Membangun Masyarakat Cerdas dan Berwawasan Luas

Pandemi Belum Berakhir, Sekda Minta Kadis Dikbud NTB Stop MPLS

400

MATARAM, DS – Pemprov NTB melalui Sekda H Lalu Gita Ariadi memerintahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) agar menghentikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tatap muka.

Gita mengaatakan langkah MPLS kurang tepat  lantaran pandemi Covid-19 yang hingga kini belum tuntas, bahkan cenderung meningkat dan berbahaya

”Pokoknya, di semua zona, tidak diperkenankan MPLS tatap muka di NTB,” ujar Sekda  H Lalu Gita Ariadi, dalam surat edaran yang dirilis, Sabtu (25/7) kemarin.

Dalam SE nomor 420/3495.UM/DIKBUD perihal penegasan surat edaran Gubernur NTB, sekda menilai dengan memperhatikan kondisi sebaran Covid-19 di NTB. Kondisi dianggap kian mengkhawatirkan. Ditemukan pula fakta di lapangan, MPLS yang sedang berlangsung kurang memperhatikan protokol kesehatan.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan mengatakan, sekolah harus segera mengubah pola MPLS menjadi daring.

”Kami arahkan sekolah menggunakan cara virtual,” ujarnya, pada wartawan, Minggu (26/7).

Aidy mengaku, sebelum edaran itu terbit, pihaknya sudah mengimbau sekolah  mengantisipasi pelaksanaan MPLS. Arahannya, memanfaatkan media daring.

”Terutama di Mataram, semuanya harus beralih ke daring,” ungkapnya.

Tetapi Aidy beralasan, edaran tersebut tidak bisa sepenuhnya dijalankan oleh beberapa sekolah. Terutama di Pulau Sumbawa lantaran berlokasi di wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal). Atau berada di wilayah dengan fasilitas jaringan internet yang sangat kurang.

”Mereka tidak bisa virtual, karena terkendala fasilitas, baik itu jaringan internet, hp android, bahkan kuota,” jelasnya.

Sehingga sekolah yang berada di wilayah tersebut, diminta secara ketat menjalankan protokol kesehatan. Arahannya kala itu, menyiapkan daftar pembagian giliran pelaksanaan MPLS. Setiap siswa mengikuti MPLS selama dua hari dengan sistem shift atau blok serta pengaturan hari tidak berturut-turut. Menyusun pembagian jumlah peserta MPLS maksimal 100 orang per hari.

”Sediakan masker, hand sanitizer, cek suhu tubuh, sediakan fasilitas cuci tangan pakai sabun, jaga jarak, intinya semua ini harus dilakukan,” kata Aidy.

Sejatinya MPLS digelar 20-25 Juli. Namun, ketika pelaksanaannya belum dirasa optimal, sekolah diperbolehkan memperpanjang waktu kegiatan.

”Kita perpanjang bersamaan dengan masuknya fase transisi, supaya anak-anak tetap mendapat materi MPLS itu,” tandas Aidy. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.