Jumat , 21 Februari 2020
Home / Pariwisata / Ketika Para Perempuan Cantik Bertandang ke Sade
Beginilah gaya para prempuan cantik yang bertandang ke Sade

Ketika Para Perempuan Cantik Bertandang ke Sade

LOMBOK TENGAH,DS-Memasuki Dusun Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, wisatawan akan disambut dengan ramah. Sosok-sosok pemuda berpakaian adat Sasak, tanpa dikomando akan menjemput. Mereka senang bisa bertutur tentang Sade, wilayah kebanggaan yang masih mempertahankan adat istiadat setempat.

Hari Minggu (12/1) ditengah rintik hujan ketika rombongan LPA NTB menginjakkan kaki di tanah Sade, pemuda-pemuda berpakaian adat Sasak menyambut ramah. Mereka meminta rombongan yang terdiri dari belasan orang itu berkumpul. Para ibu yang cantik-cantik yang berasal dari Kabupaten Bima, Sumbawa, Lombok Timur, dan Kota Mataram itupun menghimpun diri. Ternyata, mereka disambut pemandu wisata yang kemudian menceritakan asal muasal Sade.

Sang pemandu memang tidak menanyakan dari mana asal wisatawan yang dia hadapi. Semua yang datang adalah sosok-sosok yang dianggap sama, yang ingin tahu tentang Sade da tertarik karena keunikannya. Mungkin itu benar. Sebab, setelah mengunjungi Pantai Kuta Mandalika, wisatawan senantiasa teringat Sade, ingin singgah dan tentu hendak membawa oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Pemandu wisata setempat menceritakan keberadaan Desa Wisata itu, diantaranya jumlah penduduk yang bermukim di sana. Rumah-rumah peninggalan masa lalu yang menarik minat itupun menjadi bagian yang tidak lepas untuk diceritakan. Pun adat istiadat yang bertahan sejak 600 tahun lalu, termasuk kesenian setempat.

Semua pemandu wisata di sana bercerita hal yang sama tentang Sade. Dari urut-urutan cerita, nampaklah para pemuda itu sudah dilatih untuk memahami desa asalnya sendiri. Tiap wisatawan punya bekal pengetahuan sejarah sehingga wisatawan menjadi tidak buta tentang Sade.

Sang pemandu kemudian mengajak berkeliling menyusuri jalan-jalan sempit Sade dengan rumah yang unik bernama Bale Tani yang dihuni 150 KK atau 700 jiwa. Rumah-rumah itu dibangun dengan dinding dari tanah liat dan sekam padi. Ada juga kotoran kerbau yang biasa digunakan untuk menghaluskan lantai rumah dari debu. Semua warga yang bermukim di sana merupakan warga satu keturunan.

Bedanya, kini tiap rumah memajang souvenir berupa kain tenun yang beragam jumlahnya. Kain tenun itu berasal dari 23 dusun yang ada di sekitarnya. Ada juga praktek menenun. Bahkan ada perempuan sepuh di sana masih bisa tersenyum, dengan tangannya yang cekatan memraktekkan cara memintal benang yang tidak bisa dikerjakan oleh ibu muda yang sehat semisal Khadidjah Gaffar.

Kain-kain tenun yang sudah jadi dipajang di ruang yang relatif sempit. Kini, coraknya semakin berkembang karena munculnya inovasi dan kreativitas masyarakat.

“Mereka menitipkan di sini, dari 23 dusun,” ujar Menah, warga Sade yang mengaku sehari bisa menjual di atas dua lembar kain. Ibu rumah tangga yang dipanggil dengan sebutan Inaq Najwa itu mengatakan, kain tenun dibuat masyarakat setempat. Harga beragam motif tenun itu bervariasi, antara Rp 75 ribu hingga Rp 300 ribu. Terdapat juga yang lebih mahal, itu semua tergantung dari kerumitan dan lama pengerjaan. Para pedagang masuk dalam wadah koperasi Desa Wisata.

Wisatawan asal Sumbawa, Fitriatul, mengaku sudah lama terkesan dengan Sade. Karena itu, sebelum pulang ia ingin membawa oleh-oleh. Tak mengherankan jika Atul memborong dua jenis kain tenun setelah melalui proses tawar menawar yang panjang, Atul berhasil meraih dua lembar kain tenun dengan harga masing-masing Rp 150 ribu.

Hal serupa dilakukan Khadidjah Gaffar yang berasal dari Kabupaten Bima. Ia memborong kain yang juga akan dibawanya pulang sebagai oleh-oleh. Selain kain tenun, terdapat juga kopi khas setempat yang tanpa campuran. Warga setempat mengemasnya dalam plastik bening yang sederhana dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 60 ribu perbungkus.

Hampir seluruh aktifitas keseharian masyarakat Sade bisa disaksikan wisatawan. Warga mau masuk ke dalam rumah pun dipersilahkan, apalagi yang sekadar jalan-jalan menyusuri gang-gang dengan lantai tanah di bawah atap Bale Tani yang beratap alang-alang.

Karena itulah setiap sudut Sade menjadi daya tarik yang memikat. Para ibu dan gadis-gadis itu pun, dengan kaca mata gaya, berselfie ria, baik di dalam perkampungan maupun di luar perkampungan. Dokumen tersebut seakan-akan menandakan bahwa mereka sudah sah bertandang ke Lombok Tengah khususnya dan berada di tengah-tengah warga masyarakat Sasak asli yang sesungguhnya. riyanto rabbah

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Puteri Mandalika, MotoGP dan Daya Tarik Indonesia

LOTENG,DS- Kisah kesetiaan putri Raja Tunjung Biru yang rela berkorban demi menjaga harmoni Gumi Sasak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: