Berbagi Berita Merangkai Cerita

NTB Gandeng KKP Dorong Komoditas Rumput Laut Diolah jadi Produk Makanan dan Kosmetik

15

MATARAM, DS  – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui sejumlah pelatihan daring untuk pelaku usaha mendorong pengolahan komoditas rumput laut menjadi beberapa jenis penganan kekinian berupa mi dan jus rumput laut.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Sjarief Widjaja, mengatakan Indonesia kaya akan berbagai jenis komoditas perikanan, tetapi selama ini hasil perikanan ini masih diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan kurang maksimal.

“Oleh karena itu, pemerintah menggelar pelatihan pengolahan agar ada added value atau nilai tambah pada produk yang dihasilkan,” kata Sjarief Widjaja dalam siaran tertulisnya, Sabtu (27/2).

Terlebih untuk produk rumput laut, lanjutnya, Indonesia merupakan negara penghasil terbesar. Namun nilai perdagangan rumput laut Indonesia masih ketinggalan ​​​​jauh di bawah Tiongkok karena Tiongkok memilih mengolah rumput laut ketimbang menjualnya dalam bentuk bahan mentah.

Menurut Sjarief, selain mendorong produksi olahan massal melalui pabrik-pabrik di dalam negeri, pengolahan rumput laut menjadi produk bernilai jual tinggi ini juga dapat dilakukan dengan mengikutsertakan UMKM.

Sjarief ingin agar peluang ini tidak disia-siakan. Selain dapat diolah menjadi semi refined carageenan, rumput laut juga dapat diolah menjadi beraneka penganan berbahan baku tepung.

“Rumput laut ini bisa kita olah jadi tepung. Tepungnya bisa dibuat jadi aneka roti, bakmi, donat, bahkan jus atau sirup,” ujar Sjarief.

Pada pelatihan daring, peserta tidak hanya diajarkan cara membuat penganan berbahan dasar rumput laut.

Mereka juga diajarkan cara memilih bahan baku yang baik, penyediaan sarana prasarana pengolahan yang memenuhi standar higienitas, proses pengolahan, pengemasan, pemasaran secara online melalui media sosial maupun platform e-commerce, hingga pengurusan izin edar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dinas Kesehatan, maupun Dinas Perdagangan.

Dengan semua kualifikasi kompetensi yang diberikan, diharapkan para peserta siap menjadi pelaku usaha rumahan atau home industry.

Seperti diketahui, Indonesia memiliki setidaknya 555 jenis rumput laut dari total 8.000 jenis yang ada di dunia. Pada tahun 2018, Indonesia bahkan berhasil menjadi pengekspor rumput laut terbesar di dunia dengan volume 213.000 ton atau setara dengan 30 persen dari total volume ekspor dunia.

Namun secara nilai, ekspor rumput laut Indonesia hanya berada di peringkat ketiga yaitu sebesar 294 juta dolar AS atau setara 12 persen dari total nilai ekspor dunia. Sementara peringkat pertama dipegang oleh Tiongkok dengan nilai 594 juta dolar hanya dengan 76.000 ton rumput laut.

Sementara itu, data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB  tahun 2020 menyebutkan, ada sentra produksi rumput laut, masuk dalam 10 kawasan pengembangan budidaya rumput laut, yakni Lombok Tengah: Desa Pengantap, Gerupuk dan Awang. Kabupaten Lombok Timur: Desa Serewe dan Teluk Ekas. Kabupaten Sumbawa Barat: Desa Kertasari. Kemudian, Kabupaten Sumbawa: Desa Alas, Labuhan Mapin, Pulau Medang, Moyo Utara, Maronge, Lape, Tarano. Selanjutnya, Kabupaten Bima – Dompu: Kwangko dan Warorada. Jika diolah potensi diberbagai daerah diatas, bisa jadi rumput laut kering menghasilkan sebanyak 125 ribu ton per tahun.

Pemanfaatan lahan yang begitu luas untuk budidaya rumput laut di Provinsi NTB hanya 25 persen dari 41.000 hektar lahan perairan. Masalah yang dihadapi dalam jangka waktu panjang, belum ada teknologi pengolahan untuk rumput laut. Apalagi pembelian teknologi sangat mahal sekali, sehingga harga yang dipetani masih belum bisa meningkat, stagnan. Harga jual rumput laut kering ditingkat petani saat ini Rp7.000- Rp12.000/Kg.

Seharusnya bisa mencapai Rp30.000/Kg. harga di daerah lain masih lebih baik di banding NTB. Karena itu, tiga kementerian, Kelautan Perikanan, Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan harus menyepakati dan menetapkan harga pembelian pemerintah untuk menyamakan harga nasional.

Sementara itu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Yusron Hadi menyampaikan  petani rumput laut di Sereweh sesuai informasi Kadis Kelautan dan Perikanan Lotim sempat mendapat pembinaan oleh pakar kosmetik nasional beberapa waktu lalu.

Di mana, dari hasil pembinaan yang salah satunya difokuskan pada pengembangan kosmetik herbal, petani mendapatkan saran untuk meningkatkan sisi higienis dari produk budi daya rumput laut.

“Insya Allah, kami dari DKP NTB akan fokus memberikan bantuan dan pendampingan pasa petani rumput laut di Sereweh sehingga hasil pembudidayaan akan bisa meningkatkan kesejahteran masyarakat di pesisir selatan Lombok Timur,” tandas Yusron Hadi. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.