Berbagi Berita Merangkai Cerita

OJK Akui New Normal Bisa Dongkrak Ekonomi Daerah

22

MATARAM, DS – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan protokol kenormalan baru (new normal) bagi sektor industri keuangan. Dalam masa new normal, OJK akan memaksimalkan peranan teknologi sebagai pemanfaatan digitalisasi di sektor keuangan.
Selain itu, konsep new normal tentu akan berkontribusi secara signifikan bagi perekonomian daerah. “Adanya konsep new normal dari sisi pertumbuhan ekonomi memang sangat diperlukan di daerah. Kami sangat mendukung konsep new normal itu, namun konsep new normal tanpa menghilangkan prosedur kesehatan, tanpa melanggar protokol Covid. Dengan adanya new normal, secara langsung atau tidak langsung akan menggerakkan ekonomi,” ujar Kepala OJK Provinsi NTB Farid Faletehan menjawab wartawan, Senin (8/6).
Menurut dia, secara umum kondisi usaha di Indonesia sudah mulai turun sejak Maret 2020. Selanjutnya, bagi lembaga keuangan terutama di bulan Juni ini sudah mulai mengantisipasi banyak hal, mulai dari menjaga likuiditas, menjaga risiko kredit dan lain sebagainya. Sehingga upaya untuk menormalkan kembali aktivitas ekonomi di masa kondisi sekarang ini sangat penting.
Farid sangat yakin pada saat new normal nanti, ekonomi masyarakat akan mulai bergerak meskipun tidak seperti sebelum Covid ini. Namun paling tidak, sudah mulai bergerak. “Kami berharap secara bertahap bisnis di NTB dibuka. Kemudian dengan dibukanya bisnis ini saya yakin ekonomi masyarakat akan menggeliat dan berkembang lebih baik,” ucapnya.

*Efisiensi
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, dalam seminar virtual pada seluruh jajaran OJK se-Indonesia, mengatakan, konsep new normal akan memiliki nilai tambah karena menghadirkan efisiensi. “Pertama, kita akan mengoptimalkan kehadiran teknologi dalam proses bisnis di sektor keuangan. Jadi semua pertemuan apabila dimungkinkan tidak perlu pertemuan fisik. Bahkan, sekarang RUPS sudah boleh online,” kata dia, kemarin.
Efisiensi yang muncul dari new normal, lanjut dia, merupakan berkah tersendiri dari pandemi covid-19. Mau tidak mau, percepatan digitalisasi didorong sekuat mungkin untuk menjaga keberlangsungan sektor keuangan. Keuntungan lain dari pemanfaatan digitalisasi bagi OJK ialah kemudahan pengawasan berbagai perusahaan di sektor keuangan. Sebab, digitalisasi membuat semua data lebih terpadu dan mudah untuk diawasi.
“New normal identik dengan digitalisasi. Berbagai komunikasi OJK sudah semua online, pengiriman dokumen semua online. Ini memaksa semua menjadi digital oriented. Di sektor perbankan dan sektor keuangan alan lebih efisien dan transparan,” imbuh Wimboh.
Menyoroti besarnya pengeluaran pada tahap awal digitalisasi, dia berpendapat seharusnya hal itu tidak menjadi masalah jika tujuan akhirnya ialah perbaikan. Menurutnya, kendala tersebut dapat disiasati pemerintah. “Teknologi kan semakin murah dan mestinya teknologi bersinergi. Kalau yang kecil ya gabung, jangan bikin sendiri-sendiri. Ini bisa kita terapkan seluruhnya, termasuk BPR, sistem akan kita seragamkan. Koperasi pun demikian,” tandas Wimboh. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.