Berbagi Berita Merangkai Cerita

Nuna Desak Bupati dan Gubernur Evaluasi Direktur Bank NTB Syariah

188

FOTO. Raden Nuna Abriadi. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Persoalan dugaan bobolnya sistem keuangan di Bank NTB Syariah, menjadi antensi kalangan DPRD setempat. Pasalnya kasus serupa juga sudah pernah terjadi sebelumnya.

Anggota Komisi III DPRD NTB Bidang Keuangan dan Perbankan, Raden Nuna Abriadi, mendesak pemegang saham di tubuh bank yang sahamnya dimiliki 10 Pemda kabupaten/kota di NTB untuk melakukan evaluasi besar-besaran terhadap Bank NTB Syariah.

Sebab, menurut Nuna, kejadian tersebut bukan kali ini saja terjadi. Dari informasi yang dia serapnya, kasus serupa sudah berlangsung sejak lama, hanya saja tidak terungkap ke publik.

“Jadi, kasus tersebut merupakan kasus berulang-ulang dan modus klasik di Bank NTB. Karena sering terjadi kasus pemindahan saldo nasabah ke account lain, termasuk mutasi antar account internal sebagai modus fraud saat ini,” tegasnya pada wartawan, Senin (5/4).

Politisi PDI Perjuangan itu menduga kasus tersebut terjadi lantaran lemahnya sistem IT Bank NTB Syariah. Menurut, jika sistem IT Bank NTB Syariah kuat maka persoalan-persoalan terkait dengan lalulintas mutasi keuangan yang mencurigakan akan dengan mudah terdeteksi.

“Sistem IT Bank NTB tidak dapat mengidentifikasi dan melacak mutasi transaksi yang tidak melalui proses otorisasi oleh pejabat berwenang. Saya teringat kejadian beberapa tahun lalu, Bank NTB berada dalam status Pengawasan Khusus Bank Indonesia, karena pencatatan neraca beberapa periode tidak benar bahkan tidak balance,” jelas Nuna.

Ia mengaku, ditengah kelemahan sistem IT tersebut, kontrol dari manajemen juga dianggap lemah. Akibatnya, mereka tidak mampu mendeteksi ada kelemahan dalam internalnya. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap jajaran direksi di PT Bank NTB Syariah harus cepat dilakukan.

“Kalau ditelisik lebih dalam yang paling bertanggung jawab adalah Dirut, karena kelemahan ini ada pada sistem IT yang sesungguhnya Divisi IT berada dibawah Dirut. Dirut dan Direktur Umum perlu dievaluasi karena sesungguhnya merekalah direktur yang paling bertanggungjawab untuk bidang IT, akutansi dan pembukuan,” ungkap Nuna.

“Jadi sangat mustahil Dirut mengatakan kasus ini terungkap karena pengaruh mutasi, itu hanya membangun citra, seolah-olah era dirut ini baru ditemukan. Padahal ini lemahnya kontrol Dirut pada saat konversi Bank NTB dimana seharus bisa ditemukan mutasi rekening/acoount janggal pada saat konversi dari konvensional ke syariah. Tapi Itu tidak dilakukan cleansing setiap account pihak ketiga dengan cermat,” sambungnya.

Selain itu, Nuna juga menduga persoalan di Bank NTB tidak hanya pada kasus fraud yang sudah terungkap ini saja.

Namun, lanjut dia, tidak tertutup kemungkinan kegagalan operasional lainnnya seperti kredit macet juga banyak terjadi. “Jadi, opsi terbaik yang mesti dilakukan pemegang saham adalah harus segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran direksi PT Bank NTB Syariah,” tandas Raden Nuna Abriadi. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.