan dan pelakunya. Lalu untuk wisata alam permasalahan akses menuju lokasi yang menjadi kendala utama. Sedang wisata budaya, di Sembalun belum ada gedung pentas seni yang akan mementaskan tari-tarian dan musik tradisional secara terjadwal.

 

3.Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia yang bergerak di dunia usaha pariwisata di Sembalun

Usaha pariwisata membutuhkan standar pelayanan tertentu kepada wisatawan, baik itu penginapan, makanan, guide maupun destinasi wisatanya. Harus diakui para pelaku usaha maupun calon pelaku usaha wisata di Sembalun masih belum memiliki keterampilan dan pemahaman yang memadai terkait dengan standar internasional, apalagi untuk pengembangan wisata berbasis masyarakat (community based tourism).

 

4.Belum adanya master plan pengembangan pariwisata Sembalun, sehingga tidak jelas arah kedepannya.

Kemana arah kedepan dari wisata Sembalun, baik dari segi tata ruang, maupun pengembangan obyek wisatanya belum ada arah yang jelas, karena dokumen master plannya belum dibuat.

Mengacu pada permasalahan yang dihadapi, maka perlu dirumuskan strategi pengembangan berdasarkan analisis permasalahan yang ada untuk dicari jalan keluarnya.

Dari segi destinasi, perlu ada dibuat beberapa pilihan paket wisata ke Sembalun dengan beberapa pilihan untuk lama menginap dan jenis obyek yang dikunjungi. Itinerary ataupun agenda dan skedulnya harus jelas untuk ditawarkan kepada calon wisatawan. Ini perlu agar wisatawan tidak hanya menuju Pusuk lalu balik pulang, atau hanya transit untuk menuju pendakian Rinjani.

Lalu untuk akses jalan yang menuju ke obyek wisata perlu diidentifikasi untuk segera direncanakan perbaikannya, seperti arah ke air terjun Mangku Sakti Sajang, Bukit Selong, ke perkebunan petani, dll.

Sedangkan untuk wisata budaya, memang perlu digagas sebuah gedung serba guna di Sembalun, selain untuk kegiatan pertemuan dalam kapasitas besar bisa juga untuk pentas seni berbagai kesenian yang ada. Tarian Tandang Mendet yang dipakai pada acara Ngayu ayu memiliki peluang untuk bisa dipentaskan, selain kesenian yang berasal dari bawah seperti Cilokaq, Gamelan Bao Daya Lenek, Pepaosan, Tarian kreasi baru, dll.

Dan untuk perencanaan dan arah pariwisata Sembalun juga harus jelas. Tetapi terlepas dari ada atau tidak adanya dokumen perencanaan itu, yang pasti konsep pariwisata Sembalun adalah harus mengangkat konsep green tourism atau wisata hijau – wisata ramah lingkungan yang mengusung idealisme ekoturisme yang berbasis konservasi. Apalagi Sembalun dikelilingi oleh wilayah TNGR.

Konsep berikutnya adalah usaha wisata yang berbasis masyarakat, dimana pengembangan wisata Sembalun harus sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat [email protected]

 

 

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Simposium APGN di Lombok NTB, Bahas 5 Subtema

MATARAM,DS-The 6th Asia Pacific Geoparks Network (APGN) Symposium 2019 di Lombok Nusa Tenggara Barat, mengangka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: