Berbagi Berita Merangkai Cerita

Pariwisata Diera Pandemi Butuh Inovasi, Kepala BPPD NTB Sebut Promosikan Pariwisata Belum Jadi Program

81

Foto Ari Garmono

MATARAM, DS – Dampak pandemi terhadap sektor pariwisata sudah sangat besar, terutama pada provinsi yang bergantung pada sektor ini. Misalnya saja di Provinsi Bali yang mengalami kontraksi ekonomi hingga 10 persen pada kuartal kedua.

Hanya saja, konsep memajukan pariwisata NTB justru belum tergambar dari pemaparan visi dan misi serta gagasan yang disampaikan Ketua BPPD NTB Ari Garmono.

Padahal, Provinsi NTB telah ditetapkan oleh pemerintah pusat menjadi salah satu distinasi super perioritas di Indonesia, yakni Mandalika di Lombok Tengah bersama Danau Toba di Provinsi Sumatera Utara dan Pulau Komodo di Provinsi NTT.

Ari mengatakan, mempromosikan pariwisata NTB belum menjadi program BPPD NTB, melainkan sebatas bagian visi-misinya semata.

“Itu belum prgoram (BPPD NTB). Kita baru bicara visi misi nih, kita belum rakor belum ngantor. Jangan ditulis itu program, karena ini belum rakor, belum apa, serahterima pun belum,” ujarnya saat pertemuan jajaran BPPD NTB dan pelaku wisata, Rabu (10/3) di Kantor Dinas Pariwisata NTB.

Ari tidak menjelaskan, kapan BBPD NTB akan melaksanakan rakor dan menyusun program kerja. Namun ia menekankan, ada inovasi-inovasi yang akan dilakukan ke depan, termasuk mendorong digital branding untuk pariwisata NTB.

“Kita juga bangun online kolaborasi. Dan satu lagi kita berharap apa yang kita lakukan bisa ter-sounding keluar dan semoga menarik investasi. Itu aja,” kata dia.

Pertemuan dihadiri Kepala Dinas Pariwisata NTB, H Lalu Moh Faozal, sejumlah perwakilan pelaku wisata, dan sembilan orang unsur penentu kebijakan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB.

Kepada wartawan usai pertemuan, Ari Garmono menjelaskan BPPD NTB akan bersinergi dengan Dinas Pariwisata dan ITDC untuk menyambut event MotoGP Mandalika 2021.

“Kita akan bangun komunikasi strategis bersama Dispars dan ITDC. Intinya kita siap partnership, kemudian coba bangun kanalisasi terhadap destinasi yang bisa memperpanjang lama tinggal tamu, dan memberikan ruang teman-teman untuk membuat paket wisata yang terintegrasi dengan acara (MotoGP) itu,” jelas Ari .

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, salah satu upaya yang terus dilakukan pemerintah adalah menekan laju penyebaran Covid-19 guna meningkatkan kepercayaan diri masyarakat, termasuk untuk bepergian.

Sri mengakui, dampak pandemi terhadap sektor pariwisata sudah sangat besar, terutama pada provinsi yang bergantung pada sektor ini. Misalnya saja Bali yang mengalami kontraksi ekonomi hingga 10 persen pada kuartal kedua.

“Ini menggambarkan pentingnya untuk bisa menciptakan confidence untuk mengembalikan ekonomi di bidang pariwisata,” ucapnya.

Tidak hanya pada pariwisata, Sri juga berharap, pemulihan signifikan akan terjadi pada industri pengolahan yang mengalami kontraksi 6,19 persen pada kuartal kedua. Harapan ini terutama dengan dengan melihat indeks Purchasing Managers’ Index manufaktur yang sudah berada pada posisi 50,3 pada bulan lalu, jauh membaik dibandingkan penurunan rata-rata sebesar 31,7 pada kuartal kedua.

Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan PHRI NTB I Gusti Lanang Patra mengharapkan agar jajaran BPPD NTB yang baru ini bisa bekerja secara proposional sesuai dengan unsur penentu kebijakan dan strategi yang nantinya akan diimplementasikan untuk menunjuk pelaksana.

Lanang mengatakan, sebelum mempromosikan pariwisata terlebih dulu BPPD harus mengetahui seperti apa pariwisata tersebut. Misalnya apa yang NTB harus dijual, sehingga perlu ditekankan adanya kolektif dan kolegial. Dimana tugas BPPD tidak hanya ibarat managemen dagang yang unsur pelaksananya hanya menerima barang.

“Kita harus menguasai apa dulu yang harus dilakukan, konseptor dari berbagai element berbagai unsur harus dilibatkan,” kata I Gusti Lanang Patra.

Ia menegaskan, promosi pariwisata tidak bisa melenceng kemana-mana. Saat ini yang perlu dilakukan yakni fokus dengan era digital seperti sekarang. Pasalnya strategi sudah beda dengan jaman dulu, sehingga perlu dimatangkan untuk melakukan promosi pariwisata.

“Dulu kita bekerja konvesional, sekarang sudah online dan digital tentunya beda. Banyak orang sudah menggunakan IT, kita juga harus ikuti itu,” ujarnya.

Lanang menekankan agar BPPD NTB bisa bersinergi dengan semua pihak termasuk pelaku wisata.

“Saat ini yang paling penting adalah bekerja sama dengan semua elemen. Kemudian bagaimana menyerap aspirasi, karena semua elemen kepentingannya berbeda seperti hotel, travel agent, dan lainnya,” katanya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.