Berbagi Berita Merangkai Cerita

PANCASILA, LAHIR DARI PARA TOKOH YANG DEKAT DENGAN ALLAH SWT

0 11

JATIM,DS-Pancasila merupakan pondasi bagi bangsa Indonesia dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. TGH. M. Zainul Majdi berpandangan bahwa Pancasila merupakan konsensus nasional yang lahir dari rumusan pemikiran para founding fathers sebagai orang-orang yang senantiasa dekat dengan Allah SWT.

Ia menegaskan bahwa secara sosiologis, sejak awal para pendiri negara telah memiliki konsensus yang kuat, bahwa dalam membangun entitas bernegara sangat mengakui dan mengutamakan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam kehidupan bernegara. Nilai-nilai tersebut diwujudkan
dalam bentuk konsensus nasional, yaitu negara yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam Pancasila sebagai dasar negara.

Menurut TGB, dalam sejarah Rasulullah SAW, proses membangun suatu entitas bernegara, yang dilakukan di awal-awalnya adalah mencari konsensus. Dengan demikian “Insya Allah Umat Islam
akan selalu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara,” Kata Gubernur.

Gubernur NTB yang lebih dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB) menyampaikan hal tersebut, dalam rangkaian kegiatannya di Jawa Timur Guna memenuhi undangan menjadi narasumber pada
acara Diskusi Nasional “Demokrasi Pancasila sebagai Penangkal Radikalisme” di Universitas Marotama Surabaya, Kamis (7/9-2017). Juga diundang Khusus oleh Rektor UIN Sunan Ampel untuk
menjadi pemateri dalam Stadium General Fakultas Ushuluddin dengan Thema : “Al-Qur’an Dalam Bingkai Kebangsaan”. Gubernur TGB juga diadulat oleh Penasihat Takmir Masjid Almadani, Prof.
Ir. Johni Hermana yang juga rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) untuk memberikan ceramah di lingkungan kampus tersebut. Selama di Jatim TGB dijadwalkan pula memberikan Tausyiyah
pada sejumlah Tabliq Akbar yang digelar berbagai elemen dan organisasi keagamaan di Wilayah Jawa Timur.

Di hadapan ribuan jamaah Masjid Mujahidin, Jalan Perak Barat Surabaya, Kamis malam (7/9/2017) Gubernur Ahli Tafsir tersebut menjelaskan, sepajang sejarah negara ini berada, tidak pernah disebutkan bahwa umat Islam tidak memiliki kecintaan yang kuat dan besar untuk NKRI. Justru, yang tercatat dalam lembaran sejarah bangsa ini, bahwa umat Islam memiliki kecintaan yang kokoh dan besar untuk Bangsa Indonesia. Dan kecintaan itu tidak hanya dengan wacana atau kata-kata, namun ditunjukkan dalam bentuk ijtihad dengan merumuskan dasar-dasar negara dalam bentuk pancasila dengan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

Karena itu, Gubernur mengajak umat Islam untuk senantiasa mengambil contoh dan teladan dari apa yang telah diajarkan oleh para nabi dan para sahabat, terutama dalam membangun peradaban yang kuat. Peradaban yang kuat dalam konsep islam adalah tersebarnya kebaikan-kebaikan dalam bingkai NKRI.

“Itulah yang menjadi ranah jihad kita sebagai umat islam,” tegasnya sembari mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya jamaah Masjd Almujahidin, untuk menjaga dan mencintai Republik ini
dengan memastikan sebanyak-banyak tersebar kebaikan. Juga menebar sebanyak-banyak sujud di atas Bumi Allah SWT. Dengan demikian kata TGB, NKRI yang bermartabat, maju, kokoh dan
sejahtera akan dapat diraih dengan baik.

Sebelumnya, Gubernur TGB juga diundang khusus oleh Penasihat Takmir Masjid Almadani, Prof. Ir. Johni Hermana yang juga Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) untuk memberikan tausyiah di hadapan ratusan jama’ah masjid itu. Dalam tausiyahnya, TGB mengupas tentang penguatan Majelis ilmu sebagai wadah untuk saling mengingatkan dan mengajak untuk senantiasa berbuat kebaikan. Majelis ilmu menurut TGB harus dapat dimanfaatkan untuk saling berbagi kebaikan.

“Siapapun yang melaksanakan salah satu atau ketiga fungsi majelis ilmu tersebut, Allah akan memberikan ganjaran pahala yang besar,” jelas TGB sembari mengutip salah satu firman Allah yang ada dalam Alquran.Hanya saja, ia mengingatkan majelis ilmu yang dibentuk haruslah berbasis pengetahuan, bukan berbasis primordialisme.

Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW bahwa pada awal kenabiannya, Rasulullah membentuk kelompok atau mejelis ilmu itu berbasiskan pengetahuan, bukan berdasarkan suku, warna kulit, negara dan primordialisme, terang Gubernur. Hal itu dimaksudkan untuk mengikis egoisme, memangkas sifat yang mementingkan diri atau membanggakan keluarga, keturunan maupun suku. Karena itu, TGB mengajak untuk terus memperbanyak dan memperkuat majelis ilmu yang mengedepankan kebaragaman sebagai bangsa. “Dengan penguatan seperti itu, maka persatuan dan kekuatan umat akan terus terjaga dengan baik,” tegasnya. hms

Leave A Reply